Buku Panduan Perjalanan 2 Jutaan – Sesatkah..?

Travel Guide Books

Sore tadi, saya dikejutkan dengan sedikit “keributan” di timeline Twitter saya. Tiga orang penulis perjalanan (travel writer) yang saya ikuti saling berkicau berbalas-balasan – isi kicauan mereka intinya bersumber pada sebuah posting pada media blog yang mereka anggap isinya menyerang mereka secara membabi buta.

Blog yang mereka resahkan bernama Hifatlobrain (http://www.hifatlobrain.net/p/about.html) – sebuah media yang ditujukan untuk berbagi pengalaman jejalan. Hifatlobrain sendiri mendefinisikan diri mereka sebagai sebuah “institusi travel” (whatever that means :d) dan berbasis di Surabaya. Posting yang mereka bicarakan adalah salah satu blogpost di Hifatlobrain berjudul Dangkal (http://www.hifatlobrain.net/2011/08/dangkal.html). Di tulisan yang cukup pendek itu, sang penulis menyatakan dengan eksplisit bahwa buku-buku panduan perjalanan (travel guide) untuk yang ditujukan untuk pelancong backpackers atau budget travelers itu dangkal, menyesatkan, dan memuakkan. Alasan yang dikemukakan oleh penulis adalah karena buku-buku tersebut (yang biasanya bertajuk Rp 500 Ribu Keliling Singapura, atau Rp 2 Juta Keliling China Selatan dalam 16 Hari, dan yang sejenisnya) tidak memasukkan biaya penginapan dan biaya tak terduga dalam anggaran biaya perjalanan. Si penulis juga menyebutkan bahwa para penulis buku-buku yang dia sebut sebagai buku-buku sesat ini 100% mengandalkan layanan inap gratisan – sehingga mereka bisa menyodorkan anggaran yang (bagi mereka) mustahil itu.

Poin yang disorot dalam postingan blog Hifatlobrain ini memang selalu dianggap poin sesat pada buku-buku panduan budget traveling. Saya sendiri heran, apakah penulis postingan berjudul Dangkal itu memang benar-benar pernah membaca buku-buku panduan travel guide sih..? Kalau memang ia belum pernah membaca buku-buku tersebut, bagaimana mungkin ia bisa melontarkan kritikan..? Dan kalau memang ia sudah pernah membacanya dengan teliti, kok bisa ia menuding bahwa penulis buku-buku panduan budget traveling itu tidak memasukkan biaya penginapan..? Lha wong saya lihat dan saya baca sendiri, buku-buku panduan seperti itu selalu menyajikan informasi tentang biaya penginapan dalam buku-buku mereka. Beberapa para penulis buku perjalanan budget traveling memang menjelaskan bahwa mereka lebih suka menggunakan layanan komunitas backpacker dunia seperti Couchsurfing – yang memang menyediakan social networking untuk para backpacker dengan menyediakan penginapan gratis, dengan syarat-syarat tertentu. Namun, meskipun demikian, penulis buku-buku tersebut selalu menyisipkan informasi tentang anggaran penginapan murah di kota tersebut. Saya jadi berpikir, lha lalu yang disebut-sebut sebagai buku sesat karena tidak menyajikan informasi penginapan dalam anggaran perjalanan itu buku yang mana ya..? Jangan-jangan, kritikannya diucapkan asal bunyi. Coba deh, sebelum melontarkan kritikan pedas dan menyebut buku dengan stempel “sesat”, baca dulu bukunya dengan teliti. Konfirmasilah penulisnya tentang hal-hal yang tidak kita pahami – diskusi tentu akan membuat segala hal yang tidak jelas menjadi lebih mudah dipahami.

Pertanyaannya, pernahkah orang-orang yang sering menuding penulis buku-buku panduan budget traveling sebagai penulis sesat itu melakukan konfirmasi dan mengajak diskusi dengan para penulis tersebut..? Apakah penulis blogpost berjudul Dangkal itu (yang setahu saya juga mengaku sebagai seorang penulis tapi saya belum pernah lihat atau baca tulisan/buku-buku karyanya) juga pernah melakukan diskusi sendiri dengan penulis buku-buku yang ia anggap sesat itu..? Jangan-jangan, ia menganggap “sesat” itu hanya berdasarkan prinsip “kayaknya” atau “katanya orang lain” saja.

Sebenarnya cercaan dan hinaan kepada penulis buku-buku panduan perjalanan beranggaran rendah seperti ini sudah lama adanya. Hal lain yang sering dicerca adalah masalah judul buku. Judul buku-buku panduan tersebut dianggap menipu dan menyesatkan. Memang, judul buku-buku yang dimaksud terkesan bombastis; misalnya Rp 2 Juta Keliling Thailand, Malaysia, dan Singapura, atau Rp 2 Juta Keliling Makau, Hongkong, dan Shenzhen, atau Rp 2 Jutaan Keliling Vietnam dalam 15 Hari, dan sejenisnya. Banyak orang yang menganggap bahwa tidaklah mungkin seseorang bisa bepergian keliling Singapura dalam 3 hari 2 malam dengan biaya Rp 500 ribu, atau melancong keliling China Selatan dalam 16 hari dengan biaya hanya Rp 2 juta (tidak termasuk pesawat), atau berjalan-jalan keliling India dalam 8 hari dengan biaya hanya Rp 3 juta (tidak termasuk pesawat). Padahal, mereka semua lupa bahwa ketika mereka bilang “tidak mungkin” itu mereka menggunakan standar biaya sesuai kebiasaan traveling mereka sendiri, dan tidak mengacu pada standar biaya yang diajukan si penulis buku-buku tersebut.

Buku-buku tersebut jarang memasukkan biaya tiket pesawat dalam perhitungan yang mereka sebut dalam judul. Jadi, perhitungan 2 juta keliling Thailand, Malaysia, dan Singapura itu ya hanya mencakup biaya penginapan, biaya makan, transport darat, dan biaya lain-lain. Saya sudah beberapa kali berjalan-jalan ke luar negeri dengan berbagai gaya traveling, dan bagi saya uang senilai Rp 2 juta untuk perjalanan keliling Thailand, Malaysia, dan Singapura selama 10 hari itu mungkin saja dilakukan – tentu saja, kalau perjalanannya dilakukan dengan gaya Claudia Kaunang; si penulis buku itu. Begitu juga Rp 2 Juta berkeliling Vietnam selama 15 hari, atau perjalanan sejenisnya. Bagi saya, tips dan panduan di buku itu tidaklah menipu. Dan sama sekali tidak menyesatkan. Mengapa? Ya, karena memang anggaran seperti itu memang sangat mungkin dilakukan, tentu saja dengan catatan, gaya perjalanan kita harus meniru cara para penulis buku tersebut melakoni perjalanan mereka. Lah kalau saya – atau orang lain – membutuhkan gaya traveling yang lebih nyaman, butuh hotel yang lebih bagus, butuh alat transportasi dalam kota yang lebih cepat, tentu saja anggaran yang diajukan para penulis tersebut harus disesuaikan. Ketika seseorang selalu menginap di hotel berbintang di tengah kota ketika menginap di luar negeri, ya tentu saja perhitungan anggaran perjalanannya akan berbeda dengan penulis buku budget traveling yang lebih menyarankan untuk menginap di backpacker hostel di kamar dorm yang berisi 4-8 orang dalam satu kamar.

Yang bagi saya agak aneh, orang-orang yang melontarkan cercaan itu kebanyakan justru berasal dari kalangan penulis buku-buku atau artikel perjalanan juga. Meskipun buku-buku yang mereka tulis agak berbeda gaya penulisan. Apa mereka lupa ya, bahwa yang namanya pelancong itu bermacam-macam modelnya. Ada pelancong yang sangat mengutamakan kenyamanan, tapi ada juga yang menghadapi keterbatasan anggaran. Ada pelancong yang suka belanja-belanja, tapi ada yang lebih suka menikmati suasana yang berbeda. Dan, perbedaan-perbedaan itulah yang mendorong munculnya berbagai segmen pelancong dengan kebutuhan dan keinginan yang berbeda-beda. Sederhana saja, kok. Kenapa penjelasan sederhana ini nggak bisa mereka terima, sih..?

Buku-buku tentang traveling itu bermacam-macam jenisnya. Ada buku panduan ala budget traveler yang kita diskusikan di sini, ada juga buku-buku panduan perjalanan tradisional yang bersifat lebih umum (seperti buku-buku terbitan Lonely Planet atau Frommers), ada buku-buku catatan perjalanan (travelogue) yang biasanya lebih sastrawi (seperti Eat, Pray, Love, atau Lupakan Palermo-nya Gama Harjono), dan ada juga buku-buku perjalanan berjenis travel features yang mengupas sisi spesifik sebuah perjalanan (misal, buku traveling legendaris The Naked Traveler karya Trinity, atau sebuah buku terbitan Malaysia berjudul Hotel Tales). Dan tiap jenis buku yang saya sebut itu memiliki target market sendiri-sendiri. Saya ulangi ya, masing-masing jenis buku yang saya sebut di atas memiliki konsumen atau pembaca sendiri-sendiri.

Buku-buku terbitan Lonely Planet, DK, Fodors atau Frommers lebih banyak digunakan oleh pelancong yang ingin mengeksplorasi satu area yang cukup luas dalam waktu yang cukup lama, karena buku-buku ini memuat informasi yang lengkap namun ringkas tentang banyak hal tentang daerah wisata tertentu. Ini hampir sama dengan buku-buku panduan untuk budget traveling yang lebih fokus pada pelancong backpackers. Dua jenis buku ini amat berbeda dengan travelogue atau travel features. Buku-buku travelogue sama sekali bukanlah buku panduan, karena buku ini bercerita tentang satu aspek spesifik tentang sebuah perjalanan. Travelogue lebih banyak disajikan dalam bentuk fiksi dan travel features disuguhkan dengan gaya bahasa yang ringan tapi sangat fokus pada aspek-aspek tertentu saja. Karena itulah dua jenis buku ini lebih banyak dinikmati sebagai teman menghabiskan waktu luang atau sebagai sumber inspirasi sebuah perjalanan – dan tidak digunakan sebagai  panduan atau sumber informasi.

Ketika saya menjelajah Eropa, saya beli dan baca buku-buku terbitan Frommers dan juga buku-buku ala budget travel (seperti Europe on a Shoe String terbitan Lonely Planet) atau buku panduan lain seperti Europe for Dummies. Buku-buku ini saya gunakan untuk memahami bagaimana situasi dan kondisi Eropa – terutama negara-negara dan kota-kota yang saya kunjungi, bagaimana saya bisa menuju ke pusat kota dari stasiun kereta atau dari bandara, bagaimana cuaca di kota-kota tersebut sepanjang tahun, dan apa saja hal-hal kecil tapi penting yang perlu saya perhatikan. Karena buku-buku tersebut juga menyajikan informasi tentang tarif hotel dan hostel paling murah sampai paling mahal, standar makan di food hawkers dan di restoran fast food seperti McDonalds, atau standar tarif transportasi lokal di sana, dan informasi lain tentang biaya dan harga, maka buku-buku tersebut juga sangat bermanfaat bagi saya untuk merancang anggaran perjalanan saya. Di sisi lain, saya juga dengan bergairah membaca buku travelogue Lupakan Palermo-nya Gama Harjono yang benar-benar membangkitkan gairah saya untuk mampir ke Milan dan Venesia; atau buku Negeri Van Oranje karangan Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, dan Rizki Pandu Permana yang membuat saya mengubah itinerary saya, yang tadinya hanya berencana hanya 2 malam di Belanda menjadi menghabiskan 7 malam. Intinya apa, buku-buku travel yang berbeda genre itu dibaca pelancong untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda.

Nah, kalau para penulis travelogue dengan seenaknya mencerca penulis buku-buku panduan untuk budget traveling – dan menyebut buku-buku tersebut sebagai buku sesat, bukankah itu tidak adil..? Mengapa..? Ya, karena buku mereka memang berbeda genre. Hal ini tak ada bedanya seorang musisi jazz menganggap semua musik dangdut itu kampungan, atau artis film-film drama merendahkan semua film-film sci-fi yang mereka anggap tidak memiliki tantangan berakting bagi pemerannya.

Catatan ini hanya sekedar ungkapan “protes” atas ketidakadilan yang dialami teman-teman penulis buku-buku panduan untuk budget traveling – yang notabene lebih banyak dibeli daripada buku-buku karangan para pencerca itu. Saya sendiri sebetulnya tidak terlalu suka melakukan budget traveling – karena saya sangat menyukai kenyamanan – tapi bagi saya, buku-buku panduan untuk budget travel (yang meminjam istilah penulis blogpost di Hifatlobrain berjudul Dahsyat itu, buku ber-genre sekian-juta-keliling-semesta) itu sangat bermanfaat. Bukan hanya bermanfaat bagi pelancong pemula yang masih bingung bahkan untuk sekedar menetapkan tujuan jalan-jalan, namun juga bermanfaat bagi pelancong berpengalaman yang kebetulan belum pernah menjelajah daerah yang dibahas di buku-buku tersebut. Tudingan sesat dan penipuan yang dicetuskan oleh beberapa orang – yang sebagian besar di antaranya adalah penikmat luxurious traveling dan penulis travelogue – adalah tudingan yang bukan hanya arogan, tapi juga tuduhan yang asal bunyi dan salah sasaran (karena mereka bukanlah target market buku perjalanan gaya ini).

Saya hanya ingin bertanya kepada orang-orang – terutama para penulis buku perjalanan (yang bukunya nggak terlalu laris) yang tak henti-hentinya mencerca para penulis yang mereka sebut sebagai penulis buku sesat itu, memangnya sudah berapa banyak buku “bermutu” yang sudah mereka tulis sih..? Dan, apakah semua buku/tulisan mereka memang disukai dan disambut oleh SEMUA ORANG di muka bumi ini..? Pasti tidak, kan..! Kalau memang mereka adalah pelancong sejati, pasti mereka akan paham bahwa para pelancong itu memiliki kebutuhan, keinginan, dan preferensi yang berbeda-beda, dan kita tidak bisa mengatakan bahwa pilihan gaya traveling kita itu lebih baik daripada gaya traveling orang lain. Dan kalau mereka – para pencerca itu – memang seorang penulis yang sejati, penulis yang benar-benar sukses dan rendah hati, maka mereka sama sekali tidak akan merendahkan penulis bergenre lain – yang kebetulan buku-bukunya lebih laris dibandingkan buku-buku mereka sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s