Te We; Bukan yang Terbaik dari Sang Legenda

Te We

Saya sungguh-sungguh terkejut dan sekaligus senang ketika mendapati ada buku baru karya Gol A Gong terpajang di Gramedia. Entah sudah berapa belas tahun saya tak mendapati karya baru penulis idola saya ini sejak menamatkan episode terakhir serial Balada si Roy. Tahu nggak, begitu saya mendapati buku baru Gol A Gong ini, saya langsung terkenang-kenang betapa saya menikmati Balada Si Roy. Betapa kisah anak muda itu begitu kuat menginspirasi saya dan banyak teman-teman saya; terutama tentang persahabatan dan perjuangan hidup. Betapa kuatnya kalimat demi kalimat di serial itu merenggut perhatian saya, membetot dan mengaduk-aduk emosi saya tanpa henti, dan akhirnya di ujung buku saya akan tergantung dengan rasa penasaran akan kelanjutan cerita pada episode selanjutnya. Balada Si Roy adalah bagian indah dari masa remaja saya, dan saya sangat berharap buku baru Gol A Gong ini bisa menyuguhkan nostalgia akan kehebatan Gol A Gong merangkai kata dan mempermainkan emosi pembaca – meskipun saya tahu, isi buku ini bukanlah cerita fiksi.

Buku baru Gol A Gong ini berjudul TE-WE (Travel Writer). Saya nggak terlalu peduli pada sampul depannya yang (buat saya) nggak terlalu menarik. Saya langsung mengawali ritual yang selalu saya lakukan pada setiap buku yang belum pernah saya baca sebelumnya – yaitu membaca halaman endorsement dan kata pengantar penulis. Ada 8 orang endorser yang disajikan di buku ini; 5 orang di antaranya adalah editor dan penulis buku traveling; endorsement Cristian Rahadiansyah and Elok Dyah Messwati muncul di sampul belakang buku, sedangkan komentar dari Yudhinia Venkanteswari (Jalan-Jalan Hemat ke Eropa), Daniel Mahendra (Perjalanan ke Atap Dunia), Andrei Budiman (Travellous) muncul di bagian dalam.

Begitu membaca halaman endorsement, saya jadi keheranan. Benar-benar heran! Betapa tidak, 5 endorser tersebut semuanya memberikan komentar yang bersifat sangat umum dan sama sekali tidak memberikan pujian apapun tentang isi buku. Tidak ada pujian apapun..! Lihat saja endorsement yang muncul di sampul belakang buku (yang seharusnya dipilih endorsement yang paling bagus) justru tertulis komentar amat sangat standar – Elok Dyah Messwati hanya mengatakan bahwa di buku ini Gol A Gong mengajak pembaca untuk mulai menuliskan perjalanannya, dan bahwa di buku ini ada contoh sederhana perjalanan Gol A Gong dan kerja kerasnya memaparkan kisah perjalanannya. That’s it..! Tanpa pujian. Begitu pula dengan Yudhinia Venkanteswari yang memberikan endorsement dalam dua kalimat singkat. “Suka jalan-jalan? Jangan biarkan memori perjalananmu hilang tak berbekas. Di buku ini, Kang Gol A Gong memberi bocoran cara menjadi travel writer, dari membuat blog sampai menulis novel.” Coba perhatikan kalimatnya deh, sama sekali tidak mengandung pujian apapun untuk isi bukunya. Dan karena buku ini karya seorang Gol A Gong – penulis legendaris, fakta sederhana bahwa tidak ada pujian pada komentar para 5 endorser ini benar-benar mengejutkan saya. Orang-orang yang dipilih sang penulis untuk meyakinkan pembaca lain agar tertarik membeli buku ini kok justru sama sekali tidak memberikan pujian apapun tentang isi buku. Wah, saya kok jadi agak waswas ya..?

Pada halaman pengantar buku, Gol A Gong mengatakan bahwa buku TE WE tersebut adalah buku How To – dan misi buku ini adalah untuk membagikan pengalaman kepada calon penulis perjalanan tentang bagaimana dulu Gol A Gong melakukan perjalanan sambil menulis. Nah, sebagai seorang dengan latar belakang marketing, setelah membaca kata pengantar, saya lalu mencoba bertanya pada diri saya sendiri, sebenarnya siapa ya target market yang ingin dituju oleh Gol A Gong dengan bukunya ini..? Kalau target market buku ini adalah mereka-mereka yang dulu membaca karya-karyanya di awal 1990an yang notabene sudah berusia di kisaran 30 tahunan lebih, mereka semua mestinya sudah memiliki pekerjaan masing-masing dan tidak bisa diharapkan untuk berpetualang ala backpacker dan memulai menjadi travel writer, kan ..? Sebaliknya, kalau buku ini ditujukan untuk menyasar mereka-mereka yang saat ini masih aktif berpetualang dan belum memulai karir sebagai travel writer – yang usianya rata-rata berkisar 18-24 tahun; terus terang saya ragu-ragu bahwa mereka mengenal karya-karya Gol A Gong. Dari mana bisa kenal, lha wong di Toko Buku Gramedia saja buku-bukunya Gol A Gong sudah tidak terpajang lagi. Lha kalau para pembaca buku ini (karena masalah perbedaan generasi) tidak mengenal sosok Gol A Gong sebagai seorang travel writer, juga tidak pernah membaca Balada Si Roy,  dan juga tidak pernah membaca karya-karya tulisan perjalanannya, bagaimana mungkin pembaca akan yakin dan percaya akan kisah-kisah, saran-saran, dan tips yang ia sajikan..? Ketidakjelasan itu tak terjawab, dan saya pun mulai membuka dan membaca isi buku ini.

Ketika saya sudah menghabiskan tiga bab dari buku TE WE ini, saya jadi semakin sering mengerutkan dahi. Bukan karena bahasa yang digunakan terlalu sulit untuk saya pahami, tapi karena saya begitu keheranan dengan apa yang saya baca. Begitu banyak pernyataan yang terkesan “jadul” dan tidak sesuai dengan konteks masa kini. Misalnya, buku ini menyatakan bahwa bila kita dianggap sebagai wartawan atau penulis oleh penduduk lokal itu adalah sesuatu yang keren sekali (hal.15) – saya jadi ragu, emang bener begitu ya..? Saya punya banyak teman penulis, dan punya banyak juga teman jurnalis – dan rasanya tidak ada yang merasakan hal itu. Apakah seorang Trinity atau seorang Agustinus Wibowo atau seorang Claudia Kaunang akan mengatakan “I am a travel writer” ketika ditanya oleh penduduk lokal di tempat yang mereka kunjungi, dan lalu mereka merasa diri mereka keren karenanya..? Saya kira, tidak. Apakah seorang Riyani Djangkaru akan mengatakan “I am a backpacker and a journalist as well” kepada para masyarakat lokal dan merasa dirinya keren karenanya..? Saya kok yakin, tidak juga.

Lalu juga, di bagian buku ketika Gol A Gong menceritakan sedang naik bis ke sungai Mekong di perbatasan Myanmar dan ia tiba-tiba minta berhenti di tempat asing yang sama sekali tidak dikenal, lalu para pelancong mancanegara bertanya-tanya kenapa ia mengambil keputusan nekad seperti itu, dan dijawab oleh Gol A Gong “because I am a writer.” Hmmm, bagi saya, ini kok sesuatu yang berlebihan – artifisial dan sedikit cheesy. Apakah karena kita adalah seorang penulis perjalanan (travel writer), kita sebaiknya menempuh rute perjalanan yang sama sekali belum pernah ditempuh orang lain – seperti yang disarankan di beberapa halaman buku ini – dan mengabaikan faktor keamanan ..? Bagi saya ini agak aneh, karena seingat saya, pada saat naik gunung Semeru atau Ijen sekalipun, para pendaki gunung diharuskan untuk mengikuti jalur yang sudah ada, dan tidak dianjurkan untuk menjelajah jalur yang belum pernah dilintasi sebelumnya.

Hal lain lagi yang membingungkan saya adalah, di kata pengantar, buku ini dinyatakan sebagai buku petunjuk How to be a Travel Writer, tapi kenapa isinya lebih dekat dengan How to be a Traveler ya..? Di antara beberapa tips untuk menjadi travel writer, disebutkan di halaman 16: memotret lebih sering daripada turis, betah mengakses Internet di kafe berhotspot gratis, memiliki sikap toleran yang tinggi, senang berkelana sendirian, ramah lingkungan, bisa bergaul dengan siapa saja. Atau tips persiapan yang harus dilakukan oleh travel writer yang tertulis di halaman 24: ransel yang kuat, sleeping bag, sepatu kanvas, rompi yang banyak kantongnya, celana kargo, kamera, jas hujan, dan paspor. Pertanyaan saya, apa hubungannya menjadi penulis dengan menyiapkan sepatu, jas hujan, celana, rompi, dan lain-lain itu..?? Seorang pelancong biasa – yang bukan travel writer – tentu juga akan menyiapkan barang-barang yang sama bila akan bepergian. Pelancong biasa juga suka mencari akses wifi gratisan, nggak harus travel writer. Tips-tips yang disajikan di buku ini hampir seluruhnya tidak relevan dengan how to be a travel writer, mungkin lebih cocok bila ditujukan untuk how to be a traveler. Terus terang, sebagai sebuah buku How To yang seharusnya menyuguhkan banyak tips bagus, dalam hal ini, buku ini sangat mengecewakan saya.

Hal lain yang sangat mengganggu saya adalah bagaimana Gol A Gong menyajikan kisah-kisah dan contoh-contoh pengalaman dalam buku ini. Di halaman pengantar, jelas-jelas tertulis bahwa di buku ini Gol A Gong akan membagikan pengalaman dirinya bagaimana dia dulu melakukan perjalanan sambil menulis. Namun, di buku ini, Gol A Gong menyuguhkan sangat banyak kisah pengalaman orang lain. Terlalu banyak, menurut saya. Kutipan-kutipan dan kisah-kisah pengalaman Agustinus Wibowo, Trinity, dan Teguh Sudarisman amat sangat mendominasi isi buku ini. Belum lagi sederetan nama penulis lain yang juga disebutkan dan ditampilkan untuk memperkuat isi buku. Anehnya, kisah pengalaman pribadi Gol A Gong sendiri yang disajikan adalah kumpulan pengalaman yang ia alami hampir dua puluh tahun lalu, dan justru terkesan hanya sebagai tempelan saja. Apa-apa yang dialami dan dilakukan Gol A Gong yang disajikan di buku justru bukanlah contoh-contoh atau kisah-kisah yang esensial menjadi tulang punggung isi buku ini. Lha, saya jadi heran, kalau dalam setiap bab yang dijadikan contoh utama adalah Agustinus Wibowo, Trinity, dan Teguh Sudarisman, atau yang lain-lain, sebenarnya yang jadi bintang utama di buku ini siapa sih..?

Mengakhiri membaca buku ini membuat saya jadi prihatin. Dan sangat sedih. Gol A Gong adalah penulis idola saya yang pertama – setelah Enid Blyton. Dua penulis inilah yang menemani masa kecil dan masa remaja saya – dan sungguh menyedihkan ketika saya harus membaca karya idola saya dengan sajian yang seperti ini. Dan membayangkan bagaimana para backpackers dan calon-calon travel writer – yang kebanyakan memiliki kemampuan keuangan yang terbatas – harus mengorbankan Rp 35000 untuk membeli buku seperti ini, entah mengapa, saya jadi lebih sedih lagi.

One thought on “Te We; Bukan yang Terbaik dari Sang Legenda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s