Saya dan Light Packing

Bag1

Meskipun saya senang sekali jalan-jalan, ada juga hal yang tidak saya sukai tentang jalan-jalan. Bagian yang paling menyebalkan bagi saya adalah ketika saya harus mengeluarkan sebagian isi lemari dan menatanya ke dalam koper saya itu. Yup, saya paling benci packing..! Dan bukan cuma itu saja, yang jauh lebih menyebalkan lagi bagi saya adalah duduk menghadap koper – saat badan masih terasa lelah sepulang dari jalan-jalan – dan harus membongkar kembali baju-baju dan isi koper lainnya, memilah-milahnya mana yang harus saya cuci dan mana yang masih bersih, lalu menata semuanya supaya kamar kembali rapi seperti ketika sebelum jalan-jalan. Entah mengapa, untuk melakukan kedua hal ini, saya selalu membutuhkan waktu yang cukup panjang. Misalnya, untuk sebuah perjalanan dua hari dua malam ke Jakarta saja, saya butuh waktu tiga hari untuk memutuskan barang apa saja yang akan saya bawa. Dan pulangnya, untuk membongkar tas saya butuh minimal seminggu sebelum koper benar-benar kosong. Rasanya berat sekali untuk memulai packing dan unpacking, ada saja yang membuat saya menunda-nunda melakukannya.

Selain masalah malas packing dan unpacking, hal lain yang menyebalkan adalah saya juga tak pernah bisa melakukan light packing. Bayangkan saja, untuk perjalanan ke Jakarta atau Yogyakarta selama dua hari dua malam saja, saya pasti membawa satu buah ransel berisi laptop dan buku bacaan dan satu buah koper ukuran 22 yang tidak bisa dibawa masuk ke kabin.

Isinya?

Kemeja formal paling sedikit tiga potong, dua t-shirt, selembar sarung, satu tas kecil toiletries, seperangkat pakaian dalam dan kaos kaki, sepasang sandal, dan entah apa lagi. Banyak kan? Padahal, biasanya dari isi pakaian satu koper yang saya bawa, paling-paling yang terpakai hanya separuhnya, sisanya tak sempat terpakai. Terakhir kali saya berkunjung ke Kuala Lumpur, saya membawa satu ransel berisi laptop dan beberapa buku dengan bobot hampir 10kg, satu buah suite bag berisi satu buah blazer, tas kamera, tripod, dan satu koper berisi beberapa lembar pakaian dan lain-lain yang beratnya hampir 20kg. Saya sudah berusaha mengurangi muatan saya tersebut, mengeluarkan sebagian lalu memasukkannya kembali, begitu terus berulang-ulang – sampai akhirnya saya menyerah dan merelakan diri membawa beban sebanyak itu untuk perjalanan satu minggu ke Kuala Lumpur.

Jangan tanyakan bagaimana saya membawa semua tas itu sejak keluar dari LCCT Kuala Lumpur, naik shuttle bus ke Terminal Bis KL Sentral, lalu pindah masuk Komuter dan kemudian berjalan kaki dari Stasiun Komuter ke tempat penginapan yang sudah saya booking. Mana ribet bahu dan tangan kanan kiri penuh bawaan, bawaannya pun berat karena total bobotnya hampir 30kg, tak ayal lagi keringat saya bercucuran sambil naik turun tangga stasiun kereta di tengah kondisi kota Kuala Lumpur yang cukup panas.

Kalau bepergian ke Kuala Lumpur seminggu saja bawaan saya sudah begitu heboh, bisa kan membayangkan betapa pusingnya saya ketika saya akan berangkat jalan-jalan ke Eropa selama satu bulan..? Saya berangkat dan mendarat di Belanda dengan barang bawaan di kabin mencapai 10 kg dan bagasi 30kg; terdiri dari satu tas ransel berisi laptop dan kamera DSLR, satu tas tripod, satu tas koper, dan satu tas duffle.

Mengapa kok begitu berat..?

Satu, karena saya memang tidak suka mengenakan baju yang sama berulang-ulang, sedangkan di sisi lain saya nggak terlalu suka mencuci baju di tengah perjalanan. Dua, karena saya datang ketika musim gugur sudah hampir berakhir dan musim dingin akan tiba – jadi, persediaan baju yang saya bawa pun saya tambah dua kali lipat sebagai senjata melawan dingin. Sweater saja saya bawa empat plus satu jaket wol overcoat yang tebal, syal bawa tujuh, pakaian dalam saya bawa dua puluh, dan kemeja serta kaos-kaos saya bawa total dua puluh lima potong..! Dan beban 40kg itulah yang aku bawa naik turun kereta Eurail keliling Eropa, naik turun trem dari stasiun kereta utama di Paris, Berlin, Zurich, Milan, Stockholm, Vienna, dan lain-lain ke tempat penginapan di kota-kota tersebut.

Berat..?

Nggak usah ditanya..!

Dan apakah pakaian yang saya bawa akhirnya saya kenakan semuanya..? Hehehe, nggak juga… Banyak yang menganggap saya edan melakukannya, tapi yah gimana lagi, saya memang tak bisa light packing. Akhirnya, pada hari terakhir di setiap kota yang saya kunjungi di Eropa, saya selalu mengirim pulang sebagian baju kotor saya melalui paket pos. Tapi, anehnya, berat bagasi saya tidak banyak berubah..! Dan saat saya berjalan-jalan ke London selama sepuluh hari bersama dua orang sahabat saya, mereka sangat keheranan melihat saya – dengan bawaan dua koper besar – dan setiap malam sebelum tidur, saya harus berjuang melakukan unpacking dan repacking agar baju-baju dan barang-barang belanjaan saya pada hari itu tetap bisa masuk ke dalam kedua koper besar tersebut.

Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kekaguman saya pada teman-teman backpackers. Mereka bisa saja bepergian selama dua tiga hari dengan barang bawaan yang cukup dimuat dalam satu tas ransel ukuran sedang. Entah bagaimana caranya mereka menghitung jumlah pakaian yang perlu mereka bawa, dan entah pula bagaimana caranya mereka bisa “mengelola” pakaian mereka hingga yang dibawa dalam satu tas ransel yang tidak terlalu besar ukurannya itu ternyata cukup untuk dikenakan selama jalan-jalan tujuh hari lamanya. Ada yang pakaiannya digulung kecil-kecil. Ada yang bawa pakaian hanya tiga lembar dan cuci-kering-pakai. Ada juga yang berbetah-betah mengenakan baju yang sama selama dua hari berturut-turut untuk menghemat baju.

Ketidakmampuan untuk melakukan light packing inilah yang akhirnya menyebabkan saya merasa bahwa saya nggak akan pernah bisa melakukan perjalanan backpacking. Lha gimana mau backpacking kalau pergi ke Solo Yogya dua malam saja saya bawa DUA TAS berisi setumpuk pakaian dan laptop..!! Tapi, terus terang, entah bagaimana saya menikmati lho perjalanan saya yang selalu ditemani dengan seperangkat besar tas. Karena itulah, saya jadi tidak ambil pusing lagi meskipun saya tidak pernah bisa bepergian ala backpackers. Bagi saya, yang namanya jalan-jalan itu yang penting ya saya bisa menikmati perjalanannya – apakah saya bepergian ala backpacker atau tidak itu adalah sesuatu yang (bagi saya) sama sekali nggak penting. Jadi, kalau memang saya nggak pernah bisa nyaman bepergian hanya dengan satu tas ransel besar, dan harus membawa koper besar berisi sekian banyak pakaian, ya saya nggak akan memaksakan diri untuk bepergian ala backpacker. Jangan-jangan, sepanjang perjalanan saya malah stress hanya karena kurang bawa baju ganti..!

One thought on “Saya dan Light Packing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s