Berlin & Kisah Masa Lalu

The City Light Festival @Berliner Dom

Sudah lepas maghrib ketika mobil yang saya tumpangi ini berhenti untuk ke sekian kali pada hari ini. Erwin, sahabat saya yang cekatan mengendarai mobilnya, segera mengajak saya turun. Sejak saya tiba di Berlin Hauptbahnhof dua jam lalu, saya sudah singgah di sekitar Landsberger makan kebab (karena saya nggak sempat makan siang di kereta), mampir ke apartemen Erwin (tempat saya menginap selama empat hari ke depan) di kawasan Gartenstrasse sambil meletakkan koper dan barang2 saya, lalu mengelilingi kota Berlin. Erwin tak henti-hentinya menjelaskan apa-apa yang ada di hadapan kami; mulai dari Deutscher Bundestag (gedung parlemen Jerman), Berliner Dom (katedral Berlin), gedung opera Berlin Philharmonic, Brandenburg Gate, dan beberapa tempat lain – ia mampu memuaskan rasa ingin tahu saya dan menjawab semua pertanyaan saya dengan sangat lancar. Maklum saja, sudah sebelas tahun ia menempuh studi di Berlin – sejak lulus SMU dulu. Dan kini, ia menghentikan mobilnya di tepi sebuah jalan besar, tanpa mengatakan apa-apa, ia mengajak saya turun. Dalam hati, saya bertanya-tanya, ini tempat apaan..? Saya berdiri di trotoar panjang, di sebelah kanan saya  hanya ada tembok panjang penuh coretan graffiti dan di sebelah kiri saya nampak sebuah gedung bertingkat mirip sebuah pusat perbelanjaan.

Kita mau ke mana, Win..?” tanya saya.

Ikuti saya saja dulu. Yuk..!” ajaknya sambil melangkah menyusuri trotoar. Tanpa berkata apa-apa.

Tiba-tiba ia berhenti di sebuah gerbang yang memisahkan tembok panjang penuh graffiti tadi. Gerbang tersebut adalah pintu masuk ke sebuah taman di tepi sungai. Tapi Erwin tidak melangkah masuk ke taman. Ia berhenti di gerbang, lalu menatap wajah saya.

Mas, kita sudah sampai di Berlin East Side Gallery. Mas Sony tahu gallery apa ini..?

Saya terdiam, dan menggelengkan kepala saya. Tempat ini jauh dari kesan gallery – taman kota, tepi sungai, tembok penuh coretan.

Ini adalah gallery – atau tempat kumpulan karya seni. Karya seni yang dikumpulkan di sini adalah coretan-coretan graffiti yang ada di tembok panjang ini. East Side Gallery ini adalah gallery seni ruang terbuka yang terbesar di dunia. Semua karya graffiti yang terlukis di tembok ini adalah hasil karya seniman-seniman dari berbagai negara untuk memperingati salah satu hari kebebasan terbesar di dunia.”

Saya masih berusaha mencerna kata-katanya, ketika ia berkata lagi,”Mas Sony, tembok ini adalah sisa sisa peninggalan Tembok Berlin.”

Dan saya pun tersentak luar biasa.

Saya perhatikan kembali tempat itu. The Berlin Wall East Side Gallery adalah sisa-sisa peninggalan Tembok Berlin di sisi Berlin Timur (yang dahulu dikenal sebagai Jerman Timur) yang berwujud dua buah tembok yang berdiri paralel di tepi Sungai Spree di Muhlenstrasse. Tembok yang masih berdiri tersebut panjangnya 1,3km dan di sisi luarnya penuh dengan coretan graffiti.  Ada lebih dari 100 karya graffiti yang terpajang di tembok itu, hasil karya seniman-seniman dari banyak negara yang dilukis pada akhir tahun 1990. Lukisan-lukisan graffiti tersebut bertema sama, yaitu kebebasan Jerman.

 

The Berlin Wall East Side Gallery

 

Ketika saya melangkah masuk gerbang, melewati tembok pertama dan bermaksud melewati tembok kedua untuk mendekati sungai, Erwin menahan lengan saya. Kami jadi berdiri di antara dua tembok panjang yang berdiri paralel – membelakangi jalan raya dan menghadap Sungai Spree. Lalu ia menjelaskan bahwa saat ini kami berdiri di tempat yang dahulunya menjadi kawasan No Man’s Land. Tembok yang ada di belakang kami berdiri – yang dulunya berdiri memanjang di sekeliling kota Berlin – menjadi pembatas wilayah Berlin Timur, dan tembok yang ada di depan kami – yang aslinya juga berdiri mengelilingi kota Berlin di sisi dalam, menjadi pembatas wilayah Berlin Barat (yang dulunya dikenal dengan negara Jerman Barat). Dan tanah yang ada di antara dua tembok pemisah inilah yang menjadi saksi sejarah kelam masa lalu kota Berlin – di mana banyak warga yang ditembak mati di tempat karena ingin menerobos masuk ke Berlin Timur dari Berlin Barat, atau sebaliknya, tanpa melalui prosedur keamanan yang ditetapkan. Dan dalam suasana temaram malam itu, entah mengapa, saya sedikit emosional dan terhanyut suasana yang memang terasa agak depresif.

 

The Berlin Wall East Side Gallery by the Spree River

 

Suasana muram juga sangat terasa di peninggalan tembok Berlin yang lain yang kami kunjungi berikutnya; yaitu di The Berlin Wall Memorial di kawasan Bernauer Strasse. Di sini, terdapat puing-puing asli dari reruntuhan Tembok Berlin yang masih tertanam dan melekat dengan fondasi bangunan di dalam tanah. Di sini, disajikan pula berbagai diorama dan banyak papan informasi yang menjelaskan banyak kisah tragis romantis pada masa-masa saat tembok itu masih berdiri. Ada beberapa rekaman siaran radio dari tahun 1960an tentang berbagai macam kejadian tragis di sekitar tembok perbatasan tersebut. Namun yang paling memilukan bagi saya adalah keberadaan sebuah tembok yang memanjang searah Tembok Berlin yang di dinding tembok itu dipajang foto-foto warga Berlin Barat dan Berlin Timur yang tewas ditembak di wilayah tembok perbatasan tersebut; dan di tiap-tiap foto disediakan sedikit ruang yang rupa-rupanya digunakan oleh para kerabat korban tersebut untuk mengenang kepergian mereka – dengan seikat bunga, secarik kertas berisikan ungkapan duka, bahkan sebuah permen lollipop yang diletakkan di foto seorang gadis kecil. Tanpa terasa, saya menitikkan air mata membaca setiap kertas ucapan duka pada foto-foto itu.

 

The Berlin Wall Memorial

 

Saya tak pernah membayangkan bahwa kunjungan saya ke Berlin akan begitu berkesan. Setelah dari East Side Gallery dan The Berlin Wall Memorial, saya masih mengunjungi beberapa tempat lagi yang masih merupakan sisa-sisa peninggalan Tembok Berlin. Misalnya, Check Point Charlie – yaitu pos perbatasan Berlin Barat dan Berlin Timur – di mana warga di Barat harus menyodorkan paspor mereka kalau ingin masuk ke Timur, dan begitu pula sebaliknya. Persis kalau kita pergi ke luar negeri. Dan di situ saya tahu bahwa meskipun sisa-sisa Tembok Berlin hanya ada di dua tempat yang saya kunjungi sebelumnya, namun Pemerintah Jerman melarang warganya untuk menghapuskan sisa-sisa Tembok Berlin yang lain, meskipun temboknya sudah diruntuhkan. Bagaimana caranya..? Sisa-sisa Tembok Berlin, baik yang di sisi Timur maupun Barat, yang sudah dirobohkan harus tetap dibuat tetenger-nya. Jadi, rumah atau bangunan di Berlin yang kebetulan bertempat di titik di mana dulu menjadi wilayah tembok perbatasan memiliki lantai yang berbeda warna – agar bisa dibedakan mana tanah yang dulunya termasuk wilayah tembok perbatasan dan mana tanah yang dulunya masuk ke wilayah Berlin Barat atau Berlin Timur. Para pelaku industri wisata pun banyak yang cerdik memanfaatkan fenomena Tembok Berlin untuk menarik wisatawan; ada yang membangun replika Tembok Berlin dan menjual puing-puingnya (tentu saja, nggak asli) di kawasan Potsdamer Platz, atau ada pula yang membuka stand di Branderberg Gate berpura-pura menjadi petugas perbatasan yang memberikan stempel visa masuk Berlin Barat di paspor kita. Intinya, sejarah itu kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan rakyat Berlin di masa modern – sekaligus juga menjadi daya tarik wisatawan mancanegara untuk berkunjung.

Dan melihat begitu seriusnya Pemerintah Jerman merawat dan sekaligus mengeksploitasi sejarah mereka untuk kemudian ditawarkan kepada para wisatawan sebagai daya tarik wisata, saya jadi merenung. Kenapa negara kita yang kaya akan cerita sejarah masa lalu malah tidak mampu mengemas dan menawarkan peninggalan sejarah Indonesia untuk tujuan wisata dengan cara dan kemasan sehebat Berlin ya..?

One thought on “Berlin & Kisah Masa Lalu

  1. jadi kangen Berlin !! sempat ke museum tembok berlin ngga ? yang ada sejarah berlin tiap dekade, jd ada beberapa lantai misalnya lantai pertama th 40-an, lantau kedua th 50-an dst. itu juga kereeennn !!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s