TraveLove; Rajutan Antologi Cinta

Travelove

Travelove

 

Buku Travelove ini sudah ramai diperbincangkan di Twitter beberapa minggu sebelum dirilis. Mengamati begitu ramainya “buzz” tentang buku ini, membuat saya ikut tertarik memilikinya. Bagaimana tidak? Buku ini merupakan kumpulan tulisan beberapa travel writer terkemuka di Indonesia. Ini sudah daya tarik tersendiri. Belum lagi, topik cinta yang diangkat selalu menjadi bahasan yang sexy untuk disajikan dalam cerita.

Kesan pertama melihat buku ini sangat positif. Sampul depannya bagus sekali. Disainnya sederhana, warna sampulnya sangat segar, gambarnya menarik, detilnya halus – pokoknya catchy sekali..! Setelah saya buka-buka sepintas bagian dalamnya, ternyata layout dalamnya pun cantik. Penataan foto, kata-kata, pilihan font, dan lain-lain, semuanya menarik. Tidak membosankan.

Nah, seperti biasa, saya mengawali prosesi membaca buku dengan serangkaian ritual – diawali dengan mencari komentar endorser buku. Ternyata tidak ada. Hmm, mungkin karena penulis buku ini adalah sekumpulan travel writer yang sudah punya banyak karya, jadi tidak ada endorsement, begitu pikir saya. Lalu saya cari kata pengantar – yang biasanya memberikan informasi awal tentang sebuah buku. Saya berharap bisa menemukan penjelasan tentang bagaimana pemikiran awal sampai buku ini muncul, mengapa kok penulis-penulis ini yang dipilih, dan informasi-informasi “behind the scene” buku ini. Ini segmen yang tidak pernah saya lewatkan. Walah, ternyata tidak ada juga..! Akhirnya, saya melirik sampul belakang buku ini – yang semestinya berisi sinopsis buku ini.

Sinopsis-nya cukup ringkas. Cuma, ada satu hal yang menggelitik pikiran saya. Buku ini merupakan kumpulan tulisan sembilan orang travel writer. Namun, anehnya, yang disebutkan dalam halaman sampul belakang buku ini kok hanya ada enam. Tiga nama yang lain “diwakili” dengan kata “dkk”. Bagi saya, ini sungguh aneh. Dari sembilan penulis, yang disebutkan namanya di sampul belakang hanya enam nama. Kok nanggung banget ya, menyebutkan tiga nama saja harus diwakilkan dengan kata “dkk”..? Toh, masih ada ruang yang cukup luas di situ. Yang lebih mengherankan, salah satu dari tiga nama yang tidak disebutkan tersebut adalah justru nama penulis yang termasuk paling produktif menghasilkan buku dibandingkan nama-nama lainnya. Ada apa ya..? Entah bagaimana pendapat yang lain ya, tapi bagi saya, fakta sederhana ini sangat mengherankan.

Cerita-cerita di buku ini bagaikan sekumpulan fragmen yang sangat menarik. Memang tidak semua cerita mampu hadir mengesankan – ada dua cerita yang tak mampu saya pahami apa maunya (ehm, tapi nggak usah saya sebut judulnya ya..? :d) – tapi secara umum, saya cukup terhibur dengan buku ini. Ada Lalu Abdul Fatah dengan impiannya tentang seorang Natalie, ada kisah Rei Nina yang lelaki menarik dari Yunani, lalu Andrei Budiman bercerita tentang bagaimana melupakan cinta di Fujiyama, ada juga kisah cinta sesat Sarie Musdar dengan pria blasteran Prancis-Polandia (sayang sekali, ada dua kesalahan tulis yang cukup mencolok di sini), atau perjalanan cinta Salman Faridi ke Jepang, serta kisah cinta tak terucapkan Ariyanto di Kuala Lumpur. Namun, ada tiga tulisan yang paling saya suka. Yang pertama, saya suka dengan kisah Rini Raharjanti dengan cowok Irlandia-nya – dan terus terang, saya cukup penasaran apakah ada one night stand yang tak tersampaikan di cerita itu. Hihihihi… Yang kedua, saya juga suka banget dengan Silent Retreat-nya Claudia Kaunang. Tulisannya lincah, dinamis, terkadang sendu, kadang nakal. Alur ceritanya pun mengalun dengan apik. Dan, yang tulisan yang saya anggap paling menawan, tak lain tak bukan adalah cerita Perjalanan ke Surga-nya Trinity. Bahasanya lugas, jujur, ibarat hidangan makan siang yang sederhana namun terasa istimewa. Dan, entah bagaimana, bahasanya yang tanpa banyak metafora itu justru membuat saya jadi tercenung. Terharu. Dan emosional. Dua kali saya harus berhenti sejenak membaca – menata hati – karena terbawa nostalgia bersama almarhum ayah saya.

Begitu saya menuntaskan buku ini, ada sesuatu yang terasa mengganjal. Meski saya menyukai buku ini, namun saya tak bisa menangkap benang merah yang mengaitkan satu cerita dengan cerita yang lain. Buku ini seakan tak punya nyawa, karena ibarat tubuh manusia, tiap-tiap elemen buku ini berjalan ke arah yang berbeda-beda. Tak ada yang menyatukannya. Sangat jauh berbeda dengan buku kumpulan cerita semacam ini, misalnya The Journey dan The Journey 2, yang antara satu cerita dengan cerita yang lain begitu kuat alurnya; meskipun penulisnya pun berbeda-beda. Ini salah satu kelemahan lain buku ini – selain kejanggalan yang muncul di sampul belakang – yang menurut saya sangat disayangkan.

Kelemahan lainnya yang nampak di mata saya adalah berkaitan dengan “nyawa” tulisan pada masing-masing judul. Meski saya sangat menikmati tulisan Claudia Kaunang dan Rini Raharjanti, saya merasa tulisan mereka berdua kurang “tuntas” – ibarat ejakulasi dini, di mana kenyataan harus berhenti ketika emosi masih bergejolak dan belum mencapai klimaks. Begitu juga tulisan Ariyanto yang seakan tergesa-gesa menuju ending, padahal emosi di tengah cerita masih banyak yang bisa dimainkan. Masih banyak nyawa yang belum dihidupkan. Jadi, kesannya nanggung. Seandainya saja, emosi digarap dengan lebih tuntas dan tulisan buku ini jadi (sedikit) lebih panjang, mungkin buku ini menjadi jauh lebih baik. Cuma, mungkin penerbit punya pertimbangan pasar yang membuat ada batasan ketebalan buku supaya harganya masih cukup terjangkau pasar.

Namun, bagaimanapun, ide mengumpulkan karya cerita sembilan penulis dalam sebuah buku perlu diapresiasi. Ide menyoroti kenangan tentang “cinta lokasi” di perjalanan juga sungguh menarik – siapapun pencetusnya, two thumbs up..!!

Mudah-mudahan, seri kedua Travelove bisa segera menyusul.

5 thoughts on “TraveLove; Rajutan Antologi Cinta

  1. hu um, reviewnya menarik.
    saya baru selesai baca dan menuliskan ulasannya.
    sekalian nih ya, saat search gambar bukunya, saya jadi mampir kesini. nah sekaliannya itu, pengin minta izin nyantumin gambar diatas. gapapa ya?😀

    salam kenal
    faraziyya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s