A Night with an Old Woman

Berlin Hauptbahnhof

Tepat pukul 22.31, kereta Zug300 itu perlahan-lahan meninggalkan Berlin Hauptbahnhof. Dari balik jendela kereta, saya lambaikan tangan pada Erwin, Ireny, Iko, dan teman-teman yang selama tiga hari ini menyambut kedatangan saya di Berlin dengan penuh kehangatan. Berpisah dengan teman-teman yang saya jumpai di perjalanan selalu memberikan rasa kehilangan tersendiri. Mungkin karena saya tak tahu apakah akan ada pertemuan-pertemuan lain di hari-hari mendatang. Saya mendesah lagi, lalu berbalik melangkah masuk ke kompartemen.

Dalam satu gerbong, ada enam kompartemen. Saya ditempatkan di kompartemen nomor 4 yang berisi enam tempat tidur (dua bunk-bed; masing-masing bertingkat tiga terletak di sebelah kiri dan kanan pintu). Sebenarnya tiket Eurail Pass yang saya miliki memungkinkan saya mengambil pilihan kompartemen kelas satu yang berisi dua tempat tidur – plus kamar mandi dalam. Namun saat reservasi di Berlin beberapa hari sebelumnya, kompartemen kelas satu saat itu sudah penuh. Jadi, terpaksa saya mengambil kompartemen kelas dua atau couchette. Di pintu kompartemen 4, terpasang daftar nama penghuni dan negara asalnya. Nama saya tertulis menempati tempat tidur nomor 36; artinya tempat tidur bawah di sebelah kanan pintu. Menurut daftar tersebut, kompartemen saya akan dihuni oleh empat orang; saya sendiri di kanan bawah, lalu seseorang (namanya sih seperti nama wanita, tapi nggak yakin) di kiri tengah, lalu dua orang Jerman di kiri dan kanan atas. Buru-buru saya masuk kompartemen.

Di dalam kompartemen, dua orang Jerman sudah nangkring di tempat tidur atas. Ternyata mereka sepasang turis backpacker – kayaknya sih, mereka pacaran. Sambil lalu menyapa mereka, saya langsung menatap tempat tidur saya. Dan saya pun terdiam. Melongo. Waduh, bagaimana caranya mengatur barang bawaan saya yang segambreng ini di tempat tidur yang begitu sempit ini…? Tidak banyak tempat tersedia untuk tas koper berukuran besar. Tempat tidurnya pun tidak luas – dan kita pun tidak bisa duduk di sisi tempat tidur karena kepala kita pasti akan terbentur tempat tidur di atas kita. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya koper saya letakkan di sisi tempat tidur, lalu suit bag dan tripod kamera saya gantung di pojok dekat kaki saya, sedangkan ransel dan tas kamera saya letakkan dekat bantal supaya aman.

Couchette (taken from dinkyguide.com)

Kereta ini bertolak menuju Stockholm. Perjalanan dengan kereta malam dari Berlin menuju Stockholm ditempuh dalam waktu hampir 14 jam. Dari Berlin, kereta akan menuju ke Malmo, sebuah kota kecil di Denmark, di mana saya harus berpindah kereta menuju ke Stockholm. Karena perjalanan yang cukup panjang dilakukan di malam hari, kereta ini dikategorikan kereta malam dengan fasilitas tidur (sleeping train). Sleeping train yang dikelola oleh jaringan perusahaan kereta api se-Eropa bernama Eurail ini menawarkan beberapa pilihan kenyamanan. Bagi turis backpacker yang uangnya terbatas, pilihan tidur di reclining seats adalah yang paling bijak karena harganya yang murah. Kursi yang bisa diatur derajat kemiringannya ini hampir sama dengan kursi yang disediakan Perumka di kereta eksekutif – hanya saja, kondisi di sleeping train untuk kelas budget ini justru lebih baik daripada reclining seat di kereta eksekutif Perumka yang seringkali tidak berfungsi. Pilihan lain adalah tidur di couchette train, yaitu kompartemen yang berisi empat atau enam tempat tidur – seperti yang saya tempati. Ini pilihan yang sesuai bagi mereka yang ingin menikmati tidur malam dengan posisi tubuh lurus di atas kasur. Tarif satu tempat tidur di couchette hampir dua kali lipat harga satu reclining seat. Meskipun demikian, beberapa turis backpacker saya lihat mengambil pilihan couchette, mungkin karena mereka ingin menikmati tidur yang agak nyaman agar mereka bisa mengumpulkan tenaga lebih banyak untuk perjalanan mereka besok. Pilihan yang paling bagus adalah kompartemen kelas satu – dengan hanya dua tempat tidur dalam satu kompartemen, dan dilengkapi kamar mandi pribadi di dalam tiap kompartemen.

Pintu kompartemen terbuka. Seorang wanita berusia mendekati 60 tahun masuk ke kompartemen.

Guten abend,” sapanya.

Dandanannya agak menor untuk wanita seusianya. Jaket hangat bercorak kulit harimau membalut kaos hitam ketat yang menutup tubuhnya. Ia tak membawa tas atau koper. Hanya satu tas tangan berukuran besar yang ia bawa. Ia meletakkan tasnya di tempat tidurnya di tengah, lalu duduk di tepi tempat tidur bawah menghadap tempat tidur saya. Parasnya sendiri tak bisa dikatakan cantik. Sama sekali tidak menarik. Bagi saya, keseluruhan penampilan fisiknya mengesankan dirinya adalah seorang wanita tua dari kelas sosial menengah ke bawah yang lelah dan berpenampilan lusuh.

Hallo, wie geht’s euch?” sapa wanita itu kepada saya.

Saya tersenyum kepadanya, dan mengatakan padanya dalam bahasa Inggris bahwa saya tak bisa berbahasa Jerman. Ia lalu mengubah sapaannya dalam bahasa Inggris yang baik, dan saya jawab seperlunya. Saya tak mau terlalu akrab dengan orang yang tidak saya kenal di situasi kereta yang baru saya kenal ini.

Tak lama kemudian, kondektur kereta mengetuk pintu dan membukanya. Ia memeriksa tiket – dan paspor saya – lalu menyerahkan kembali sambil berpesan kepada kami semua. “If you are ready to sleep, please lock the door. Sometimes pickpockets try their luck in this train.” Setelah itu, ia berlalu. Pintu dirapatkan dan saya berinisiatif mengunci pintu. Tidak ada yang keberatan. Pasangan Jerman di atas langsung merebahkan tubuh mereka. Si nenek juga membuka jaketnya, dan bersiap-siap tidur. Saya pun segera berbaring dan langsung terlelap.

Entah berapa lama terlelap dan entah apa pula yang membuat saya terbangun. Yang jelas, tiba-tiba saja saya terjaga. Dan dalam kondisi setengah sadar, saya merasakan betis dan paha saya dipegang-pegang menelusur ke atas. Copet..!! Itu yang pertama terbersit di pikiran saya. Tanpa melihat arah dan tanpa berpikir panjang, langsung saja saya tendangkan kaki saya kuat-kuat ke arah orang tersebut. Orang tersebut terdorong kuat, membentur pintu, dan terjatuh dengan suara benturan yang gaduh. Dan alangkah kagetnya saya melihat bahwa orang yang meraba-raba saya tadi adalah si Nenek..!

Why did you touch me? Did you want to steal my money?” tanya saya dengan suara keras.

Saya lirik, pasangan Jerman di atas melongok dari tempat tidur mereka. Dan sebagaimana halnya orang-orang bule, saya paham mereka takkan mau ikut campur urusan orang lain. Saya sendiri merasa sanggup menghadapi si Nenek ini. Tapi saya merasa perlu bersuara keras supaya mereka di atas itu paham masalahnya.

Si Nenek sendiri berusaha bangkit dari jatuhnya. Dia menggeram mengomel-ngomel dalam bahasa Jerman. Saya menatap tajam matanya sampai dia berbaring kembali di tempat tidurnya. Saya meraba-raba dompet, tripod, travel wallet berisi paspor, serta barang-barang yang saya letakkan di bawah bantal. Setelah saya rasa tidak ada yang hilang, saya pun mencoba memejamkan mata kembali.

Rasanya belum lama saya terlelap ketika saya merasakan kembali badan saya diraba-raba. Betis, paha, lalu naik sedikit…. – dan itulah yang langsung membuat mata saya benar-benar terbuka. Dan, ternyata si Nenek itu lagi yang berulah. Sialan..! Lagi-lagi, aku tendang saja wanita tua itu hingga terjatuh kembali dan terpental tersungkur di pintu kompartemen.

What’s wrong with you..?” bentak saya kepadanya. “You touched my body again..! Do you want to steal my money, or do you want to fu*k with me..? What’s wrong with you..?

Lagi-lagi dua kepala di tempat tidur atas melongok sekejap. Kata-kata saya kasar memang.

Si Nenek itu hanya meracau tak jelas. Ia bangkit dari lantai – dan tangannya menggapai-gapai kembali ke tubuh saya. Saya pun segera mengibas-ngibaskan kaki berusaha melepaskan genggaman tangan si Nenek. Namun karena ia tetap berusaha menggapai tubuh saya, saya segera mendorongnya kembali.

Ma’am, if you dare to touch my body again, I’m afraid I have to hit you harder,” ancam saya dengan bahasa Inggris yang saya ucapkan jelas-jelas. “Do you understand me..? If you touch me again, I will hit you harder.”

Nenek itu kembali menggumamkan kata-kata yang tak jelas. Perlahan-lahan ia menangis terisak-isak. Lalu ia membenamkan wajahnya ke bantal untuk menahan suara tangisnya. Ia nampak begitu memilukan. Saya sendiri sebetulnya tak tega juga. Tapi saya tak bermaksud menghiburnya, karena terus terang saya tak paham situasi dan kondisi si Nenek tersebut. Iya kalau si Nenek tersebut menangis karena kesakitan, kalau menangisnya karena gagal “memperkosa” saya..? Ihh..! Dalam hati, saya juga menyumpah-nyumpah tak keruan. Masa pengalaman pertama naik sleeping train di Eropa adalah diperkosa nenek-nenek..?Jadi, akhirnya saya cuek saja – dan mencoba tidur kembali. Sebelum saya terlelap, saya lihat si Nenek keluar kompartemen sambil membawa tasnya. Dan samar-samar saya dengar dari atas kompartemen suara gerendel kunci diputar. Mungkin pasangan Jerman tersebut juga terganggu dengan ulah si nenek, lalu mengunci pintunya supaya si nenek tak bisa masuk lagi. Ah, bodo amat..!! Saya pun terlelap kembali.

Ketika pagi hari kereta merapat ke Malmo, saya bersama penumpang lain bergegas keluar kompartemen. Malmo adalah kota kecil di wilayah Denmark yang terletak di antara Stockholm (Swedia) dan Kopenhagen (Denmark). Semua kereta yang berasal dari Eropa Daratan memang selalu transit di Malmo dan penumpangnya harus menyambung dengan kereta lain di Malmo menuju kota-kota besar di Skandinavia seperti Stockholm, Kopenhagen, Gotheburg, Oslo, Helsinki, dan lain-lain. Saya melangkah pelan sambil membawa barang-barang saya karena saya harus berpindah pada kereta lain menuju Stockholm. Di ujung gerbong yang saya tempati, di dekat toilet, si Nenek nampak duduk bersimpuh dengan mata terpejam. Wajahnya pias. Rambutnya kusut terburai. Jaket kulitnya terserak. Dan dari mulutnya tercium bau alkohol yang sangat menyengat.

Sesaat saya ingin menanyakan keadaannya. Tapi, saya batalkan niat itu dan segera berlalu.

Ada episode yang harus saya tinggal di belakang – dan tidak dilihat-lihat kembali.

One thought on “A Night with an Old Woman

  1. pemabuk di Jerman memang membuat kita ngga nyaman, sudah banyak kasus dimana para pemabuk ini, ngga peduli tua muda atau laki perempuan yang bikin masalah, mereka kadang suka mengganggu di kereta atau di taman-taman kota yang membuat takut orang yang ada di sekitarnya. aku pernah ngalamin mau dideketin org mabuk di Ulm, untung aku bisa segera lari ke stasiun, karena waktu itu malem minggu dan banyak anak muda mabuk berkeliaran ! waktu itu aku terpaksa bermalam di stasiun utk menunggu kereta kelas ekonomi dg seorang teman setelah backpacker-an ke Muenchen dan Salzburg🙂 kalo pengalamanku naik kompartemen tidur untungnya ngga ada gangguan, perjalanan malam Budapest – Berlin dapat berlangsung nyaman meski saat itu musim panas dimana biasanya rame penumpang. aku sekamar dg seorang nenek-nenek juga yang tertarik utk datang ke Indonesia krn waktu itu aku baca novel Eat Pray Love !🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s