Bermalam di Airport Skavsta

Gamla Stan (Old Town); Stockholm

Sejak awal keberangkatan ke Eropa, saya memang sudah bertekad untuk berhemat sebisa mungkin. Bagi saya, ini agak sulit karena saya termasuk orang yang senang menikmati perjalanan dengan nyaman. Tidak masalah tinggal di backpacker hostel, tapi sebisa mungkin saya pilih menginap di private room, bukan di dorm berbagi dengan orang lain yang tidak saya kenal – meskipun tidur di dorm memang murah banget. Tidak masalah harus bepergian dengan budget airlines, tapi saya selalu mengeluarkan uang lebih untuk memilih hot seat, membeli bagasi, dan tentu saja membeli makanan di atas pesawat. Untuk makan selama berpetualang pun, saya tak pernah mau makan sembarangan dengan membeli di sembarang food hawkers. Kalau kepepet, menu paket McDonalds atau Burger Kings menjadi pilihan default saya. Itulah sebabnya saya jadi terhenyak ketika saya menyadari bahwa kemungkinan besar saya harus menginap di bandara Skavsta di Stockholm, Swedia – untuk melanjutkan perjalanan ke Paris.

Waduh, gimana ya..?

Pesawat yang akan membawa saya ke Paris berangkat pukul 07.15 pagi – dan seperti halnya budget airline lainnya, Ryan Air terkenal sebagai airline yang sangat rewel kepada pelanggan mereka yang bermasalah. Jadi, saya nggak mau datang terlambat ke airport. Nah, masalahnya adalah di Stockholm, saya menumpang di rumah seorang teman baik saya di kawasan Duvbo. Dari Duvbo, perjalanan ke airport Skavsta harus ditempuh dengan subway (kereta bawah tanah) selama 20 menit lalu disambung dengan airport shuttle bus dari pusat kota Stockholm dengan waktu tempuh 1 jam 15 menit. Dan, subway paling pagi berangkat pukul 5 pagi (datang tiap 15 menit) sedangkan shuttle bus paling pagi berangkat pukul 6. Jadi, meskipun saya berangkat dengan menggunakan kereta atau shuttle bus paling pagi, saya tetap akan terlambat datang ke airport. Naik taksi..? Bisa ratusan Euro perjalanan dari Stockholm ke Skavsta..! Edan..! Ogah banget ngeluarin duit segitu banyak hanya buat taksi. Stockholm bukanlah kota yang murah; apalagi untuk membeli kenyamanan seperti taksi. Jadi, sepertinya naik shuttle bus terakhir pukul 8 malam lalu menginap di airport adalah satu-satunya alternatif yang masuk akal supaya saya terhindar dari masalah.

Di Stockholm, ada tiga bandara yang aktif digunakan; yaitu bandara utama Arlanda, bandara khusus budget airline Skavsta dengan tujuan ke negara-negara Eropa daratan (Inggris, Prancis, Jerman, dan lain-lain), dan bandara khusus budget airline Bromma yang melayani penerbangan ke negara-negara Skandinavia dan Eropa Utara (Denmark, Norwegia, Finlandia, Islandia, dan sebagian Rusia). Perjalanan ke Skavsta memang cukup lama karena seperti halnya di Kuala Lumpur, London, atau Paris, airport untuk budget airline selalu terletak di lokasi yang cukup jauh dari pusat kota. Sesampai di Skavsta, dari pandangan pertama saja saya menyadari bahwa bandara untuk budget airline di sini jauh berbeda dibandingkan bandara LCCT di Kuala Lumpur atau bandara Stansted di London. Di dua bandara tersebut, meskipun judulnya bandara khusus untuk budget airline fasilitasnya cukup lengkap. Ada beberapa kios, outlet makanan, kafe, dan lain-lain. Di Skavsta sini, bangunannya saja seperti gudang perkakas tukang. Sama sekali tidak indah. Hanya ada dua outlet yang menawarkan makanan dan minuman. Ukuran outlet-nya pun sangat mungil. Tidak ada fasilitas atau toko lainnya yang bisa dieksplorasi sembari menunggu boarding.

Pelan-pelan mata saya mulai menjelajah bagian dalam airport tersebut. Bangunannya benar-benar sempit. Begitu masuk, langsung berhadapan dengan enam counter check-in – yang tidak luas. Di sekitarnya, terdapat beberapa counter penyewaan mobil (yang saat itu sudah tutup) serta toilet. Di bagian dalam airport, ada area kafetaria yang juga tidak luas – hanya ada satu counter makanan dan satu counter minuman. Sudah – nggak ada yang lain! Buset, dah..!

Sempat bertanya-tanya lagi pada diri sendiri, yakin nih, mau nginep di sini..? Teringat kalau tadi saya lihat ada hotel transit di seberang airport ini, terpikir juga, apa saya lebih baik menginap saja di hotel itu ya..? Saya coba mencari informasi di website hotel tersebut melalui fasilitas Internet gratisan yang ada di sudut airport – ternyata tarif menginap per kamarnya juga sekitar 100 Euro semalam. Buset..! Demi tidur yang hanya empat lima jam, saya harus buang duit 100 Euro..? Cuih..! Ogah..!

Jadi, mau tidak mau, kalau mau menginap di airport ya harus tidur di kursi kafetaria, atau berbaring di lantai di antara kursi-kursi kafetaria. Berbaring di area check-in jelas tidak mungkin, bisa-bisa diusir satpam. Nah, masalahnya (lagi), adalah saat itu belum nampak ada orang lain yang  kelihatan berniat menginap di airport tersebut. Jadi, saya juga nggak berani langsung pasang aksi menggelar tas jadi bantal dan takut pula buru-buru berangkat tidur. Ada sih, beberapa orang yang baru saja datang – dan langsung duduk di kursi kafetaria tersebut – memesan secangkir kopi lalu ngobrol. Setelah beberapa saat mengamati situasi, saya pun ikut memesan secangkir coklat hangat dan sepotong sandwich. Saya baru teringat kalau saya belum makan malam. Saya coba menikmatinya perlahan-lahan sekali, biar nggak cepat habis, siapa tahu orang-orang yang sedang menikmati kopi itu sebenarnya juga hendak menginap di airport ini – dan bukan sedang menunggu keluarga mereka yang akan datang. Nah, kalau mereka menunjukkan tanda-tanda mulai berangkat tidur, baru deh saya ikut-ikut berangkat..! Jadi kan saya ada teman sesama numpang tidur di airport. Dan, ternyata cara itu memang jitu. Setengah jam kemudian, beberapa orang lain datang di kafetaria – dan perlahan-lahan mulai menunjukkan gejala-gejala untuk “berangkat”. Mengatur kursi kafetaria, misalnya. Atau menata letak ransel dan tas lainnya. Bahkan satu dua orang sudah mulai berbaring, lalu tidur. Dan, demi melihat pemandangan itu pun, langsung saja saya bergerak cepat. Pilih posisi kursi, atur letaknya, ubah letak kopor dan tas, lalu mencoba posisi berbaring yang enak. Tak lama kemudian, saya pun sudah bersiap tinggal landas ke alam mimpi.

Sambil merasakan dinginnya lantai airport Skavsta – dan menantikan terpejamnya mata ini, saya merenung. Saya teringat pada beberapa teman di sebuah Facebook Group – yang seringkali menyatakan betapa asyiknya bila selama traveling kita tidak menginap di hostel atau hotel, melainkan menikmati malam dengan tidur di SPBU, atau di masjid, atau di menumpang di kantor polisi. Memang sih, saya bukanlah seorang backpacker – seperti teman-teman yang hobi menginap di SPBU, atau numpang di masjid, atau meringkuk di kantor polisi – tapi terus terang, saya nggak bisa deh membayangkan alasan teman-teman yang melakukan itu. Saya memang melihat bahwa sekarang ini, cukup banyak para backpackers yang juga ikut menginap di airport seperti saya. Tapi, saya yakin, itu mereka lakukan bukan karena mereka ingin, tapi karena memang situasinya yang memaksa. Selama sepuluh hari ini saya berjalan dari Amsterdam ke Brusel lanjut ke Luxemburg lalu ke Berlin dan Stockholm, semua petualang backpackers tinggal di hostel, bukan mengemper di jalan atau di kantor polisi. Ada juga sih yang tidur di stasiun kereta atau di airport, tapi ya itu tadi, karena memang dipaksa oleh situasi – yaitu jadwal kereta atau pesawat yang tidak bersahabat.

Ah, tapi bodo amat deh..!

Mau tidur di kantor polisi kek, tidur di SPBU kek, atau numpang masjid, terserah aja. Bagi saya, yang namanya tidur – apalagi dalam perjalanan seperti itu – kalau sampai nggak nyaman, malah repot. Tidur nggak berkualitas, istirahat kurang, stamina jadi lebih mudah terganggu. Bisa-bisa justru perjalanan saya yang berantakan kalau sampai sakit. Rugi banget. Ya, nggak..?

Advertisements

A Night with an Old Woman

Berlin Hauptbahnhof

Tepat pukul 22.31, kereta Zug300 itu perlahan-lahan meninggalkan Berlin Hauptbahnhof. Dari balik jendela kereta, saya lambaikan tangan pada Erwin, Ireny, Iko, dan teman-teman yang selama tiga hari ini menyambut kedatangan saya di Berlin dengan penuh kehangatan. Berpisah dengan teman-teman yang saya jumpai di perjalanan selalu memberikan rasa kehilangan tersendiri. Mungkin karena saya tak tahu apakah akan ada pertemuan-pertemuan lain di hari-hari mendatang. Saya mendesah lagi, lalu berbalik melangkah masuk ke kompartemen.

Dalam satu gerbong, ada enam kompartemen. Saya ditempatkan di kompartemen nomor 4 yang berisi enam tempat tidur (dua bunk-bed; masing-masing bertingkat tiga terletak di sebelah kiri dan kanan pintu). Sebenarnya tiket Eurail Pass yang saya miliki memungkinkan saya mengambil pilihan kompartemen kelas satu yang berisi dua tempat tidur – plus kamar mandi dalam. Namun saat reservasi di Berlin beberapa hari sebelumnya, kompartemen kelas satu saat itu sudah penuh. Jadi, terpaksa saya mengambil kompartemen kelas dua atau couchette. Di pintu kompartemen 4, terpasang daftar nama penghuni dan negara asalnya. Nama saya tertulis menempati tempat tidur nomor 36; artinya tempat tidur bawah di sebelah kanan pintu. Menurut daftar tersebut, kompartemen saya akan dihuni oleh empat orang; saya sendiri di kanan bawah, lalu seseorang (namanya sih seperti nama wanita, tapi nggak yakin) di kiri tengah, lalu dua orang Jerman di kiri dan kanan atas. Buru-buru saya masuk kompartemen.

Di dalam kompartemen, dua orang Jerman sudah nangkring di tempat tidur atas. Ternyata mereka sepasang turis backpacker – kayaknya sih, mereka pacaran. Sambil lalu menyapa mereka, saya langsung menatap tempat tidur saya. Dan saya pun terdiam. Melongo. Waduh, bagaimana caranya mengatur barang bawaan saya yang segambreng ini di tempat tidur yang begitu sempit ini…? Tidak banyak tempat tersedia untuk tas koper berukuran besar. Tempat tidurnya pun tidak luas – dan kita pun tidak bisa duduk di sisi tempat tidur karena kepala kita pasti akan terbentur tempat tidur di atas kita. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya koper saya letakkan di sisi tempat tidur, lalu suit bag dan tripod kamera saya gantung di pojok dekat kaki saya, sedangkan ransel dan tas kamera saya letakkan dekat bantal supaya aman.

Couchette (taken from dinkyguide.com)

Kereta ini bertolak menuju Stockholm. Perjalanan dengan kereta malam dari Berlin menuju Stockholm ditempuh dalam waktu hampir 14 jam. Dari Berlin, kereta akan menuju ke Malmo, sebuah kota kecil di Denmark, di mana saya harus berpindah kereta menuju ke Stockholm. Karena perjalanan yang cukup panjang dilakukan di malam hari, kereta ini dikategorikan kereta malam dengan fasilitas tidur (sleeping train). Sleeping train yang dikelola oleh jaringan perusahaan kereta api se-Eropa bernama Eurail ini menawarkan beberapa pilihan kenyamanan. Bagi turis backpacker yang uangnya terbatas, pilihan tidur di reclining seats adalah yang paling bijak karena harganya yang murah. Kursi yang bisa diatur derajat kemiringannya ini hampir sama dengan kursi yang disediakan Perumka di kereta eksekutif – hanya saja, kondisi di sleeping train untuk kelas budget ini justru lebih baik daripada reclining seat di kereta eksekutif Perumka yang seringkali tidak berfungsi. Pilihan lain adalah tidur di couchette train, yaitu kompartemen yang berisi empat atau enam tempat tidur – seperti yang saya tempati. Ini pilihan yang sesuai bagi mereka yang ingin menikmati tidur malam dengan posisi tubuh lurus di atas kasur. Tarif satu tempat tidur di couchette hampir dua kali lipat harga satu reclining seat. Meskipun demikian, beberapa turis backpacker saya lihat mengambil pilihan couchette, mungkin karena mereka ingin menikmati tidur yang agak nyaman agar mereka bisa mengumpulkan tenaga lebih banyak untuk perjalanan mereka besok. Pilihan yang paling bagus adalah kompartemen kelas satu – dengan hanya dua tempat tidur dalam satu kompartemen, dan dilengkapi kamar mandi pribadi di dalam tiap kompartemen.

Pintu kompartemen terbuka. Seorang wanita berusia mendekati 60 tahun masuk ke kompartemen.

Guten abend,” sapanya.

Dandanannya agak menor untuk wanita seusianya. Jaket hangat bercorak kulit harimau membalut kaos hitam ketat yang menutup tubuhnya. Ia tak membawa tas atau koper. Hanya satu tas tangan berukuran besar yang ia bawa. Ia meletakkan tasnya di tempat tidurnya di tengah, lalu duduk di tepi tempat tidur bawah menghadap tempat tidur saya. Parasnya sendiri tak bisa dikatakan cantik. Sama sekali tidak menarik. Bagi saya, keseluruhan penampilan fisiknya mengesankan dirinya adalah seorang wanita tua dari kelas sosial menengah ke bawah yang lelah dan berpenampilan lusuh.

Hallo, wie geht’s euch?” sapa wanita itu kepada saya.

Saya tersenyum kepadanya, dan mengatakan padanya dalam bahasa Inggris bahwa saya tak bisa berbahasa Jerman. Ia lalu mengubah sapaannya dalam bahasa Inggris yang baik, dan saya jawab seperlunya. Saya tak mau terlalu akrab dengan orang yang tidak saya kenal di situasi kereta yang baru saya kenal ini.

Tak lama kemudian, kondektur kereta mengetuk pintu dan membukanya. Ia memeriksa tiket – dan paspor saya – lalu menyerahkan kembali sambil berpesan kepada kami semua. “If you are ready to sleep, please lock the door. Sometimes pickpockets try their luck in this train.” Setelah itu, ia berlalu. Pintu dirapatkan dan saya berinisiatif mengunci pintu. Tidak ada yang keberatan. Pasangan Jerman di atas langsung merebahkan tubuh mereka. Si nenek juga membuka jaketnya, dan bersiap-siap tidur. Saya pun segera berbaring dan langsung terlelap.

Entah berapa lama terlelap dan entah apa pula yang membuat saya terbangun. Yang jelas, tiba-tiba saja saya terjaga. Dan dalam kondisi setengah sadar, saya merasakan betis dan paha saya dipegang-pegang menelusur ke atas. Copet..!! Itu yang pertama terbersit di pikiran saya. Tanpa melihat arah dan tanpa berpikir panjang, langsung saja saya tendangkan kaki saya kuat-kuat ke arah orang tersebut. Orang tersebut terdorong kuat, membentur pintu, dan terjatuh dengan suara benturan yang gaduh. Dan alangkah kagetnya saya melihat bahwa orang yang meraba-raba saya tadi adalah si Nenek..!

Why did you touch me? Did you want to steal my money?” tanya saya dengan suara keras.

Saya lirik, pasangan Jerman di atas melongok dari tempat tidur mereka. Dan sebagaimana halnya orang-orang bule, saya paham mereka takkan mau ikut campur urusan orang lain. Saya sendiri merasa sanggup menghadapi si Nenek ini. Tapi saya merasa perlu bersuara keras supaya mereka di atas itu paham masalahnya.

Si Nenek sendiri berusaha bangkit dari jatuhnya. Dia menggeram mengomel-ngomel dalam bahasa Jerman. Saya menatap tajam matanya sampai dia berbaring kembali di tempat tidurnya. Saya meraba-raba dompet, tripod, travel wallet berisi paspor, serta barang-barang yang saya letakkan di bawah bantal. Setelah saya rasa tidak ada yang hilang, saya pun mencoba memejamkan mata kembali.

Rasanya belum lama saya terlelap ketika saya merasakan kembali badan saya diraba-raba. Betis, paha, lalu naik sedikit…. – dan itulah yang langsung membuat mata saya benar-benar terbuka. Dan, ternyata si Nenek itu lagi yang berulah. Sialan..! Lagi-lagi, aku tendang saja wanita tua itu hingga terjatuh kembali dan terpental tersungkur di pintu kompartemen.

What’s wrong with you..?” bentak saya kepadanya. “You touched my body again..! Do you want to steal my money, or do you want to fu*k with me..? What’s wrong with you..?

Lagi-lagi dua kepala di tempat tidur atas melongok sekejap. Kata-kata saya kasar memang.

Si Nenek itu hanya meracau tak jelas. Ia bangkit dari lantai – dan tangannya menggapai-gapai kembali ke tubuh saya. Saya pun segera mengibas-ngibaskan kaki berusaha melepaskan genggaman tangan si Nenek. Namun karena ia tetap berusaha menggapai tubuh saya, saya segera mendorongnya kembali.

Ma’am, if you dare to touch my body again, I’m afraid I have to hit you harder,” ancam saya dengan bahasa Inggris yang saya ucapkan jelas-jelas. “Do you understand me..? If you touch me again, I will hit you harder.”

Nenek itu kembali menggumamkan kata-kata yang tak jelas. Perlahan-lahan ia menangis terisak-isak. Lalu ia membenamkan wajahnya ke bantal untuk menahan suara tangisnya. Ia nampak begitu memilukan. Saya sendiri sebetulnya tak tega juga. Tapi saya tak bermaksud menghiburnya, karena terus terang saya tak paham situasi dan kondisi si Nenek tersebut. Iya kalau si Nenek tersebut menangis karena kesakitan, kalau menangisnya karena gagal “memperkosa” saya..? Ihh..! Dalam hati, saya juga menyumpah-nyumpah tak keruan. Masa pengalaman pertama naik sleeping train di Eropa adalah diperkosa nenek-nenek..?Jadi, akhirnya saya cuek saja – dan mencoba tidur kembali. Sebelum saya terlelap, saya lihat si Nenek keluar kompartemen sambil membawa tasnya. Dan samar-samar saya dengar dari atas kompartemen suara gerendel kunci diputar. Mungkin pasangan Jerman tersebut juga terganggu dengan ulah si nenek, lalu mengunci pintunya supaya si nenek tak bisa masuk lagi. Ah, bodo amat..!! Saya pun terlelap kembali.

Ketika pagi hari kereta merapat ke Malmo, saya bersama penumpang lain bergegas keluar kompartemen. Malmo adalah kota kecil di wilayah Denmark yang terletak di antara Stockholm (Swedia) dan Kopenhagen (Denmark). Semua kereta yang berasal dari Eropa Daratan memang selalu transit di Malmo dan penumpangnya harus menyambung dengan kereta lain di Malmo menuju kota-kota besar di Skandinavia seperti Stockholm, Kopenhagen, Gotheburg, Oslo, Helsinki, dan lain-lain. Saya melangkah pelan sambil membawa barang-barang saya karena saya harus berpindah pada kereta lain menuju Stockholm. Di ujung gerbong yang saya tempati, di dekat toilet, si Nenek nampak duduk bersimpuh dengan mata terpejam. Wajahnya pias. Rambutnya kusut terburai. Jaket kulitnya terserak. Dan dari mulutnya tercium bau alkohol yang sangat menyengat.

Sesaat saya ingin menanyakan keadaannya. Tapi, saya batalkan niat itu dan segera berlalu.

Ada episode yang harus saya tinggal di belakang – dan tidak dilihat-lihat kembali.

Berlin & Kisah Masa Lalu

The City Light Festival @Berliner Dom

Sudah lepas maghrib ketika mobil yang saya tumpangi ini berhenti untuk ke sekian kali pada hari ini. Erwin, sahabat saya yang cekatan mengendarai mobilnya, segera mengajak saya turun. Sejak saya tiba di Berlin Hauptbahnhof dua jam lalu, saya sudah singgah di sekitar Landsberger makan kebab (karena saya nggak sempat makan siang di kereta), mampir ke apartemen Erwin (tempat saya menginap selama empat hari ke depan) di kawasan Gartenstrasse sambil meletakkan koper dan barang2 saya, lalu mengelilingi kota Berlin. Erwin tak henti-hentinya menjelaskan apa-apa yang ada di hadapan kami; mulai dari Deutscher Bundestag (gedung parlemen Jerman), Berliner Dom (katedral Berlin), gedung opera Berlin Philharmonic, Brandenburg Gate, dan beberapa tempat lain – ia mampu memuaskan rasa ingin tahu saya dan menjawab semua pertanyaan saya dengan sangat lancar. Maklum saja, sudah sebelas tahun ia menempuh studi di Berlin – sejak lulus SMU dulu. Dan kini, ia menghentikan mobilnya di tepi sebuah jalan besar, tanpa mengatakan apa-apa, ia mengajak saya turun. Dalam hati, saya bertanya-tanya, ini tempat apaan..? Saya berdiri di trotoar panjang, di sebelah kanan saya  hanya ada tembok panjang penuh coretan graffiti dan di sebelah kiri saya nampak sebuah gedung bertingkat mirip sebuah pusat perbelanjaan.

Kita mau ke mana, Win..?” tanya saya.

Ikuti saya saja dulu. Yuk..!” ajaknya sambil melangkah menyusuri trotoar. Tanpa berkata apa-apa.

Tiba-tiba ia berhenti di sebuah gerbang yang memisahkan tembok panjang penuh graffiti tadi. Gerbang tersebut adalah pintu masuk ke sebuah taman di tepi sungai. Tapi Erwin tidak melangkah masuk ke taman. Ia berhenti di gerbang, lalu menatap wajah saya.

Mas, kita sudah sampai di Berlin East Side Gallery. Mas Sony tahu gallery apa ini..?

Saya terdiam, dan menggelengkan kepala saya. Tempat ini jauh dari kesan gallery – taman kota, tepi sungai, tembok penuh coretan.

Ini adalah gallery – atau tempat kumpulan karya seni. Karya seni yang dikumpulkan di sini adalah coretan-coretan graffiti yang ada di tembok panjang ini. East Side Gallery ini adalah gallery seni ruang terbuka yang terbesar di dunia. Semua karya graffiti yang terlukis di tembok ini adalah hasil karya seniman-seniman dari berbagai negara untuk memperingati salah satu hari kebebasan terbesar di dunia.”

Saya masih berusaha mencerna kata-katanya, ketika ia berkata lagi,”Mas Sony, tembok ini adalah sisa sisa peninggalan Tembok Berlin.”

Dan saya pun tersentak luar biasa.

Saya perhatikan kembali tempat itu. The Berlin Wall East Side Gallery adalah sisa-sisa peninggalan Tembok Berlin di sisi Berlin Timur (yang dahulu dikenal sebagai Jerman Timur) yang berwujud dua buah tembok yang berdiri paralel di tepi Sungai Spree di Muhlenstrasse. Tembok yang masih berdiri tersebut panjangnya 1,3km dan di sisi luarnya penuh dengan coretan graffiti.  Ada lebih dari 100 karya graffiti yang terpajang di tembok itu, hasil karya seniman-seniman dari banyak negara yang dilukis pada akhir tahun 1990. Lukisan-lukisan graffiti tersebut bertema sama, yaitu kebebasan Jerman.

 

The Berlin Wall East Side Gallery

 

Ketika saya melangkah masuk gerbang, melewati tembok pertama dan bermaksud melewati tembok kedua untuk mendekati sungai, Erwin menahan lengan saya. Kami jadi berdiri di antara dua tembok panjang yang berdiri paralel – membelakangi jalan raya dan menghadap Sungai Spree. Lalu ia menjelaskan bahwa saat ini kami berdiri di tempat yang dahulunya menjadi kawasan No Man’s Land. Tembok yang ada di belakang kami berdiri – yang dulunya berdiri memanjang di sekeliling kota Berlin – menjadi pembatas wilayah Berlin Timur, dan tembok yang ada di depan kami – yang aslinya juga berdiri mengelilingi kota Berlin di sisi dalam, menjadi pembatas wilayah Berlin Barat (yang dulunya dikenal dengan negara Jerman Barat). Dan tanah yang ada di antara dua tembok pemisah inilah yang menjadi saksi sejarah kelam masa lalu kota Berlin – di mana banyak warga yang ditembak mati di tempat karena ingin menerobos masuk ke Berlin Timur dari Berlin Barat, atau sebaliknya, tanpa melalui prosedur keamanan yang ditetapkan. Dan dalam suasana temaram malam itu, entah mengapa, saya sedikit emosional dan terhanyut suasana yang memang terasa agak depresif.

 

The Berlin Wall East Side Gallery by the Spree River

 

Suasana muram juga sangat terasa di peninggalan tembok Berlin yang lain yang kami kunjungi berikutnya; yaitu di The Berlin Wall Memorial di kawasan Bernauer Strasse. Di sini, terdapat puing-puing asli dari reruntuhan Tembok Berlin yang masih tertanam dan melekat dengan fondasi bangunan di dalam tanah. Di sini, disajikan pula berbagai diorama dan banyak papan informasi yang menjelaskan banyak kisah tragis romantis pada masa-masa saat tembok itu masih berdiri. Ada beberapa rekaman siaran radio dari tahun 1960an tentang berbagai macam kejadian tragis di sekitar tembok perbatasan tersebut. Namun yang paling memilukan bagi saya adalah keberadaan sebuah tembok yang memanjang searah Tembok Berlin yang di dinding tembok itu dipajang foto-foto warga Berlin Barat dan Berlin Timur yang tewas ditembak di wilayah tembok perbatasan tersebut; dan di tiap-tiap foto disediakan sedikit ruang yang rupa-rupanya digunakan oleh para kerabat korban tersebut untuk mengenang kepergian mereka – dengan seikat bunga, secarik kertas berisikan ungkapan duka, bahkan sebuah permen lollipop yang diletakkan di foto seorang gadis kecil. Tanpa terasa, saya menitikkan air mata membaca setiap kertas ucapan duka pada foto-foto itu.

 

The Berlin Wall Memorial

 

Saya tak pernah membayangkan bahwa kunjungan saya ke Berlin akan begitu berkesan. Setelah dari East Side Gallery dan The Berlin Wall Memorial, saya masih mengunjungi beberapa tempat lagi yang masih merupakan sisa-sisa peninggalan Tembok Berlin. Misalnya, Check Point Charlie – yaitu pos perbatasan Berlin Barat dan Berlin Timur – di mana warga di Barat harus menyodorkan paspor mereka kalau ingin masuk ke Timur, dan begitu pula sebaliknya. Persis kalau kita pergi ke luar negeri. Dan di situ saya tahu bahwa meskipun sisa-sisa Tembok Berlin hanya ada di dua tempat yang saya kunjungi sebelumnya, namun Pemerintah Jerman melarang warganya untuk menghapuskan sisa-sisa Tembok Berlin yang lain, meskipun temboknya sudah diruntuhkan. Bagaimana caranya..? Sisa-sisa Tembok Berlin, baik yang di sisi Timur maupun Barat, yang sudah dirobohkan harus tetap dibuat tetenger-nya. Jadi, rumah atau bangunan di Berlin yang kebetulan bertempat di titik di mana dulu menjadi wilayah tembok perbatasan memiliki lantai yang berbeda warna – agar bisa dibedakan mana tanah yang dulunya termasuk wilayah tembok perbatasan dan mana tanah yang dulunya masuk ke wilayah Berlin Barat atau Berlin Timur. Para pelaku industri wisata pun banyak yang cerdik memanfaatkan fenomena Tembok Berlin untuk menarik wisatawan; ada yang membangun replika Tembok Berlin dan menjual puing-puingnya (tentu saja, nggak asli) di kawasan Potsdamer Platz, atau ada pula yang membuka stand di Branderberg Gate berpura-pura menjadi petugas perbatasan yang memberikan stempel visa masuk Berlin Barat di paspor kita. Intinya, sejarah itu kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan rakyat Berlin di masa modern – sekaligus juga menjadi daya tarik wisatawan mancanegara untuk berkunjung.

Dan melihat begitu seriusnya Pemerintah Jerman merawat dan sekaligus mengeksploitasi sejarah mereka untuk kemudian ditawarkan kepada para wisatawan sebagai daya tarik wisata, saya jadi merenung. Kenapa negara kita yang kaya akan cerita sejarah masa lalu malah tidak mampu mengemas dan menawarkan peninggalan sejarah Indonesia untuk tujuan wisata dengan cara dan kemasan sehebat Berlin ya..?

Saya dan Light Packing

Bag1

Meskipun saya senang sekali jalan-jalan, ada juga hal yang tidak saya sukai tentang jalan-jalan. Bagian yang paling menyebalkan bagi saya adalah ketika saya harus mengeluarkan sebagian isi lemari dan menatanya ke dalam koper saya itu. Yup, saya paling benci packing..! Dan bukan cuma itu saja, yang jauh lebih menyebalkan lagi bagi saya adalah duduk menghadap koper – saat badan masih terasa lelah sepulang dari jalan-jalan – dan harus membongkar kembali baju-baju dan isi koper lainnya, memilah-milahnya mana yang harus saya cuci dan mana yang masih bersih, lalu menata semuanya supaya kamar kembali rapi seperti ketika sebelum jalan-jalan. Entah mengapa, untuk melakukan kedua hal ini, saya selalu membutuhkan waktu yang cukup panjang. Misalnya, untuk sebuah perjalanan dua hari dua malam ke Jakarta saja, saya butuh waktu tiga hari untuk memutuskan barang apa saja yang akan saya bawa. Dan pulangnya, untuk membongkar tas saya butuh minimal seminggu sebelum koper benar-benar kosong. Rasanya berat sekali untuk memulai packing dan unpacking, ada saja yang membuat saya menunda-nunda melakukannya.

Selain masalah malas packing dan unpacking, hal lain yang menyebalkan adalah saya juga tak pernah bisa melakukan light packing. Bayangkan saja, untuk perjalanan ke Jakarta atau Yogyakarta selama dua hari dua malam saja, saya pasti membawa satu buah ransel berisi laptop dan buku bacaan dan satu buah koper ukuran 22 yang tidak bisa dibawa masuk ke kabin.

Isinya?

Kemeja formal paling sedikit tiga potong, dua t-shirt, selembar sarung, satu tas kecil toiletries, seperangkat pakaian dalam dan kaos kaki, sepasang sandal, dan entah apa lagi. Banyak kan? Padahal, biasanya dari isi pakaian satu koper yang saya bawa, paling-paling yang terpakai hanya separuhnya, sisanya tak sempat terpakai. Terakhir kali saya berkunjung ke Kuala Lumpur, saya membawa satu ransel berisi laptop dan beberapa buku dengan bobot hampir 10kg, satu buah suite bag berisi satu buah blazer, tas kamera, tripod, dan satu koper berisi beberapa lembar pakaian dan lain-lain yang beratnya hampir 20kg. Saya sudah berusaha mengurangi muatan saya tersebut, mengeluarkan sebagian lalu memasukkannya kembali, begitu terus berulang-ulang – sampai akhirnya saya menyerah dan merelakan diri membawa beban sebanyak itu untuk perjalanan satu minggu ke Kuala Lumpur.

Jangan tanyakan bagaimana saya membawa semua tas itu sejak keluar dari LCCT Kuala Lumpur, naik shuttle bus ke Terminal Bis KL Sentral, lalu pindah masuk Komuter dan kemudian berjalan kaki dari Stasiun Komuter ke tempat penginapan yang sudah saya booking. Mana ribet bahu dan tangan kanan kiri penuh bawaan, bawaannya pun berat karena total bobotnya hampir 30kg, tak ayal lagi keringat saya bercucuran sambil naik turun tangga stasiun kereta di tengah kondisi kota Kuala Lumpur yang cukup panas.

Kalau bepergian ke Kuala Lumpur seminggu saja bawaan saya sudah begitu heboh, bisa kan membayangkan betapa pusingnya saya ketika saya akan berangkat jalan-jalan ke Eropa selama satu bulan..? Saya berangkat dan mendarat di Belanda dengan barang bawaan di kabin mencapai 10 kg dan bagasi 30kg; terdiri dari satu tas ransel berisi laptop dan kamera DSLR, satu tas tripod, satu tas koper, dan satu tas duffle.

Mengapa kok begitu berat..?

Satu, karena saya memang tidak suka mengenakan baju yang sama berulang-ulang, sedangkan di sisi lain saya nggak terlalu suka mencuci baju di tengah perjalanan. Dua, karena saya datang ketika musim gugur sudah hampir berakhir dan musim dingin akan tiba – jadi, persediaan baju yang saya bawa pun saya tambah dua kali lipat sebagai senjata melawan dingin. Sweater saja saya bawa empat plus satu jaket wol overcoat yang tebal, syal bawa tujuh, pakaian dalam saya bawa dua puluh, dan kemeja serta kaos-kaos saya bawa total dua puluh lima potong..! Dan beban 40kg itulah yang aku bawa naik turun kereta Eurail keliling Eropa, naik turun trem dari stasiun kereta utama di Paris, Berlin, Zurich, Milan, Stockholm, Vienna, dan lain-lain ke tempat penginapan di kota-kota tersebut.

Berat..?

Nggak usah ditanya..!

Dan apakah pakaian yang saya bawa akhirnya saya kenakan semuanya..? Hehehe, nggak juga… Banyak yang menganggap saya edan melakukannya, tapi yah gimana lagi, saya memang tak bisa light packing. Akhirnya, pada hari terakhir di setiap kota yang saya kunjungi di Eropa, saya selalu mengirim pulang sebagian baju kotor saya melalui paket pos. Tapi, anehnya, berat bagasi saya tidak banyak berubah..! Dan saat saya berjalan-jalan ke London selama sepuluh hari bersama dua orang sahabat saya, mereka sangat keheranan melihat saya – dengan bawaan dua koper besar – dan setiap malam sebelum tidur, saya harus berjuang melakukan unpacking dan repacking agar baju-baju dan barang-barang belanjaan saya pada hari itu tetap bisa masuk ke dalam kedua koper besar tersebut.

Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kekaguman saya pada teman-teman backpackers. Mereka bisa saja bepergian selama dua tiga hari dengan barang bawaan yang cukup dimuat dalam satu tas ransel ukuran sedang. Entah bagaimana caranya mereka menghitung jumlah pakaian yang perlu mereka bawa, dan entah pula bagaimana caranya mereka bisa “mengelola” pakaian mereka hingga yang dibawa dalam satu tas ransel yang tidak terlalu besar ukurannya itu ternyata cukup untuk dikenakan selama jalan-jalan tujuh hari lamanya. Ada yang pakaiannya digulung kecil-kecil. Ada yang bawa pakaian hanya tiga lembar dan cuci-kering-pakai. Ada juga yang berbetah-betah mengenakan baju yang sama selama dua hari berturut-turut untuk menghemat baju.

Ketidakmampuan untuk melakukan light packing inilah yang akhirnya menyebabkan saya merasa bahwa saya nggak akan pernah bisa melakukan perjalanan backpacking. Lha gimana mau backpacking kalau pergi ke Solo Yogya dua malam saja saya bawa DUA TAS berisi setumpuk pakaian dan laptop..!! Tapi, terus terang, entah bagaimana saya menikmati lho perjalanan saya yang selalu ditemani dengan seperangkat besar tas. Karena itulah, saya jadi tidak ambil pusing lagi meskipun saya tidak pernah bisa bepergian ala backpackers. Bagi saya, yang namanya jalan-jalan itu yang penting ya saya bisa menikmati perjalanannya – apakah saya bepergian ala backpacker atau tidak itu adalah sesuatu yang (bagi saya) sama sekali nggak penting. Jadi, kalau memang saya nggak pernah bisa nyaman bepergian hanya dengan satu tas ransel besar, dan harus membawa koper besar berisi sekian banyak pakaian, ya saya nggak akan memaksakan diri untuk bepergian ala backpacker. Jangan-jangan, sepanjang perjalanan saya malah stress hanya karena kurang bawa baju ganti..!