Bermalam di Airport Skavsta

Gamla Stan (Old Town); Stockholm

Sejak awal keberangkatan ke Eropa, saya memang sudah bertekad untuk berhemat sebisa mungkin. Bagi saya, ini agak sulit karena saya termasuk orang yang senang menikmati perjalanan dengan nyaman. Tidak masalah tinggal di backpacker hostel, tapi sebisa mungkin saya pilih menginap di private room, bukan di dorm berbagi dengan orang lain yang tidak saya kenal – meskipun tidur di dorm memang murah banget. Tidak masalah harus bepergian dengan budget airlines, tapi saya selalu mengeluarkan uang lebih untuk memilih hot seat, membeli bagasi, dan tentu saja membeli makanan di atas pesawat. Untuk makan selama berpetualang pun, saya tak pernah mau makan sembarangan dengan membeli di sembarang food hawkers. Kalau kepepet, menu paket McDonalds atau Burger Kings menjadi pilihan default saya. Itulah sebabnya saya jadi terhenyak ketika saya menyadari bahwa kemungkinan besar saya harus menginap di bandara Skavsta di Stockholm, Swedia – untuk melanjutkan perjalanan ke Paris.

Waduh, gimana ya..?

Pesawat yang akan membawa saya ke Paris berangkat pukul 07.15 pagi – dan seperti halnya budget airline lainnya, Ryan Air terkenal sebagai airline yang sangat rewel kepada pelanggan mereka yang bermasalah. Jadi, saya nggak mau datang terlambat ke airport. Nah, masalahnya adalah di Stockholm, saya menumpang di rumah seorang teman baik saya di kawasan Duvbo. Dari Duvbo, perjalanan ke airport Skavsta harus ditempuh dengan subway (kereta bawah tanah) selama 20 menit lalu disambung dengan airport shuttle bus dari pusat kota Stockholm dengan waktu tempuh 1 jam 15 menit. Dan, subway paling pagi berangkat pukul 5 pagi (datang tiap 15 menit) sedangkan shuttle bus paling pagi berangkat pukul 6. Jadi, meskipun saya berangkat dengan menggunakan kereta atau shuttle bus paling pagi, saya tetap akan terlambat datang ke airport. Naik taksi..? Bisa ratusan Euro perjalanan dari Stockholm ke Skavsta..! Edan..! Ogah banget ngeluarin duit segitu banyak hanya buat taksi. Stockholm bukanlah kota yang murah; apalagi untuk membeli kenyamanan seperti taksi. Jadi, sepertinya naik shuttle bus terakhir pukul 8 malam lalu menginap di airport adalah satu-satunya alternatif yang masuk akal supaya saya terhindar dari masalah.

Di Stockholm, ada tiga bandara yang aktif digunakan; yaitu bandara utama Arlanda, bandara khusus budget airline Skavsta dengan tujuan ke negara-negara Eropa daratan (Inggris, Prancis, Jerman, dan lain-lain), dan bandara khusus budget airline Bromma yang melayani penerbangan ke negara-negara Skandinavia dan Eropa Utara (Denmark, Norwegia, Finlandia, Islandia, dan sebagian Rusia). Perjalanan ke Skavsta memang cukup lama karena seperti halnya di Kuala Lumpur, London, atau Paris, airport untuk budget airline selalu terletak di lokasi yang cukup jauh dari pusat kota. Sesampai di Skavsta, dari pandangan pertama saja saya menyadari bahwa bandara untuk budget airline di sini jauh berbeda dibandingkan bandara LCCT di Kuala Lumpur atau bandara Stansted di London. Di dua bandara tersebut, meskipun judulnya bandara khusus untuk budget airline fasilitasnya cukup lengkap. Ada beberapa kios, outlet makanan, kafe, dan lain-lain. Di Skavsta sini, bangunannya saja seperti gudang perkakas tukang. Sama sekali tidak indah. Hanya ada dua outlet yang menawarkan makanan dan minuman. Ukuran outlet-nya pun sangat mungil. Tidak ada fasilitas atau toko lainnya yang bisa dieksplorasi sembari menunggu boarding.

Pelan-pelan mata saya mulai menjelajah bagian dalam airport tersebut. Bangunannya benar-benar sempit. Begitu masuk, langsung berhadapan dengan enam counter check-in – yang tidak luas. Di sekitarnya, terdapat beberapa counter penyewaan mobil (yang saat itu sudah tutup) serta toilet. Di bagian dalam airport, ada area kafetaria yang juga tidak luas – hanya ada satu counter makanan dan satu counter minuman. Sudah – nggak ada yang lain! Buset, dah..!

Sempat bertanya-tanya lagi pada diri sendiri, yakin nih, mau nginep di sini..? Teringat kalau tadi saya lihat ada hotel transit di seberang airport ini, terpikir juga, apa saya lebih baik menginap saja di hotel itu ya..? Saya coba mencari informasi di website hotel tersebut melalui fasilitas Internet gratisan yang ada di sudut airport – ternyata tarif menginap per kamarnya juga sekitar 100 Euro semalam. Buset..! Demi tidur yang hanya empat lima jam, saya harus buang duit 100 Euro..? Cuih..! Ogah..!

Jadi, mau tidak mau, kalau mau menginap di airport ya harus tidur di kursi kafetaria, atau berbaring di lantai di antara kursi-kursi kafetaria. Berbaring di area check-in jelas tidak mungkin, bisa-bisa diusir satpam. Nah, masalahnya (lagi), adalah saat itu belum nampak ada orang lain yang  kelihatan berniat menginap di airport tersebut. Jadi, saya juga nggak berani langsung pasang aksi menggelar tas jadi bantal dan takut pula buru-buru berangkat tidur. Ada sih, beberapa orang yang baru saja datang – dan langsung duduk di kursi kafetaria tersebut – memesan secangkir kopi lalu ngobrol. Setelah beberapa saat mengamati situasi, saya pun ikut memesan secangkir coklat hangat dan sepotong sandwich. Saya baru teringat kalau saya belum makan malam. Saya coba menikmatinya perlahan-lahan sekali, biar nggak cepat habis, siapa tahu orang-orang yang sedang menikmati kopi itu sebenarnya juga hendak menginap di airport ini – dan bukan sedang menunggu keluarga mereka yang akan datang. Nah, kalau mereka menunjukkan tanda-tanda mulai berangkat tidur, baru deh saya ikut-ikut berangkat..! Jadi kan saya ada teman sesama numpang tidur di airport. Dan, ternyata cara itu memang jitu. Setengah jam kemudian, beberapa orang lain datang di kafetaria – dan perlahan-lahan mulai menunjukkan gejala-gejala untuk “berangkat”. Mengatur kursi kafetaria, misalnya. Atau menata letak ransel dan tas lainnya. Bahkan satu dua orang sudah mulai berbaring, lalu tidur. Dan, demi melihat pemandangan itu pun, langsung saja saya bergerak cepat. Pilih posisi kursi, atur letaknya, ubah letak kopor dan tas, lalu mencoba posisi berbaring yang enak. Tak lama kemudian, saya pun sudah bersiap tinggal landas ke alam mimpi.

Sambil merasakan dinginnya lantai airport Skavsta – dan menantikan terpejamnya mata ini, saya merenung. Saya teringat pada beberapa teman di sebuah Facebook Group – yang seringkali menyatakan betapa asyiknya bila selama traveling kita tidak menginap di hostel atau hotel, melainkan menikmati malam dengan tidur di SPBU, atau di masjid, atau di menumpang di kantor polisi. Memang sih, saya bukanlah seorang backpacker – seperti teman-teman yang hobi menginap di SPBU, atau numpang di masjid, atau meringkuk di kantor polisi – tapi terus terang, saya nggak bisa deh membayangkan alasan teman-teman yang melakukan itu. Saya memang melihat bahwa sekarang ini, cukup banyak para backpackers yang juga ikut menginap di airport seperti saya. Tapi, saya yakin, itu mereka lakukan bukan karena mereka ingin, tapi karena memang situasinya yang memaksa. Selama sepuluh hari ini saya berjalan dari Amsterdam ke Brusel lanjut ke Luxemburg lalu ke Berlin dan Stockholm, semua petualang backpackers tinggal di hostel, bukan mengemper di jalan atau di kantor polisi. Ada juga sih yang tidur di stasiun kereta atau di airport, tapi ya itu tadi, karena memang dipaksa oleh situasi – yaitu jadwal kereta atau pesawat yang tidak bersahabat.

Ah, tapi bodo amat deh..!

Mau tidur di kantor polisi kek, tidur di SPBU kek, atau numpang masjid, terserah aja. Bagi saya, yang namanya tidur – apalagi dalam perjalanan seperti itu – kalau sampai nggak nyaman, malah repot. Tidur nggak berkualitas, istirahat kurang, stamina jadi lebih mudah terganggu. Bisa-bisa justru perjalanan saya yang berantakan kalau sampai sakit. Rugi banget. Ya, nggak..?

Advertisements

Saya dan Light Packing

Bag1

Meskipun saya senang sekali jalan-jalan, ada juga hal yang tidak saya sukai tentang jalan-jalan. Bagian yang paling menyebalkan bagi saya adalah ketika saya harus mengeluarkan sebagian isi lemari dan menatanya ke dalam koper saya itu. Yup, saya paling benci packing..! Dan bukan cuma itu saja, yang jauh lebih menyebalkan lagi bagi saya adalah duduk menghadap koper – saat badan masih terasa lelah sepulang dari jalan-jalan – dan harus membongkar kembali baju-baju dan isi koper lainnya, memilah-milahnya mana yang harus saya cuci dan mana yang masih bersih, lalu menata semuanya supaya kamar kembali rapi seperti ketika sebelum jalan-jalan. Entah mengapa, untuk melakukan kedua hal ini, saya selalu membutuhkan waktu yang cukup panjang. Misalnya, untuk sebuah perjalanan dua hari dua malam ke Jakarta saja, saya butuh waktu tiga hari untuk memutuskan barang apa saja yang akan saya bawa. Dan pulangnya, untuk membongkar tas saya butuh minimal seminggu sebelum koper benar-benar kosong. Rasanya berat sekali untuk memulai packing dan unpacking, ada saja yang membuat saya menunda-nunda melakukannya.

Selain masalah malas packing dan unpacking, hal lain yang menyebalkan adalah saya juga tak pernah bisa melakukan light packing. Bayangkan saja, untuk perjalanan ke Jakarta atau Yogyakarta selama dua hari dua malam saja, saya pasti membawa satu buah ransel berisi laptop dan buku bacaan dan satu buah koper ukuran 22 yang tidak bisa dibawa masuk ke kabin.

Isinya?

Kemeja formal paling sedikit tiga potong, dua t-shirt, selembar sarung, satu tas kecil toiletries, seperangkat pakaian dalam dan kaos kaki, sepasang sandal, dan entah apa lagi. Banyak kan? Padahal, biasanya dari isi pakaian satu koper yang saya bawa, paling-paling yang terpakai hanya separuhnya, sisanya tak sempat terpakai. Terakhir kali saya berkunjung ke Kuala Lumpur, saya membawa satu ransel berisi laptop dan beberapa buku dengan bobot hampir 10kg, satu buah suite bag berisi satu buah blazer, tas kamera, tripod, dan satu koper berisi beberapa lembar pakaian dan lain-lain yang beratnya hampir 20kg. Saya sudah berusaha mengurangi muatan saya tersebut, mengeluarkan sebagian lalu memasukkannya kembali, begitu terus berulang-ulang – sampai akhirnya saya menyerah dan merelakan diri membawa beban sebanyak itu untuk perjalanan satu minggu ke Kuala Lumpur.

Jangan tanyakan bagaimana saya membawa semua tas itu sejak keluar dari LCCT Kuala Lumpur, naik shuttle bus ke Terminal Bis KL Sentral, lalu pindah masuk Komuter dan kemudian berjalan kaki dari Stasiun Komuter ke tempat penginapan yang sudah saya booking. Mana ribet bahu dan tangan kanan kiri penuh bawaan, bawaannya pun berat karena total bobotnya hampir 30kg, tak ayal lagi keringat saya bercucuran sambil naik turun tangga stasiun kereta di tengah kondisi kota Kuala Lumpur yang cukup panas.

Kalau bepergian ke Kuala Lumpur seminggu saja bawaan saya sudah begitu heboh, bisa kan membayangkan betapa pusingnya saya ketika saya akan berangkat jalan-jalan ke Eropa selama satu bulan..? Saya berangkat dan mendarat di Belanda dengan barang bawaan di kabin mencapai 10 kg dan bagasi 30kg; terdiri dari satu tas ransel berisi laptop dan kamera DSLR, satu tas tripod, satu tas koper, dan satu tas duffle.

Mengapa kok begitu berat..?

Satu, karena saya memang tidak suka mengenakan baju yang sama berulang-ulang, sedangkan di sisi lain saya nggak terlalu suka mencuci baju di tengah perjalanan. Dua, karena saya datang ketika musim gugur sudah hampir berakhir dan musim dingin akan tiba – jadi, persediaan baju yang saya bawa pun saya tambah dua kali lipat sebagai senjata melawan dingin. Sweater saja saya bawa empat plus satu jaket wol overcoat yang tebal, syal bawa tujuh, pakaian dalam saya bawa dua puluh, dan kemeja serta kaos-kaos saya bawa total dua puluh lima potong..! Dan beban 40kg itulah yang aku bawa naik turun kereta Eurail keliling Eropa, naik turun trem dari stasiun kereta utama di Paris, Berlin, Zurich, Milan, Stockholm, Vienna, dan lain-lain ke tempat penginapan di kota-kota tersebut.

Berat..?

Nggak usah ditanya..!

Dan apakah pakaian yang saya bawa akhirnya saya kenakan semuanya..? Hehehe, nggak juga… Banyak yang menganggap saya edan melakukannya, tapi yah gimana lagi, saya memang tak bisa light packing. Akhirnya, pada hari terakhir di setiap kota yang saya kunjungi di Eropa, saya selalu mengirim pulang sebagian baju kotor saya melalui paket pos. Tapi, anehnya, berat bagasi saya tidak banyak berubah..! Dan saat saya berjalan-jalan ke London selama sepuluh hari bersama dua orang sahabat saya, mereka sangat keheranan melihat saya – dengan bawaan dua koper besar – dan setiap malam sebelum tidur, saya harus berjuang melakukan unpacking dan repacking agar baju-baju dan barang-barang belanjaan saya pada hari itu tetap bisa masuk ke dalam kedua koper besar tersebut.

Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kekaguman saya pada teman-teman backpackers. Mereka bisa saja bepergian selama dua tiga hari dengan barang bawaan yang cukup dimuat dalam satu tas ransel ukuran sedang. Entah bagaimana caranya mereka menghitung jumlah pakaian yang perlu mereka bawa, dan entah pula bagaimana caranya mereka bisa “mengelola” pakaian mereka hingga yang dibawa dalam satu tas ransel yang tidak terlalu besar ukurannya itu ternyata cukup untuk dikenakan selama jalan-jalan tujuh hari lamanya. Ada yang pakaiannya digulung kecil-kecil. Ada yang bawa pakaian hanya tiga lembar dan cuci-kering-pakai. Ada juga yang berbetah-betah mengenakan baju yang sama selama dua hari berturut-turut untuk menghemat baju.

Ketidakmampuan untuk melakukan light packing inilah yang akhirnya menyebabkan saya merasa bahwa saya nggak akan pernah bisa melakukan perjalanan backpacking. Lha gimana mau backpacking kalau pergi ke Solo Yogya dua malam saja saya bawa DUA TAS berisi setumpuk pakaian dan laptop..!! Tapi, terus terang, entah bagaimana saya menikmati lho perjalanan saya yang selalu ditemani dengan seperangkat besar tas. Karena itulah, saya jadi tidak ambil pusing lagi meskipun saya tidak pernah bisa bepergian ala backpackers. Bagi saya, yang namanya jalan-jalan itu yang penting ya saya bisa menikmati perjalanannya – apakah saya bepergian ala backpacker atau tidak itu adalah sesuatu yang (bagi saya) sama sekali nggak penting. Jadi, kalau memang saya nggak pernah bisa nyaman bepergian hanya dengan satu tas ransel besar, dan harus membawa koper besar berisi sekian banyak pakaian, ya saya nggak akan memaksakan diri untuk bepergian ala backpacker. Jangan-jangan, sepanjang perjalanan saya malah stress hanya karena kurang bawa baju ganti..!