Serambi

Sony Kusumasondjaja

 

Saya suka sekali berjalan-jalan. Rasanya menyenangkan kalau saya bisa mendatangi tempat-tempat baru yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, lalu menikmati dan memahami bagaimana nadi kehidupan di sana berdenyut. Tempat baru itu bisa saja berupa kota besar di Eropa yang menawarkan pemandangan megapolitan yang serba glamor, namun bisa juga berupa sebuah kota pedesaan kecil di pinggir sebuah negara bagian di Australia yang begitu sunyi.

Nah, semasa saya masih tinggal di Sydney dan Perth, long weekend itu berarti saya bersama-sama teman-teman dekat akan melancong seharian di sebuah dermaga kecil yang tenang dan cantik atau ke pantai laguna yang belum terlalu dikenal orang, dan di situ kami akan berfoto-foto, piknik dan makan-makan, melakukan berbagai macam permainan, atau sekedar ngobrol dan bercanda-canda. Terkadang kami menginap di backpacker hostel di kota kecil terdekat, berbagi kamar untuk beramai-ramai. Intinya, banyak sekali cara untuk menikmati liburan – meskipun sekedar dihabiskan bersama di sebuah kota kecil yang jauh dari hingar bingar metropolitan.

Bagaimana cara saya merencanakan jalan-jalan? Saya pernah dua kali melancong dengan menggunakan layanan biro perjalanan wisata. Sekali ke Kuala Lumpur dan sekali ke Singapore. Saat itu, saya bepergian mengikuti acara gathering kantor bersama sekitar 40 orang rekan kerja yang kebanyakan wanita, berusia di atas 40 tahun, dan sama sekali belum pernah ke luar negeri. Dengan alasan kepraktisan dan mengurangi risiko salah pesan atau salah booking, maka biro perjalanan wisata dilibatkan untuk acara ini. Memang, dengan memanfaatkan layanan biro perjalanan, sebagai peserta saya cukup tahu beres dan mengikuti apapun yang telah diatur oleh pemimpin perjalanan (tour leader). Saya tidak perlu memikirkan menginap di hotel apa, bagaimana memperoleh tiket pesawat, kapan waktunya berangkat, kapan waktunya makan, makan di mana, bagaimana transportasi selama di kota tujuan wisata, dan lain-lain. Tapi toh, dengan segala kenyamanan yang ditawarkan biro perjalanan wisata, saya toh tak mampu menikmati perjalanan dengan optimal. Misalnya, saya sangat tidak suka ketika tour leader kami di Malaysia mengarahkan kami untuk berhenti selama satu jam di Petaling Street pada pukul 8 malam – mau ngapain coba? Mau beli oleh-oleh khas Malaysia di situ tidak terlalu banyak pilihan, mau belanja barang-barang lain kualitasnya masih lebih bagus barang-barang di Indonesia, areanya juga tidak terlalu menawan, lalu mau ngapain berhenti satu jam di situ..?

Di Singapore pun, saya langsung mati gaya ketika sang tour leader mengarahkan kami semua untuk menghabiskan waktu seharian di Universal Studios – mengapa..? Karena seminggu sebelumnya, saya sudah masuk dan sudah mencoba sebagian besar wahana di dalamnya. Sensasi kejutannya yang saya rasakan seminggu sebelumnya masih belum hilang dari ingatan. Dan, toh, saya nggak terlalu menikmati wahana-wahana di dalamnya. Bagi saya, Universal tuh menarik – tapi biasa saja. Tidak terlalu mengesankan. Lha, kalau sudah begitu, ngapain saya masuk lagi?

Belum lagi masalah makan. Bepergian bersama rombongan, saya jadi tak leluasa mencicipi makanan khas tempat yang saya kunjungi karena harus menyesuaikan juga dengan selera anggota rombongan. Saya nggak bisa menikmati masakan Penang ketika melancong bersama ke Kuala Lumpur karena ada anggota rombongan yang nggak bisa memakan makanan pedas. Saya nggak bisa menikmati lezatnya seafood di Singapore karena sebagian anggota rombongan agak paranoid pada kolesterol. Ah pokoknya repot deh! Karena itulah, kalau tidak sangat terpaksa (karena diperintahkan kantor, misalnya), saya lebih suka merancang dan mengatur sendiri perjalanan saya dan sebisa mungkin tidak melibatkan biro perjalanan. Biar bisa lebih bebas dan merdeka, kan!

Kebiasaan saya merancang dan mengatur sendiri perjalanan saya ini ternyata memberikan kepuasan tersendiri buat saya. Saya jadi lebih leluasa mengeksplorasi tempat mana saja yang saya kunjungi, saya jadi bisa lebih menikmati kunjungan saya di tempat-tempat tersebut, dan akhirnya, perjalanan saya jadi lebih memorable. Lebih mengesankan. Rupanya, banyak teman-teman saya yang ikut mengamati kebiasaan saya itu – sehingga lama kelamaan, saya juga dimintai tolong untuk mengatur rencana perjalanan teman-teman saya tersebut. Tentu saja, saya selalu membantu mereka sebisa mungkin – rasanya, kalau menyusun itinerary – meskipun itu bukan untuk perjalanan saya sendiri – rasanya menyenangkan sekali..!

Nah, atas dorongan beberapa teman baik – saya kemudian berpikir untuk menuangkan semua yang saya tahu dan yang pernah saya alami dalam bentuk tertulis. Supaya lebih banyak lagi orang yang bisa memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman saya ini, itu niat utamanya. Niat lainnya sih, untuk saya sendiri sebenarnya – menuliskan kembali pengalaman-pengalaman saya yang lucu dan (terkadang) ajaib itu bisa memunculkan kembali nostalgia ketika saya mengalami semua hal itu dan membuat saya seringkali tersenyum-senyum sambil ngakak-ngakak sendirian, lho..! Jadi, dengan dua niat “mulia” tersebut, maka saya luncurkan blog ini dengan harapan bisa bermanfaat buat banyak orang. Yah, paling tidak, bisa ikut tersenyum atau tertawa di atas kesialan-kesialan saya saat traveling, kan..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s