Kisah Sebuah Asbak

Berkali-kali berkunjung ke Bali, saya belum pernah menginap di hotel ini. Sebenarnya eksterior hotelnya bagus (saya pernah menginap di hotel yang sama di cabangnya di Kuta), karyawannya juga terlihat sangat fresh dengan seragam berwarna oranye segar, dan lokasinya yang sangat dekat ke airport – termasuk hotel yang paling dekat dengan airport – benar-benar strategis. Namun, lokasi tersebut membuatnya agak jauh dari pusat keramaian dan tempat wisata di Kuta atau Legian. Restoran pun tidak banyak pilihan.

Saat itu adalah saat pertama saya menginap di hotel tersebut. Bukan pilihan saya sih. Saat itu saya datang ke Bali sebagai salah satu juri sebuah lomba antar distributor tingkat nasional yang diadakan sebuah perusahaan rokok ternama di Indonesia. Jadi, yang memilih hotelnya staf perusahaan yang ikut menemani saya di Bali. Mungkin karena kedekatan lokasi hotel dengan airport. Rute perjalanan yang panjang sejak dari Lombok serta banyaknya outlet distributor yang harus kami datangi di pelosok Bali membuat kami semua sudah sangat kelelahan malam itu. Baru jam 10 malam waktu Bali, tetapi rasanya mata ini sudah sangat lengket dan ingin buru-buru masuk tempat tidur. Besok kami harus check-out dan ke airport pagi-pagi untuk melanjutkan perjalanan ke area berikutnya.

Setelah proses check-in yang cepat, kunci kamar pun dibagi-bagi untuk anggota rombongan; tiga orang juri nasional, tiga orang tim dokumentasi lapangan, dan satu orang pimpinan rombongan yang juga regional sales manager perusahaan rokok tersebut. Saya memperoleh kamar untuk diri saya sendiri, sebuah kamar yang bersih dan cukup luas dengan double-bed yang nyaman. Puas dengan kamar yang saya tempati, saya segera mandi, berganti pakaian, menikmati secangkir teh hangat, dan langsung tidur. Esok paginya, setelah sholat shubuh dan morning call berbunyi, saya langsung mandi dan segera keluar kamar langsung dengan membawa tas ransel saya untuk bergabung dengan tim di restoran hotel yang sedang menikmati sarapan.

Setelah menyelesaikan sarapan, kami pun segera menuju meja resepsionis untuk menyelesaikan pembayaran. Saya sendiri tidak terlalu mempedulikan suasana saat itu karena sibuk mengirimkan sms untuk beberapa teman. Saya baru menoleh ketika Bayu, pimpinan rombongan, bertanya pada saya “Apa benar Pak Sony bawa asbak hotel..?”

“Asbak apaan..?” tanya saya nggak paham.

Bayu mengangkat bahunya, tak paham. Ia menuding ke petugas resepsionis.

“Begini, Pak, kalau Bapak berkenan membawa asbak hotel yang tersedia di kamar Bapak, kami nggak keberatan, tetapi ada charge untuk itu,” ucap si resepsionis.

“Asbak hotel yang mana..? Maksudnya apa ini..?” tanya saya lagi.

“Begini pak, tim housekeeping yang mengecek kamar Bapak melaporkan kalau asbak hotel yang tersedia di kamar Bapak kok tidak ada lagi. Jadi, dugaan kami, Bapak menginginkannya untuk cindera mata. Karena itu kami bebankan charge tambahan di tagihan kamar.”

“Anda mau bilang kalau saya mencuri asbak hotel..?” tanya saya mulai panas. Emosi naik.

Image

Petugas resepsionis mulai gugup. Bayu menenangkan saya dan mengatakan kalau charge tambahan itu akan ia bayar.

“Nggak bisa gitu, mas Bayu. Bukan masalah uang pengganti asbak siapa yang bayar. Nggak minta diganti juga saya nggak terima kalau dituduh mencuri. Saya nggak mau disangka nyolong. Nyolong asbak, lagi..! Lha wong, saya ngerokok aja enggak,” tukas saya marah.

“Iyya…pp..pak… tapi, petugas housekeeping…..” petugas resepsionis itu mencoba menjelaskan, tapi langsung saya potong dengan marah.

“Anda masih mengira saya nyolong..?” tanya saya. Saya lemparkan tas ransel saya – satu-satunya barang bawaan saya – ke atas meja resepsionis. “Bongkar tas saya! Kalau Anda bisa menemukan satu saja asbak di situ, saya bayar 10x harga asbak yang hilang itu..”

Saya berkacak pinggang. Marah. Jengkel. Saya nggak peduli beberapa tamu yang hendak masuk atau keluar tempat sarapan menoleh pada saya.

“Ayo, bongkar..! Saya minta bukti kalau Anda menuduh saya nyolong. Buktikan..! Jangan Cuma menuduh tanpa ada bukti. Ayo, bongkar..! Atau mau saya yang membongkar..?” tanya saya tanpa mengurangi nada suara saya yang tinggi.

Dengan cepat, saya bongkar semua barang yang ada di dalam tas ransel. Tiga potong kemeja, beberapa pakaian dalam, buku bacaan, dan beberapa barang kecil lainnya. Saya pastikan tas ransel saya benar-benar kosong. Dan tentu saja tak ada asbak.

“Sudah..? Puas..? Mana asbaknya..? Mau periksa saku celana saya juga..? Perlu saya buka celana di sini..? Atau kita ke toilet biar Anda bisa puas memeriksa apa ada asbak di baju atau celana saya..?” tanya saya sinis. Sewot banget nih.

Si resepsionis bertambah gugup. Wajah cantiknya merah padam.

“Maaf, ya pak. Kami hanya menjalankan tugas….,” katanya mulai terbata-bata.

“Menjalankan tugas harusnya juga pakai otak, dong. Emang manajer hotel ini menugaskan Anda menuduh tamu sembarangan..?” tukas saya lagi.

“Iya, maaf pak. Kami berbuat itu kan berdasarkan laporan dari bagian housekeeping.”

“Ya, bodo amat. Yang menuduh saya nyolong dan membebankan charge tambahan kan Anda, bukan housekeeping. Nggak usah cari kambing hitam. Mestinya sebelum menuduh saya, Anda cek dulu apakah benar bahwa di kamar saya memang ada asbak ketika saya masuk kamar. Dari tadi malam, nggak ada asbak di kamar saya, saya malah senang karena saya kira kamar itu non-smoking room. Tahunya, malah saya dikira nyolong asbak. Coba deh, introspeksi dulu, jangan-jangan justru orang-orang housekeeping yang nyolong asbaknya lalu dibebankan ke tamu,” saya mengomel panjang lebar.

Bayu menyentuh lengan saya dan member isyarat menunjuk arlojinya.

“Udah, yuk Pak. Kita berangkat. Nanti terlambat check-in malah panjang urusannya,” ujarnya pelan.

Saya mendengus jengkel.

Paling tidak suka kalau permasalahan harus terhenti karena situasi yang memaksa seperti ini. Kalau saya teruskan, bisa-bisa kami terlambat check-in di airport. Tapi, saya nggak bisa terima dengan situasi yang menggantung begini. Saya nggak nyolong apa-apa dari hotel, tapi resepsionis – atas laporan housekeeping – langsung saja membebankan biaya ekstra ke tagihan kamar meskipun mereka tak bisa membuktikan kalau saya memang mengambil barang itu. Siapa yang bisa menjamin bahwa pada saat tamu masuk ke dalam kamar, semua perlengkapan hotel sudah tersedia lengkap dan tidak diembat sendiri oleh karyawan hotelnya. Dan sekarang, saya harus meninggalkan hotel ini saat semuanya masih belum selesai.

Ini kejadian paling memalukan dan menyebalkan dalam hidup saya. Saya sudah berusaha mengontak hotel itu untuk meminta klarifikasi, tapi tidak ada respon. Ya sudah, saya anggap kejadian itu sebagai bagian yang tak menyenangkan dalam sejarah dan saya terus melanjutkan hidup. Lalu apakah saya lupakan kejadian itu..? Ya nggak mungkin lah. Saya selalu ceritakan kejadian itu kepada semua teman di setiap kelas yang saya ajar. Bahkan saya selalu minta kepada semua Panitia yang mengajak saya terlibat dalam acara apapun untuk tidak memberi saya akomodasi di jaringan hotel itu, baik di cabang hotel itu di Tuban di mana tragedi asbak terjadi, maupun di cabang lain hotel yang sama di Kuta, Legian, Sunset Road, atau di kota-kota lain di Indonesia. Supaya tidak ada orang lain yang bernasib sama seperti sama, dituduh nyolong asbak.

Catatan Kusam tentang Bali

Bali

Setiap kali saya hendak berangkat ke Perth atau pulang ke Surabaya, sebisa mungkin saya menggunakan penerbangan via Bali. Sampai saat ini, saya belum merasa bosan untuk mengeksplorasi Bali – entah hanya sekedar menyusuri pantai Kuta sampai ke Legian, atau menyempatkan diri untuk menjelajahi pasar adat di Kuta, Tuban, atau Legian sekedar untuk memastikan bahwa kaos-kaos yang dijual di sana gambarnya masih belum berubah sejak belasan tahun yang lalu, atau mengeksplorasi mall untuk mencari perhiasan yang eksotis titipan teman-teman. Banyak lah!

Pada kesempatan kali ini, saya memutuskan untuk menjelajah kawasan Seminyak. Sudah lama kawasan Seminyak ini berkembang menjadi kawasan wisata untuk turis asing, namun belum sekalipun saya menjelajahinya. Karena itu saya putuskan untuk menghabiskan waktu di sana. Di sepanjang jalan Basangkasa Seminyak, bertebaran outlet busana pria dan wanita yang koleksinya tidak pasaran – karena nampaknya koleksinya merupakan hasil rancangan disainer lokal dan mancanegara. Baju-baju wanita yang lucu dan unik, kemeja pria yang elegan, sepatu-sepatu yang bagus… Wah, macam-macam! Menyenangkan juga melewatkan waktu dengan berjalan tanpa arah seperti itu sampai saatnya saya merasa harus menuju ke kawasan Kuta untuk menyaksikan sunset di pantai Kuta. Saya pun menghentikan sebuah taksi yang lewat di depan saya – dan entah kenapa saat itu saya mau saja memilih taksi yang bukan Blue Bird di Bali. Ternyata sopir taksinya adalah seorang Bali asli yang suka bercakap-cakap. Dia sesekali menjelaskan hal-hal menarik di sepanjang jalan Legian yang membuat saya mau tak mau memuji kemampuannya berinteraksi dengan pelanggannya. Ketika saya menunjukkan tempat di mana saya ingin berhenti, sepintas saya lihat argo menunjukkan angka Rp 34.500. Namun entah kenapa, saya mengeluarkan tujuh lembar uang 50 ribuan – yang artinya saya bayar sopir taksi itu sejumlah 350.000. Untunglah sebelum si sopir taksi itu memasukkan lembaran uang berwarna biru itu ke dalam saku bajunya, saya berseru padanya,”Eeeh, maaf pak, kayaknya saya ngasih duitnya kebanyakan deh..”

Di luar dugaan, si sopir malah bertanya pada saya,”Kebanyakan gimana pak..? Kan sudah betul..”

Saya terperanjat.

Lha memang tagihan argonya berapa sih..? Kan 34.500…” ujar saya sambil menuding ke arah argo. Dan semakin terkejut saya melihat angka di argometer sudah dihapus – kosong tanpa angka apapun…! Saya pun langsung paham bahwa saya harus berhati-hati. Menghapus angka argo saat penumpang masih berada di dalam taksi bukanlah kebiasaan sopir taksi yang baik.

Bukan pak, argonya 345.000 – jadi kalo Bapak bayar 350.000 kan udah benar…” sanggah si sopir.

Ah, yang bener aja pak…!!” tukas saya masih mencoba bersabar, walau emosi sudah mulai tumbuh. “Masa dari Seminyak ke Kuta ongkosnya 345.000 – jalannya juga lancar dan gak macet. Nggak masuk akal..!! Mestinya 50ribu aja gak sampai deh…”

Demi Tuhan, Pak, argonya tadi 345.000….. Sayang sekali angkanya sudah saya hapus…”

Melihat sikap si sopir taksi yang sudah jelas kelihatan ingin berbuat curang, saya pun langsung bersikap tegas. “Pak, gimana kalo Bapak simpan saja Tuhan Bapak itu di dompet atau di bagasi belakang..?? Bapak kira saya nggak tahu Bali..?? Dari airport ke Sanur aja – yang jaraknya dua kali lipat Seminyak – Kuta – ongkosnya paling mahal 120 ribu, mana mungkin Seminyak – Kuta bisa 345.000. Lebih mahal dari ongkos sewa mobil Avanza 24 jam keliling Bali…?“ bantah saya. Dan ketika saya lihat ia mulai membuka mulutnya kembali, sebelum ia sempat membantah lagi saya melanjutkan ucapan saya dengan perkataan yang lebih garang,”Sekarang gini aja, kalau Bapak tetap berkeras bahwa ongkosnya memang 345.000 ayo kita kembali saja ke Seminyak ke tempat di mana saya naik tadi – kalo memang ongkosnya memang benar segitu, saya kasih Bapak 345 ribu kali 2 – 690 ribu…!! Tapi kalo benar ongkosnya nggak sampai 50ribu seperti dugaan saya, saya nggak akan bayar taksi Bapak sama sekali..!! Kalau Bapak nggak mau juga, sekarang ini saya nggak akan turun dulu dari taksi, lalu saya telepon Customer Service taksi ini, saya adukan masalahnya biar petugasnya bicara langsung sama Bapak…. Nah, Bapak mau pilih yang mana..?

Dia diam saja. Mungkin dia baru sadar kalau dia telah menembak mangsa yang salah.

Saya minta uang saya kembali – dan begitu dia mengulurkan uang itu perlahan-lahan, segera saya rebut dan saya sodorkan uang 50ribuan kepadanya. Saya pun langsung meminta kembalian 15ribu. Dan ketika ia berkilah bahwa ia nggak punya uang kembalian – saya pun langsung menukas dengan galak “Nggak usah bohong pak, itu kelihatan dari sini di saku kemeja Bapak ada gulungan uang 10ribuan..” Sebenarnya saya cuma asal bicara saja, tapi toh ia mengeluarkan juga dari saku kemejanya segulungan uang kertas – dan menyerahkan pada saya uang kembalian Rp 15ribu. Langsung saja, saya keluar – membanting pintu taksi dan segera berjalan menjauhi taksi dengan perasaan jengkel.

Siapa sih yang nggak merasa jengkel kalau tahu bahwa kita baru saja ditipu oleh seseorang – meskipun usaha penipuan itu berhasil digagalkan. Kejadian ini memperparah penilaian saya pada bagaimana para pelaku industri pariwisata di Bali – terutama para frontliners-nya – bersikap dan berperilaku terhadap wisatawan – terutama wisatawan domestik. Sebelumnya, saya pernah diusir seorang sopir bemo di Sanur hanya karena si sopir ingin mengangkut dua orang penumpang bule yang hendak bepergian ke arah yang berlawanan dengan arah tujuan bemo yang sesungguhnya. Belum lagi puluhan kejadian di mana saya merasakan perbedaan kualitas layanan para resepsionis atau petugas hotel lainnya ketika melayani saya (atau tamu-tamu domestik di sekitar saya) dan melayani tamu-tamu bule. Pendeknya, turis berkulit sawo matang atau turis yang mampu berbicara dengan bahasa Indonesia yang fasih merupakan tamu kelas ekonomi bagi para kebanyakan pelaku industri wisata di Bali. Sedangkan turis yang mampu berbahasa Inggris dengan lancar dan fasih, apalagi mereka-mereka yang berkulit putih, berambut pirang, bermata biru – wah, mereka semua adalah warga kelas eksekutif yang wajib didahulukan pelayanannya. Mungkin karena mereka merasa bahwa wisatawan asing itu lebih mudah dibohongi dibandingkan wisatawan domestik.

Ada juga seorang teman yang mengunjungi Bali bersama rekan-rekan sekantornya – dan menyewa mobil beserta sopir. Kontrak sewa mobil itu disepakati dengan harga tertentu untuk masa sewa 24 jam. Tapi, ketika mereka mengunjungi Sanur dan hendak berpindah tujuan ke Ubud, mereka tak bisa menemukan mobil beserta sopirnya tersebut di tempat parkir semula, padahal beberapa barang masih berada di dalam mobil. Hampir dua jam mereka harus menunggu sebelum si sopir itu datang bersama mobilnya. Ketika ditegur, si sopir yang aksen dan logat bicaranya khas Bali enteng saja menjawab bahwa ia ada janji mengantar sekumpulan turis asing ke Nusa Dua. Ia tak peduli dengan kejengkelan pelanggannya – ia baru agak marah ketika rombongannya turun di Kuta dan mengatakan bahwa kontrak sewa mereka batalkan karena kelakuan si sopir tadi, dan mereka hanya membayar untuk masa sewa 3jam saja.

Ibu kan sewa saya dari jam 9 tadi pagi, sekarang kan sudah jam 2 siang – masa saya cuma dikasih uang sewa 3jam saja..?”

Bapak lupa ya, kalo tadi kami itu harus nunggu Bapak 2 jam – mau pindah ke tempat lain nggak bisa. Padahal mobil sama Bapak itu sudah kami sewa 24 jam – jadi aturannya kalau Bapak atau mobil mau ke mana-mana ya harus ngomong sama kami dulu. Jadi, karena sekarang udah hampir 5 jam, dipotong waktu nunggu 2 jam, saya bayar aja Bapak untuk 3 jam. Sekarang Bapak terserah, mau nganter bule mana aja, mau ke mana aja. Kalo ntar pas kami butuh, Bapak masih di sini, ya kami pake lagi. Kalo enggak ada, ya kami bisa sewa mobil lainnya.”

Untunglah di antara rombongan, ada beberapa rekan yang berbadan kekar dan berambut cepak yang mendampingi sang teman ketika berbicara dengan sopir itu. Sehingga ia tak berani berbuat banyak selain mengomel panjang pendek.

Seorang teman yang pernah mengunjungi Bali bersama suami dan anak-anaknya juga pernah mengalami kejadian yang tidak enak ketika ia akan memasuki sebuah restoran khas masakan Bali yang jelas untuk kalangan premium. Begitu masuk dan dipersilakan duduk, sapaan pertama yang diperoleh teman saya tadi bukanlah ucapan selamat datang atau sapaan hangat lainnya, tetapi “Maaf, bu, pak, jangan kaget ya, semua menu makanan di sini harganya mahal-mahal lho…!!” ucap si pelayan sambil menyerahkan buku daftar menu. Si ibu dan keluarganya kebetulan berasal dari keluarga kaya – hanya saja mereka menanggung suratan takdir yang menetapkannya memiliki kulit layaknya sawo terlalu matang. Saking terkejutnya, si ibu langsung menghardik pelayan tersebut “Heh, kamu itu pelayan restoran mahal kok ngomongnya kampungan..!! Jangan khawatir kalo hanya dipake buat makan di sini, tiap hari saya juga sanggup…” Setelah mengajukan komplain kepada manajer restoran tersebut, mereka pun keluar dan membatalkan untuk makan di tempat itu. Entah apa saja yang diajarkan pengusaha resto di Bali kepada karyawan mereka, tapi yang jelas kasus di atas tidak hanya terjadi satu dua kali atau menimpa hanya satu dua orang saja.

Di kesempatan lain, seorang teman yang berkesempatan untuk pergi ke Bali sebelum Bom Bali 1 dibuat jengkel oleh para penjaja kaos di Pasar Adat Kuta yang terletak di dekat Kuta Square dan Pantai Kuta. Ketika ia masuk ke salah satu kios, ibu-ibu pemilik kios acuh tak acuh padanya, ditanya harga atau warna lain pun jawabannya tidak menyenangkan. Tak lama kemudian sepasang turis bule masuk ke kiosnya, dan si ibu itu langsung bangkit dari duduknya, menghambur ke arah si turis bule, merayu-rayunya untuk membeli ini-itu, menyodorkan warna-warna lain untuk setiap produk yang ia tawarkan. Sedangkan temanku yang sudah sejak tadi meminta perhatian si ibu penjual tidak sedikitpun ditoleh atau dihiraukan. Kesal dan jengkel, teman saya pun keluar dan memutuskan untuk membeli oleh-oleh di Matahari Kuta Square.

Sudah sangat banyak kejadian yang tidak menyenangkan dialami oleh para wisatawan domestik ketika mereka menghabiskan liburan di Bali. Dan kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan tersebut dilakukan oleh para pelaku industri wisata di Bali dengan profesi yang berbeda-beda – para petugas di airport, karyawan hotel, sopir taksi, penjual souvenir khas Bali, tukang ojek, waiter restoran, bahkan tukang pijat refleksi yang bertebaran di seluruh penjuru Bali. Dan entah bagaimana penjelasannya, pada pengalaman saya dan teman-teman saya sendiri, SEMUA kejadian yang tidak menyenangkan itu mereka alami ketika berurusan dengan pelaku industri wisata yang merupakan orang-orang asli Bali dan bukan orang-orang pendatang dari Jawa atau Lombok. Saya dan teman-teman saya tak pernah mengalami kekecewaan ketika taksi kami dikemudikan oleh sopir dari Jawa, atau ketika waiter restorannya adalah orang Lombok – itu semua kan bisa kita kenali dari logat dan aksen bicara mereka. Entah kenapa.

Saya sangat paham bahwa hal ini tidak bisa kita generalisasikan. Karena perilaku individu dalam hal ini kan bisa sangat berbeda-beda. Masih ada juga orang-orang Bali di pantai, di hotel, sopir taksi, penjual souvenir, atau pekerja wisata lainnya yang mampu bersikap wajar tanpa diskriminasi kepada semua pelanggan mereka. Bersikap sopan, ramah, dan professional tanpa memandang apakah pelanggannya adalah turis domestik atau turis asing. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan selama berwisata di Bali, membuat banyak wisatawan domestik yang kemudian mengalihkan tujuan liburan mereka ke tempat lain.

Apakah Bali membutuhkan Bom Bali 3 atau tragedi sejenisnya untuk membuat pekerja wisata di Bali itu mau lebih sopan dan lebih menghargai para pelancong domestik..? Apakah dua kali terkena imbas Bom Bali, yang sempat membuat industri wisata di Bali menjadi luluh lantak dan terseok-seok, masih belum cukup untuk menyadarkan para pekerja wisata di Bali bahwa mau gimana-gimana juga wisatawan domestik itu akan selalu bisa diharapkan untuk tetap datang ke Bali..? Atau mungkin mereka lupa bahwa selama wisatawan bule itu takut menginjakkan kaki di Bali, mereka bisa bertahan hidup dan perut mereka bisa tetap terisi karena ada wisatawan lokal yang masih mau membeli barang-barang mereka dan menggunakan jasa mereka..??

Ada ucapan yang lugas dan sedikit sarkas dari seorang teman yang sangat mencintai Bali namun juga berkali-kali dibuat marah dan jengkel dengan kecurangan-kecurangan pekerja wisata di Bali.

Bali emang bagus banget, nggak akan pernah membosankan..!! Tapi di sana, apa-apa mahal. Makanan enak yang murah nggak ada, tapi kalo makan di restoran bagus karyawannya pada nggak sopan. Sopir taksinya pada kurang ajar. Sewa mobil juga dicurangi melulu. Kalo ke Bali, kayaknya kita yang turis ini harus ngemis-ngemis minta perhatian dari sopir taksi, dari karyawan hotel, dan lain-lain. Mendingan aku ke Singapore atau ke Bangkok aja. Tiket ke sana nggak terlalu mahal. Hotelnya juga harganya sama dengan hotel-hotel di Bali. Di sana, apa-apa lebih murah dari di Bali. Lebih bagus pula barang-barangnya. Kalo ke Bangkok, kita malah bisa mampir ke Phuket yang pantainya juga bagus kayak di Bali. Udah gitu, mereka lebih menghargai para wisatawan – gak peduli wisatawan Asia atau bule. Sekarang, tiap kali mau liburan yang beneran – bukan liburan singkat ke Yogya atau Bandung – aku lebih pilih ke Singapore atau Bangkok. Atau mungkin Vietnam, di sana juga bagus dan murah. Entar aja aku ke Bali, kalo ada Bom Bali lagi – pas bule-bule pada kabur dan orang-orang di Bali bisa lebih sopan dan lebih menghargai turis domestik.”