A Night with an Old Woman

Berlin Hauptbahnhof

Tepat pukul 22.31, kereta Zug300 itu perlahan-lahan meninggalkan Berlin Hauptbahnhof. Dari balik jendela kereta, saya lambaikan tangan pada Erwin, Ireny, Iko, dan teman-teman yang selama tiga hari ini menyambut kedatangan saya di Berlin dengan penuh kehangatan. Berpisah dengan teman-teman yang saya jumpai di perjalanan selalu memberikan rasa kehilangan tersendiri. Mungkin karena saya tak tahu apakah akan ada pertemuan-pertemuan lain di hari-hari mendatang. Saya mendesah lagi, lalu berbalik melangkah masuk ke kompartemen.

Dalam satu gerbong, ada enam kompartemen. Saya ditempatkan di kompartemen nomor 4 yang berisi enam tempat tidur (dua bunk-bed; masing-masing bertingkat tiga terletak di sebelah kiri dan kanan pintu). Sebenarnya tiket Eurail Pass yang saya miliki memungkinkan saya mengambil pilihan kompartemen kelas satu yang berisi dua tempat tidur – plus kamar mandi dalam. Namun saat reservasi di Berlin beberapa hari sebelumnya, kompartemen kelas satu saat itu sudah penuh. Jadi, terpaksa saya mengambil kompartemen kelas dua atau couchette. Di pintu kompartemen 4, terpasang daftar nama penghuni dan negara asalnya. Nama saya tertulis menempati tempat tidur nomor 36; artinya tempat tidur bawah di sebelah kanan pintu. Menurut daftar tersebut, kompartemen saya akan dihuni oleh empat orang; saya sendiri di kanan bawah, lalu seseorang (namanya sih seperti nama wanita, tapi nggak yakin) di kiri tengah, lalu dua orang Jerman di kiri dan kanan atas. Buru-buru saya masuk kompartemen.

Di dalam kompartemen, dua orang Jerman sudah nangkring di tempat tidur atas. Ternyata mereka sepasang turis backpacker – kayaknya sih, mereka pacaran. Sambil lalu menyapa mereka, saya langsung menatap tempat tidur saya. Dan saya pun terdiam. Melongo. Waduh, bagaimana caranya mengatur barang bawaan saya yang segambreng ini di tempat tidur yang begitu sempit ini…? Tidak banyak tempat tersedia untuk tas koper berukuran besar. Tempat tidurnya pun tidak luas – dan kita pun tidak bisa duduk di sisi tempat tidur karena kepala kita pasti akan terbentur tempat tidur di atas kita. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya koper saya letakkan di sisi tempat tidur, lalu suit bag dan tripod kamera saya gantung di pojok dekat kaki saya, sedangkan ransel dan tas kamera saya letakkan dekat bantal supaya aman.

Couchette (taken from dinkyguide.com)

Kereta ini bertolak menuju Stockholm. Perjalanan dengan kereta malam dari Berlin menuju Stockholm ditempuh dalam waktu hampir 14 jam. Dari Berlin, kereta akan menuju ke Malmo, sebuah kota kecil di Denmark, di mana saya harus berpindah kereta menuju ke Stockholm. Karena perjalanan yang cukup panjang dilakukan di malam hari, kereta ini dikategorikan kereta malam dengan fasilitas tidur (sleeping train). Sleeping train yang dikelola oleh jaringan perusahaan kereta api se-Eropa bernama Eurail ini menawarkan beberapa pilihan kenyamanan. Bagi turis backpacker yang uangnya terbatas, pilihan tidur di reclining seats adalah yang paling bijak karena harganya yang murah. Kursi yang bisa diatur derajat kemiringannya ini hampir sama dengan kursi yang disediakan Perumka di kereta eksekutif – hanya saja, kondisi di sleeping train untuk kelas budget ini justru lebih baik daripada reclining seat di kereta eksekutif Perumka yang seringkali tidak berfungsi. Pilihan lain adalah tidur di couchette train, yaitu kompartemen yang berisi empat atau enam tempat tidur – seperti yang saya tempati. Ini pilihan yang sesuai bagi mereka yang ingin menikmati tidur malam dengan posisi tubuh lurus di atas kasur. Tarif satu tempat tidur di couchette hampir dua kali lipat harga satu reclining seat. Meskipun demikian, beberapa turis backpacker saya lihat mengambil pilihan couchette, mungkin karena mereka ingin menikmati tidur yang agak nyaman agar mereka bisa mengumpulkan tenaga lebih banyak untuk perjalanan mereka besok. Pilihan yang paling bagus adalah kompartemen kelas satu – dengan hanya dua tempat tidur dalam satu kompartemen, dan dilengkapi kamar mandi pribadi di dalam tiap kompartemen.

Pintu kompartemen terbuka. Seorang wanita berusia mendekati 60 tahun masuk ke kompartemen.

Guten abend,” sapanya.

Dandanannya agak menor untuk wanita seusianya. Jaket hangat bercorak kulit harimau membalut kaos hitam ketat yang menutup tubuhnya. Ia tak membawa tas atau koper. Hanya satu tas tangan berukuran besar yang ia bawa. Ia meletakkan tasnya di tempat tidurnya di tengah, lalu duduk di tepi tempat tidur bawah menghadap tempat tidur saya. Parasnya sendiri tak bisa dikatakan cantik. Sama sekali tidak menarik. Bagi saya, keseluruhan penampilan fisiknya mengesankan dirinya adalah seorang wanita tua dari kelas sosial menengah ke bawah yang lelah dan berpenampilan lusuh.

Hallo, wie geht’s euch?” sapa wanita itu kepada saya.

Saya tersenyum kepadanya, dan mengatakan padanya dalam bahasa Inggris bahwa saya tak bisa berbahasa Jerman. Ia lalu mengubah sapaannya dalam bahasa Inggris yang baik, dan saya jawab seperlunya. Saya tak mau terlalu akrab dengan orang yang tidak saya kenal di situasi kereta yang baru saya kenal ini.

Tak lama kemudian, kondektur kereta mengetuk pintu dan membukanya. Ia memeriksa tiket – dan paspor saya – lalu menyerahkan kembali sambil berpesan kepada kami semua. “If you are ready to sleep, please lock the door. Sometimes pickpockets try their luck in this train.” Setelah itu, ia berlalu. Pintu dirapatkan dan saya berinisiatif mengunci pintu. Tidak ada yang keberatan. Pasangan Jerman di atas langsung merebahkan tubuh mereka. Si nenek juga membuka jaketnya, dan bersiap-siap tidur. Saya pun segera berbaring dan langsung terlelap.

Entah berapa lama terlelap dan entah apa pula yang membuat saya terbangun. Yang jelas, tiba-tiba saja saya terjaga. Dan dalam kondisi setengah sadar, saya merasakan betis dan paha saya dipegang-pegang menelusur ke atas. Copet..!! Itu yang pertama terbersit di pikiran saya. Tanpa melihat arah dan tanpa berpikir panjang, langsung saja saya tendangkan kaki saya kuat-kuat ke arah orang tersebut. Orang tersebut terdorong kuat, membentur pintu, dan terjatuh dengan suara benturan yang gaduh. Dan alangkah kagetnya saya melihat bahwa orang yang meraba-raba saya tadi adalah si Nenek..!

Why did you touch me? Did you want to steal my money?” tanya saya dengan suara keras.

Saya lirik, pasangan Jerman di atas melongok dari tempat tidur mereka. Dan sebagaimana halnya orang-orang bule, saya paham mereka takkan mau ikut campur urusan orang lain. Saya sendiri merasa sanggup menghadapi si Nenek ini. Tapi saya merasa perlu bersuara keras supaya mereka di atas itu paham masalahnya.

Si Nenek sendiri berusaha bangkit dari jatuhnya. Dia menggeram mengomel-ngomel dalam bahasa Jerman. Saya menatap tajam matanya sampai dia berbaring kembali di tempat tidurnya. Saya meraba-raba dompet, tripod, travel wallet berisi paspor, serta barang-barang yang saya letakkan di bawah bantal. Setelah saya rasa tidak ada yang hilang, saya pun mencoba memejamkan mata kembali.

Rasanya belum lama saya terlelap ketika saya merasakan kembali badan saya diraba-raba. Betis, paha, lalu naik sedikit…. – dan itulah yang langsung membuat mata saya benar-benar terbuka. Dan, ternyata si Nenek itu lagi yang berulah. Sialan..! Lagi-lagi, aku tendang saja wanita tua itu hingga terjatuh kembali dan terpental tersungkur di pintu kompartemen.

What’s wrong with you..?” bentak saya kepadanya. “You touched my body again..! Do you want to steal my money, or do you want to fu*k with me..? What’s wrong with you..?

Lagi-lagi dua kepala di tempat tidur atas melongok sekejap. Kata-kata saya kasar memang.

Si Nenek itu hanya meracau tak jelas. Ia bangkit dari lantai – dan tangannya menggapai-gapai kembali ke tubuh saya. Saya pun segera mengibas-ngibaskan kaki berusaha melepaskan genggaman tangan si Nenek. Namun karena ia tetap berusaha menggapai tubuh saya, saya segera mendorongnya kembali.

Ma’am, if you dare to touch my body again, I’m afraid I have to hit you harder,” ancam saya dengan bahasa Inggris yang saya ucapkan jelas-jelas. “Do you understand me..? If you touch me again, I will hit you harder.”

Nenek itu kembali menggumamkan kata-kata yang tak jelas. Perlahan-lahan ia menangis terisak-isak. Lalu ia membenamkan wajahnya ke bantal untuk menahan suara tangisnya. Ia nampak begitu memilukan. Saya sendiri sebetulnya tak tega juga. Tapi saya tak bermaksud menghiburnya, karena terus terang saya tak paham situasi dan kondisi si Nenek tersebut. Iya kalau si Nenek tersebut menangis karena kesakitan, kalau menangisnya karena gagal “memperkosa” saya..? Ihh..! Dalam hati, saya juga menyumpah-nyumpah tak keruan. Masa pengalaman pertama naik sleeping train di Eropa adalah diperkosa nenek-nenek..?Jadi, akhirnya saya cuek saja – dan mencoba tidur kembali. Sebelum saya terlelap, saya lihat si Nenek keluar kompartemen sambil membawa tasnya. Dan samar-samar saya dengar dari atas kompartemen suara gerendel kunci diputar. Mungkin pasangan Jerman tersebut juga terganggu dengan ulah si nenek, lalu mengunci pintunya supaya si nenek tak bisa masuk lagi. Ah, bodo amat..!! Saya pun terlelap kembali.

Ketika pagi hari kereta merapat ke Malmo, saya bersama penumpang lain bergegas keluar kompartemen. Malmo adalah kota kecil di wilayah Denmark yang terletak di antara Stockholm (Swedia) dan Kopenhagen (Denmark). Semua kereta yang berasal dari Eropa Daratan memang selalu transit di Malmo dan penumpangnya harus menyambung dengan kereta lain di Malmo menuju kota-kota besar di Skandinavia seperti Stockholm, Kopenhagen, Gotheburg, Oslo, Helsinki, dan lain-lain. Saya melangkah pelan sambil membawa barang-barang saya karena saya harus berpindah pada kereta lain menuju Stockholm. Di ujung gerbong yang saya tempati, di dekat toilet, si Nenek nampak duduk bersimpuh dengan mata terpejam. Wajahnya pias. Rambutnya kusut terburai. Jaket kulitnya terserak. Dan dari mulutnya tercium bau alkohol yang sangat menyengat.

Sesaat saya ingin menanyakan keadaannya. Tapi, saya batalkan niat itu dan segera berlalu.

Ada episode yang harus saya tinggal di belakang – dan tidak dilihat-lihat kembali.

Advertisements

Te We; Bukan yang Terbaik dari Sang Legenda

Te We

Saya sungguh-sungguh terkejut dan sekaligus senang ketika mendapati ada buku baru karya Gol A Gong terpajang di Gramedia. Entah sudah berapa belas tahun saya tak mendapati karya baru penulis idola saya ini sejak menamatkan episode terakhir serial Balada si Roy. Tahu nggak, begitu saya mendapati buku baru Gol A Gong ini, saya langsung terkenang-kenang betapa saya menikmati Balada Si Roy. Betapa kisah anak muda itu begitu kuat menginspirasi saya dan banyak teman-teman saya; terutama tentang persahabatan dan perjuangan hidup. Betapa kuatnya kalimat demi kalimat di serial itu merenggut perhatian saya, membetot dan mengaduk-aduk emosi saya tanpa henti, dan akhirnya di ujung buku saya akan tergantung dengan rasa penasaran akan kelanjutan cerita pada episode selanjutnya. Balada Si Roy adalah bagian indah dari masa remaja saya, dan saya sangat berharap buku baru Gol A Gong ini bisa menyuguhkan nostalgia akan kehebatan Gol A Gong merangkai kata dan mempermainkan emosi pembaca – meskipun saya tahu, isi buku ini bukanlah cerita fiksi.

Buku baru Gol A Gong ini berjudul TE-WE (Travel Writer). Saya nggak terlalu peduli pada sampul depannya yang (buat saya) nggak terlalu menarik. Saya langsung mengawali ritual yang selalu saya lakukan pada setiap buku yang belum pernah saya baca sebelumnya – yaitu membaca halaman endorsement dan kata pengantar penulis. Ada 8 orang endorser yang disajikan di buku ini; 5 orang di antaranya adalah editor dan penulis buku traveling; endorsement Cristian Rahadiansyah and Elok Dyah Messwati muncul di sampul belakang buku, sedangkan komentar dari Yudhinia Venkanteswari (Jalan-Jalan Hemat ke Eropa), Daniel Mahendra (Perjalanan ke Atap Dunia), Andrei Budiman (Travellous) muncul di bagian dalam.

Begitu membaca halaman endorsement, saya jadi keheranan. Benar-benar heran! Betapa tidak, 5 endorser tersebut semuanya memberikan komentar yang bersifat sangat umum dan sama sekali tidak memberikan pujian apapun tentang isi buku. Tidak ada pujian apapun..! Lihat saja endorsement yang muncul di sampul belakang buku (yang seharusnya dipilih endorsement yang paling bagus) justru tertulis komentar amat sangat standar – Elok Dyah Messwati hanya mengatakan bahwa di buku ini Gol A Gong mengajak pembaca untuk mulai menuliskan perjalanannya, dan bahwa di buku ini ada contoh sederhana perjalanan Gol A Gong dan kerja kerasnya memaparkan kisah perjalanannya. That’s it..! Tanpa pujian. Begitu pula dengan Yudhinia Venkanteswari yang memberikan endorsement dalam dua kalimat singkat. “Suka jalan-jalan? Jangan biarkan memori perjalananmu hilang tak berbekas. Di buku ini, Kang Gol A Gong memberi bocoran cara menjadi travel writer, dari membuat blog sampai menulis novel.” Coba perhatikan kalimatnya deh, sama sekali tidak mengandung pujian apapun untuk isi bukunya. Dan karena buku ini karya seorang Gol A Gong – penulis legendaris, fakta sederhana bahwa tidak ada pujian pada komentar para 5 endorser ini benar-benar mengejutkan saya. Orang-orang yang dipilih sang penulis untuk meyakinkan pembaca lain agar tertarik membeli buku ini kok justru sama sekali tidak memberikan pujian apapun tentang isi buku. Wah, saya kok jadi agak waswas ya..?

Pada halaman pengantar buku, Gol A Gong mengatakan bahwa buku TE WE tersebut adalah buku How To – dan misi buku ini adalah untuk membagikan pengalaman kepada calon penulis perjalanan tentang bagaimana dulu Gol A Gong melakukan perjalanan sambil menulis. Nah, sebagai seorang dengan latar belakang marketing, setelah membaca kata pengantar, saya lalu mencoba bertanya pada diri saya sendiri, sebenarnya siapa ya target market yang ingin dituju oleh Gol A Gong dengan bukunya ini..? Kalau target market buku ini adalah mereka-mereka yang dulu membaca karya-karyanya di awal 1990an yang notabene sudah berusia di kisaran 30 tahunan lebih, mereka semua mestinya sudah memiliki pekerjaan masing-masing dan tidak bisa diharapkan untuk berpetualang ala backpacker dan memulai menjadi travel writer, kan ..? Sebaliknya, kalau buku ini ditujukan untuk menyasar mereka-mereka yang saat ini masih aktif berpetualang dan belum memulai karir sebagai travel writer – yang usianya rata-rata berkisar 18-24 tahun; terus terang saya ragu-ragu bahwa mereka mengenal karya-karya Gol A Gong. Dari mana bisa kenal, lha wong di Toko Buku Gramedia saja buku-bukunya Gol A Gong sudah tidak terpajang lagi. Lha kalau para pembaca buku ini (karena masalah perbedaan generasi) tidak mengenal sosok Gol A Gong sebagai seorang travel writer, juga tidak pernah membaca Balada Si Roy,  dan juga tidak pernah membaca karya-karya tulisan perjalanannya, bagaimana mungkin pembaca akan yakin dan percaya akan kisah-kisah, saran-saran, dan tips yang ia sajikan..? Ketidakjelasan itu tak terjawab, dan saya pun mulai membuka dan membaca isi buku ini.

Ketika saya sudah menghabiskan tiga bab dari buku TE WE ini, saya jadi semakin sering mengerutkan dahi. Bukan karena bahasa yang digunakan terlalu sulit untuk saya pahami, tapi karena saya begitu keheranan dengan apa yang saya baca. Begitu banyak pernyataan yang terkesan “jadul” dan tidak sesuai dengan konteks masa kini. Misalnya, buku ini menyatakan bahwa bila kita dianggap sebagai wartawan atau penulis oleh penduduk lokal itu adalah sesuatu yang keren sekali (hal.15) – saya jadi ragu, emang bener begitu ya..? Saya punya banyak teman penulis, dan punya banyak juga teman jurnalis – dan rasanya tidak ada yang merasakan hal itu. Apakah seorang Trinity atau seorang Agustinus Wibowo atau seorang Claudia Kaunang akan mengatakan “I am a travel writer” ketika ditanya oleh penduduk lokal di tempat yang mereka kunjungi, dan lalu mereka merasa diri mereka keren karenanya..? Saya kira, tidak. Apakah seorang Riyani Djangkaru akan mengatakan “I am a backpacker and a journalist as well” kepada para masyarakat lokal dan merasa dirinya keren karenanya..? Saya kok yakin, tidak juga.

Lalu juga, di bagian buku ketika Gol A Gong menceritakan sedang naik bis ke sungai Mekong di perbatasan Myanmar dan ia tiba-tiba minta berhenti di tempat asing yang sama sekali tidak dikenal, lalu para pelancong mancanegara bertanya-tanya kenapa ia mengambil keputusan nekad seperti itu, dan dijawab oleh Gol A Gong “because I am a writer.” Hmmm, bagi saya, ini kok sesuatu yang berlebihan – artifisial dan sedikit cheesy. Apakah karena kita adalah seorang penulis perjalanan (travel writer), kita sebaiknya menempuh rute perjalanan yang sama sekali belum pernah ditempuh orang lain – seperti yang disarankan di beberapa halaman buku ini – dan mengabaikan faktor keamanan ..? Bagi saya ini agak aneh, karena seingat saya, pada saat naik gunung Semeru atau Ijen sekalipun, para pendaki gunung diharuskan untuk mengikuti jalur yang sudah ada, dan tidak dianjurkan untuk menjelajah jalur yang belum pernah dilintasi sebelumnya.

Hal lain lagi yang membingungkan saya adalah, di kata pengantar, buku ini dinyatakan sebagai buku petunjuk How to be a Travel Writer, tapi kenapa isinya lebih dekat dengan How to be a Traveler ya..? Di antara beberapa tips untuk menjadi travel writer, disebutkan di halaman 16: memotret lebih sering daripada turis, betah mengakses Internet di kafe berhotspot gratis, memiliki sikap toleran yang tinggi, senang berkelana sendirian, ramah lingkungan, bisa bergaul dengan siapa saja. Atau tips persiapan yang harus dilakukan oleh travel writer yang tertulis di halaman 24: ransel yang kuat, sleeping bag, sepatu kanvas, rompi yang banyak kantongnya, celana kargo, kamera, jas hujan, dan paspor. Pertanyaan saya, apa hubungannya menjadi penulis dengan menyiapkan sepatu, jas hujan, celana, rompi, dan lain-lain itu..?? Seorang pelancong biasa – yang bukan travel writer – tentu juga akan menyiapkan barang-barang yang sama bila akan bepergian. Pelancong biasa juga suka mencari akses wifi gratisan, nggak harus travel writer. Tips-tips yang disajikan di buku ini hampir seluruhnya tidak relevan dengan how to be a travel writer, mungkin lebih cocok bila ditujukan untuk how to be a traveler. Terus terang, sebagai sebuah buku How To yang seharusnya menyuguhkan banyak tips bagus, dalam hal ini, buku ini sangat mengecewakan saya.

Hal lain yang sangat mengganggu saya adalah bagaimana Gol A Gong menyajikan kisah-kisah dan contoh-contoh pengalaman dalam buku ini. Di halaman pengantar, jelas-jelas tertulis bahwa di buku ini Gol A Gong akan membagikan pengalaman dirinya bagaimana dia dulu melakukan perjalanan sambil menulis. Namun, di buku ini, Gol A Gong menyuguhkan sangat banyak kisah pengalaman orang lain. Terlalu banyak, menurut saya. Kutipan-kutipan dan kisah-kisah pengalaman Agustinus Wibowo, Trinity, dan Teguh Sudarisman amat sangat mendominasi isi buku ini. Belum lagi sederetan nama penulis lain yang juga disebutkan dan ditampilkan untuk memperkuat isi buku. Anehnya, kisah pengalaman pribadi Gol A Gong sendiri yang disajikan adalah kumpulan pengalaman yang ia alami hampir dua puluh tahun lalu, dan justru terkesan hanya sebagai tempelan saja. Apa-apa yang dialami dan dilakukan Gol A Gong yang disajikan di buku justru bukanlah contoh-contoh atau kisah-kisah yang esensial menjadi tulang punggung isi buku ini. Lha, saya jadi heran, kalau dalam setiap bab yang dijadikan contoh utama adalah Agustinus Wibowo, Trinity, dan Teguh Sudarisman, atau yang lain-lain, sebenarnya yang jadi bintang utama di buku ini siapa sih..?

Mengakhiri membaca buku ini membuat saya jadi prihatin. Dan sangat sedih. Gol A Gong adalah penulis idola saya yang pertama – setelah Enid Blyton. Dua penulis inilah yang menemani masa kecil dan masa remaja saya – dan sungguh menyedihkan ketika saya harus membaca karya idola saya dengan sajian yang seperti ini. Dan membayangkan bagaimana para backpackers dan calon-calon travel writer – yang kebanyakan memiliki kemampuan keuangan yang terbatas – harus mengorbankan Rp 35000 untuk membeli buku seperti ini, entah mengapa, saya jadi lebih sedih lagi.

Buku Panduan Perjalanan 2 Jutaan – Sesatkah..?

Travel Guide Books

Sore tadi, saya dikejutkan dengan sedikit “keributan” di timeline Twitter saya. Tiga orang penulis perjalanan (travel writer) yang saya ikuti saling berkicau berbalas-balasan – isi kicauan mereka intinya bersumber pada sebuah posting pada media blog yang mereka anggap isinya menyerang mereka secara membabi buta.

Blog yang mereka resahkan bernama Hifatlobrain (http://www.hifatlobrain.net/p/about.html) – sebuah media yang ditujukan untuk berbagi pengalaman jejalan. Hifatlobrain sendiri mendefinisikan diri mereka sebagai sebuah “institusi travel” (whatever that means :d) dan berbasis di Surabaya. Posting yang mereka bicarakan adalah salah satu blogpost di Hifatlobrain berjudul Dangkal (http://www.hifatlobrain.net/2011/08/dangkal.html). Di tulisan yang cukup pendek itu, sang penulis menyatakan dengan eksplisit bahwa buku-buku panduan perjalanan (travel guide) untuk yang ditujukan untuk pelancong backpackers atau budget travelers itu dangkal, menyesatkan, dan memuakkan. Alasan yang dikemukakan oleh penulis adalah karena buku-buku tersebut (yang biasanya bertajuk Rp 500 Ribu Keliling Singapura, atau Rp 2 Juta Keliling China Selatan dalam 16 Hari, dan yang sejenisnya) tidak memasukkan biaya penginapan dan biaya tak terduga dalam anggaran biaya perjalanan. Si penulis juga menyebutkan bahwa para penulis buku-buku yang dia sebut sebagai buku-buku sesat ini 100% mengandalkan layanan inap gratisan – sehingga mereka bisa menyodorkan anggaran yang (bagi mereka) mustahil itu.

Poin yang disorot dalam postingan blog Hifatlobrain ini memang selalu dianggap poin sesat pada buku-buku panduan budget traveling. Saya sendiri heran, apakah penulis postingan berjudul Dangkal itu memang benar-benar pernah membaca buku-buku panduan travel guide sih..? Kalau memang ia belum pernah membaca buku-buku tersebut, bagaimana mungkin ia bisa melontarkan kritikan..? Dan kalau memang ia sudah pernah membacanya dengan teliti, kok bisa ia menuding bahwa penulis buku-buku panduan budget traveling itu tidak memasukkan biaya penginapan..? Lha wong saya lihat dan saya baca sendiri, buku-buku panduan seperti itu selalu menyajikan informasi tentang biaya penginapan dalam buku-buku mereka. Beberapa para penulis buku perjalanan budget traveling memang menjelaskan bahwa mereka lebih suka menggunakan layanan komunitas backpacker dunia seperti Couchsurfing – yang memang menyediakan social networking untuk para backpacker dengan menyediakan penginapan gratis, dengan syarat-syarat tertentu. Namun, meskipun demikian, penulis buku-buku tersebut selalu menyisipkan informasi tentang anggaran penginapan murah di kota tersebut. Saya jadi berpikir, lha lalu yang disebut-sebut sebagai buku sesat karena tidak menyajikan informasi penginapan dalam anggaran perjalanan itu buku yang mana ya..? Jangan-jangan, kritikannya diucapkan asal bunyi. Coba deh, sebelum melontarkan kritikan pedas dan menyebut buku dengan stempel “sesat”, baca dulu bukunya dengan teliti. Konfirmasilah penulisnya tentang hal-hal yang tidak kita pahami – diskusi tentu akan membuat segala hal yang tidak jelas menjadi lebih mudah dipahami.

Pertanyaannya, pernahkah orang-orang yang sering menuding penulis buku-buku panduan budget traveling sebagai penulis sesat itu melakukan konfirmasi dan mengajak diskusi dengan para penulis tersebut..? Apakah penulis blogpost berjudul Dangkal itu (yang setahu saya juga mengaku sebagai seorang penulis tapi saya belum pernah lihat atau baca tulisan/buku-buku karyanya) juga pernah melakukan diskusi sendiri dengan penulis buku-buku yang ia anggap sesat itu..? Jangan-jangan, ia menganggap “sesat” itu hanya berdasarkan prinsip “kayaknya” atau “katanya orang lain” saja.

Sebenarnya cercaan dan hinaan kepada penulis buku-buku panduan perjalanan beranggaran rendah seperti ini sudah lama adanya. Hal lain yang sering dicerca adalah masalah judul buku. Judul buku-buku panduan tersebut dianggap menipu dan menyesatkan. Memang, judul buku-buku yang dimaksud terkesan bombastis; misalnya Rp 2 Juta Keliling Thailand, Malaysia, dan Singapura, atau Rp 2 Juta Keliling Makau, Hongkong, dan Shenzhen, atau Rp 2 Jutaan Keliling Vietnam dalam 15 Hari, dan sejenisnya. Banyak orang yang menganggap bahwa tidaklah mungkin seseorang bisa bepergian keliling Singapura dalam 3 hari 2 malam dengan biaya Rp 500 ribu, atau melancong keliling China Selatan dalam 16 hari dengan biaya hanya Rp 2 juta (tidak termasuk pesawat), atau berjalan-jalan keliling India dalam 8 hari dengan biaya hanya Rp 3 juta (tidak termasuk pesawat). Padahal, mereka semua lupa bahwa ketika mereka bilang “tidak mungkin” itu mereka menggunakan standar biaya sesuai kebiasaan traveling mereka sendiri, dan tidak mengacu pada standar biaya yang diajukan si penulis buku-buku tersebut.

Buku-buku tersebut jarang memasukkan biaya tiket pesawat dalam perhitungan yang mereka sebut dalam judul. Jadi, perhitungan 2 juta keliling Thailand, Malaysia, dan Singapura itu ya hanya mencakup biaya penginapan, biaya makan, transport darat, dan biaya lain-lain. Saya sudah beberapa kali berjalan-jalan ke luar negeri dengan berbagai gaya traveling, dan bagi saya uang senilai Rp 2 juta untuk perjalanan keliling Thailand, Malaysia, dan Singapura selama 10 hari itu mungkin saja dilakukan – tentu saja, kalau perjalanannya dilakukan dengan gaya Claudia Kaunang; si penulis buku itu. Begitu juga Rp 2 Juta berkeliling Vietnam selama 15 hari, atau perjalanan sejenisnya. Bagi saya, tips dan panduan di buku itu tidaklah menipu. Dan sama sekali tidak menyesatkan. Mengapa? Ya, karena memang anggaran seperti itu memang sangat mungkin dilakukan, tentu saja dengan catatan, gaya perjalanan kita harus meniru cara para penulis buku tersebut melakoni perjalanan mereka. Lah kalau saya – atau orang lain – membutuhkan gaya traveling yang lebih nyaman, butuh hotel yang lebih bagus, butuh alat transportasi dalam kota yang lebih cepat, tentu saja anggaran yang diajukan para penulis tersebut harus disesuaikan. Ketika seseorang selalu menginap di hotel berbintang di tengah kota ketika menginap di luar negeri, ya tentu saja perhitungan anggaran perjalanannya akan berbeda dengan penulis buku budget traveling yang lebih menyarankan untuk menginap di backpacker hostel di kamar dorm yang berisi 4-8 orang dalam satu kamar.

Yang bagi saya agak aneh, orang-orang yang melontarkan cercaan itu kebanyakan justru berasal dari kalangan penulis buku-buku atau artikel perjalanan juga. Meskipun buku-buku yang mereka tulis agak berbeda gaya penulisan. Apa mereka lupa ya, bahwa yang namanya pelancong itu bermacam-macam modelnya. Ada pelancong yang sangat mengutamakan kenyamanan, tapi ada juga yang menghadapi keterbatasan anggaran. Ada pelancong yang suka belanja-belanja, tapi ada yang lebih suka menikmati suasana yang berbeda. Dan, perbedaan-perbedaan itulah yang mendorong munculnya berbagai segmen pelancong dengan kebutuhan dan keinginan yang berbeda-beda. Sederhana saja, kok. Kenapa penjelasan sederhana ini nggak bisa mereka terima, sih..?

Buku-buku tentang traveling itu bermacam-macam jenisnya. Ada buku panduan ala budget traveler yang kita diskusikan di sini, ada juga buku-buku panduan perjalanan tradisional yang bersifat lebih umum (seperti buku-buku terbitan Lonely Planet atau Frommers), ada buku-buku catatan perjalanan (travelogue) yang biasanya lebih sastrawi (seperti Eat, Pray, Love, atau Lupakan Palermo-nya Gama Harjono), dan ada juga buku-buku perjalanan berjenis travel features yang mengupas sisi spesifik sebuah perjalanan (misal, buku traveling legendaris The Naked Traveler karya Trinity, atau sebuah buku terbitan Malaysia berjudul Hotel Tales). Dan tiap jenis buku yang saya sebut itu memiliki target market sendiri-sendiri. Saya ulangi ya, masing-masing jenis buku yang saya sebut di atas memiliki konsumen atau pembaca sendiri-sendiri.

Buku-buku terbitan Lonely Planet, DK, Fodors atau Frommers lebih banyak digunakan oleh pelancong yang ingin mengeksplorasi satu area yang cukup luas dalam waktu yang cukup lama, karena buku-buku ini memuat informasi yang lengkap namun ringkas tentang banyak hal tentang daerah wisata tertentu. Ini hampir sama dengan buku-buku panduan untuk budget traveling yang lebih fokus pada pelancong backpackers. Dua jenis buku ini amat berbeda dengan travelogue atau travel features. Buku-buku travelogue sama sekali bukanlah buku panduan, karena buku ini bercerita tentang satu aspek spesifik tentang sebuah perjalanan. Travelogue lebih banyak disajikan dalam bentuk fiksi dan travel features disuguhkan dengan gaya bahasa yang ringan tapi sangat fokus pada aspek-aspek tertentu saja. Karena itulah dua jenis buku ini lebih banyak dinikmati sebagai teman menghabiskan waktu luang atau sebagai sumber inspirasi sebuah perjalanan – dan tidak digunakan sebagai  panduan atau sumber informasi.

Ketika saya menjelajah Eropa, saya beli dan baca buku-buku terbitan Frommers dan juga buku-buku ala budget travel (seperti Europe on a Shoe String terbitan Lonely Planet) atau buku panduan lain seperti Europe for Dummies. Buku-buku ini saya gunakan untuk memahami bagaimana situasi dan kondisi Eropa – terutama negara-negara dan kota-kota yang saya kunjungi, bagaimana saya bisa menuju ke pusat kota dari stasiun kereta atau dari bandara, bagaimana cuaca di kota-kota tersebut sepanjang tahun, dan apa saja hal-hal kecil tapi penting yang perlu saya perhatikan. Karena buku-buku tersebut juga menyajikan informasi tentang tarif hotel dan hostel paling murah sampai paling mahal, standar makan di food hawkers dan di restoran fast food seperti McDonalds, atau standar tarif transportasi lokal di sana, dan informasi lain tentang biaya dan harga, maka buku-buku tersebut juga sangat bermanfaat bagi saya untuk merancang anggaran perjalanan saya. Di sisi lain, saya juga dengan bergairah membaca buku travelogue Lupakan Palermo-nya Gama Harjono yang benar-benar membangkitkan gairah saya untuk mampir ke Milan dan Venesia; atau buku Negeri Van Oranje karangan Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, dan Rizki Pandu Permana yang membuat saya mengubah itinerary saya, yang tadinya hanya berencana hanya 2 malam di Belanda menjadi menghabiskan 7 malam. Intinya apa, buku-buku travel yang berbeda genre itu dibaca pelancong untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda.

Nah, kalau para penulis travelogue dengan seenaknya mencerca penulis buku-buku panduan untuk budget traveling – dan menyebut buku-buku tersebut sebagai buku sesat, bukankah itu tidak adil..? Mengapa..? Ya, karena buku mereka memang berbeda genre. Hal ini tak ada bedanya seorang musisi jazz menganggap semua musik dangdut itu kampungan, atau artis film-film drama merendahkan semua film-film sci-fi yang mereka anggap tidak memiliki tantangan berakting bagi pemerannya.

Catatan ini hanya sekedar ungkapan “protes” atas ketidakadilan yang dialami teman-teman penulis buku-buku panduan untuk budget traveling – yang notabene lebih banyak dibeli daripada buku-buku karangan para pencerca itu. Saya sendiri sebetulnya tidak terlalu suka melakukan budget traveling – karena saya sangat menyukai kenyamanan – tapi bagi saya, buku-buku panduan untuk budget travel (yang meminjam istilah penulis blogpost di Hifatlobrain berjudul Dahsyat itu, buku ber-genre sekian-juta-keliling-semesta) itu sangat bermanfaat. Bukan hanya bermanfaat bagi pelancong pemula yang masih bingung bahkan untuk sekedar menetapkan tujuan jalan-jalan, namun juga bermanfaat bagi pelancong berpengalaman yang kebetulan belum pernah menjelajah daerah yang dibahas di buku-buku tersebut. Tudingan sesat dan penipuan yang dicetuskan oleh beberapa orang – yang sebagian besar di antaranya adalah penikmat luxurious traveling dan penulis travelogue – adalah tudingan yang bukan hanya arogan, tapi juga tuduhan yang asal bunyi dan salah sasaran (karena mereka bukanlah target market buku perjalanan gaya ini).

Saya hanya ingin bertanya kepada orang-orang – terutama para penulis buku perjalanan (yang bukunya nggak terlalu laris) yang tak henti-hentinya mencerca para penulis yang mereka sebut sebagai penulis buku sesat itu, memangnya sudah berapa banyak buku “bermutu” yang sudah mereka tulis sih..? Dan, apakah semua buku/tulisan mereka memang disukai dan disambut oleh SEMUA ORANG di muka bumi ini..? Pasti tidak, kan..! Kalau memang mereka adalah pelancong sejati, pasti mereka akan paham bahwa para pelancong itu memiliki kebutuhan, keinginan, dan preferensi yang berbeda-beda, dan kita tidak bisa mengatakan bahwa pilihan gaya traveling kita itu lebih baik daripada gaya traveling orang lain. Dan kalau mereka – para pencerca itu – memang seorang penulis yang sejati, penulis yang benar-benar sukses dan rendah hati, maka mereka sama sekali tidak akan merendahkan penulis bergenre lain – yang kebetulan buku-bukunya lebih laris dibandingkan buku-buku mereka sendiri.