Keluhan Membawa Nikmat

Meskipun saya bukan penduduk Jakarta – dan nggak bekerja di Jakarta, saya cukup memahami bahwa kemacetan di jalan-jalan utama di ibukota ini sudah sampai pada level yang bisa membuat siapapun depresi. Karena itulah, setiap kali saya berkunjung ke Jakarta – baik untuk liburan maupun urusan pekerjaan – saya selalu memilih hotel yang berada di sekitar jalan Wahid Hasyim. Dari situ, halte busway sangat mudah dijangkau dan taksi pun mudah didapat. Mau jalan-jalan ke mall, Plaza Indonesia atau Grand Indonesia juga bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Belum lagi kemudahan mencari makan karena di sekitar perempatan Sabang begitu banyak warung dan restoran yang buka sepanjang hari – bahkan beberapa melayani pesanan 24 jam. Apalagi, di jalan itu pilihan hotel sangatlah banyak – dari kelas bintang empat sampai hotel melati – dengan range harga yang sangat bervariasi. Pendeknya, kawasan jalan Wahid Hasyim sangat nyaman bagi saya.

Di antara belasan hotel yang ada di kawasan itu, ada satu hotel yang paling saya sukai dan paling sering saya pilih sebagai tempat menginap bila sedang berada di Jakarta. Hotel bintang empat ini memang sering menjadi tempat penyelenggaraan acara seminar atau pertemuan yang harus saya hadiri – sehingga pada awalnya, saya sering menginap di situ untuk urusan pekerjaan. Selain lokasinya yang sangat strategis, kamarnya pun luas dan nyaman, fasilitas kamarnya cukup bagus, harganya relatif terjangkau bagi saya, dan kualitas makanan baik saat breakfast maupun room service sangat bervariasi dan rasanya lezat; tidak sehambar masakan hotel pada umumnya (bahkan, menurut saya, menu breakfast hotel ini termasuk yang terbaik di antara sekian banyak hotel bintang empat dan lima di Indonesia yang pernah saya tinggali). Karena alasan-alasan itulah, hotel ini selalu menjadi pilihan pertama saya setiap kali datang ke Jakarta, baik untuk liburan maupun urusan pekerjaan. Seperti saat ini, ketika saya harus menghadiri beberapa pertemuan di Jakarta.

Satu kamar superior sudah saya reservasi untuk dua malam; dan ini adalah malam yang kedua ketika saya melangkah masuk ke dalam kamar saya sekitar pukul 10 malam. Rencananya, saya ingin mandi, berganti pakaian, sholat Isya, lalu makan malam (kebetulan saya tadi mampir di rumah makan Padang terkenal di dekat hotel membeli sebungkus nasi), lalu menikmati secangkir teh hangat dan langsung tidur. Besok saya harus check-out pagi-pagi untuk mengejar pesawat kedua ke Surabaya. Begitu lampu kamar menyala, saya melihat ranjang sudah dirapikan, kamar mandi juga sudah dibereskan. Namun, saya terkejut ketika pandangan mata saya terpaku pada meja yang ada di sisi perangkat televisi. Di atas meja itu, yang namanya cangkir-cangkir dan gelas-gelas kotor masih berserakan. Belum dibersihkan. Sampah-sampah kecil – bungkus teh celup yang saya minum pagi tadi dan kemarin malam, plastik segel pembungkus botol air mineral, dan beberapa sampah kecil lain – masih belum dibereskan. Keranjang sampah juga belum dikosongkan. Belum habis rasa heran saya, lagi-lagi saya terkejut ketika saya melihat di atas meja di samping tempat tidur ada dua buah folder berisi berkas-berkas proposal tender proyek sebuah provinsi di Sumatra – jelas-jelas folder itu bukan milik saya. Lha kalau begitu, ini milik siapa dong..? Yang jelas, kalau melihat isi folder-nya jelas bukan milik karyawan housekeeping yang membersihkan kamar saya ini, kan..! Kok bisa masuk dan nongkrong di atas meja di kamar saya..?

Dua hal ini (masalah cangkir gelas kotor dan masalah folder nyasar) membuat saya jengkel luar biasa. Mengapa? Satu, mencuci bersih dua cangkir dan dua gelas bekas minum teh di sebuah kamar hotel itu bukan pekerjaan mudah. Kecuali kalau kita mau mencucinya hanya dengan air keran di wastafel, tanpa sabun. Dan bagi saya, itu jorok. Dua, kamar superior yang saya tempati ini tarifnya sekitar Rp 900ribu semalam – dengan voucher dari biro perjalanan, kalau reservasi langsung ke hotel harga published rate-nya lebih mahal – dan untuk kamar hotel dengan tarif semahal itu, jelas saya nggak mau repot-repot mengurusi gelas dan cangkir kotor. Kebersihan gelas dan cangkir yang tersedia di kamar adalah bagian dari layanan yang saya sudah bayar senilai Rp 900ribu itu. Tiga, keberadaan folder yang nyasar di kamar saya membuat saya jadi berpikir siapa yang sebenarnya meletakkan folder itu ke kamar saya. Apa ada orang lain yang tidak berhak tapi bisa masuk ke kamar saya..? Bukankah ini menjadi masalah keamanan yang serius bagi tamu hotel ini? Karena begitu jengkelnya saat itu, akhirnya saya memutuskan untuk mengirimkan komplain atau keluhan.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa nggak memanggil staf housekeeping ke kamar saja, lalu minta mereka mencuci cangkir-cangkir dan gelas-gelas di kamar..? Hadeuuh, malas ah, belum tentu juga petugasnya cepat datang ke kamar – padahal saya mau lekas tidur. Jangan-jangan malah membuat hati saya jadi makin panas dan membuat saya jadi ngomel-ngomel semalaman. Lebih baik saya cuci saja gelas dan cangkirnya dengan air wastafel – masalah jorok, terpaksa saya tahan dulu saja lah – buru-buru tidur, dan besok pagi baru mengajukan komplain.

Nah, banyak teman yang menganggap saya seorang complainer karena seringnya saya mengeluhkan banyak hal bila saya sedang makan di restoran, menginap di hotel, atau menunggu penerbangan, dan lain-lain. Saya sendiri menganggap diri saya adalah seorang voicer – atau orang yang tidak segan-segan menyampaikan pendapat tentang apa yang ia dirasakan atau dialami, baik itu sesuatu yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. Saya selalu menyempatkan diri mengisi formulir kepuasan pelanggan yang tersedia, baik di kamar hotel, di meja makan restoran, atau yang dibagikan di atas pesawat. Ketika saya merasa bahwa apa yang saya alami menyenangkan, saya selalu memberikan pujian dengan detil serta menyebutkan orang yang saya anggap paling baik layanannya saat itu. Sebaliknya, bila saya mengalami kekecewaaan, ya saya juga tidak segan-segan mengajukan komplain. Seperti saat itu.

Di kamar saya saat itu sih ada formulir kepuasan pelanggan, tapi isiannya terlalu umum. Kurang detil menurut saya. Jadi, saya putuskan untuk mengajukan keluhan saya secara tertulis melalui email. Saya susun keluhan saya tersebut dengan detil. Saya awali dengan penjelasan tentang diri saya (misalnya, nama, pekerjaan, dan tamu tanggal berapa di kamar berapa), dilanjutkan dengan penjelasan secara rinci tentang fakta-fakta yang terjadi. Pada bagian akhir, barulah saya lontarkan apa yang menjadi kekecewaan saya, mengapa hotel jaringan internasional berbintang empat seperti ini bisa-bisanya melakukan kelalaian seperti ini, ataukah memang standar layanan di hotel ini adalah seperti itu, apakah tidak ada orang yang melakukan supervisi atas pekerjaan staf housekeeping. Tak lupa saya sampaikan kekhawatiran saya mengenai isu keamanan karena adanya folder yang tiba-tiba tergeletak di kamar saya. Kata-kata saya semuanya santun, fakta-faktanya terpampang jelas dan runtut, nggak ada caci maki penuh emosi, meski demikian saya yakin bahwa yang membaca tulisan keluhan saya itu paham bahwa penulisnya sedang jengkel dan kecewa. Keluhan tersebut saya tulis dalam bahasa Inggris yang sangat formal – karena memang hotel ini memang hotel jaringan internasional. Setelah siap, saya kirimkan ke email resmi hotel – dan saya segera mengurus check-out.

Setiap kali saya mengajukan komplain, saya nggak pernah berharap apa-apa. Bahkan nggak pernah berharap direspon oleh pihak pengelola. Karena itu, saya sudah merasa senang bila ada jawaban dari pihak pengelola atas komplain meskipun hanya berupa permintaan maaf. Respon seperti itu menunjukkan bahwa keluhan saya sudah dibaca dan diperhatikan. Dua hari berlalu sejak saya check-out dari hotel tersebut, email saya dijawab oleh staf bagian hubungan pelanggan (customer relations). Isi email respon berbahasa Inggris tersebut sangat ringkas, beliau berterima kasih atas kepedulian saya mengirimkan keluhan, lalu meminta maaf atas kekecewaan saya, berharap saya bersedia datang menginap kembali, dan pada bagian akhirnya – the best part of the email, I should say – tertulis “… and you are cordially invited to experience our improvement and personalized care because we genuinely care – two nights in our hotel during the weekend as a complimentary from us – at your most convenience time.”

Wooowww…!! Beneran, nih..?

Saya baca berulang-ulang email itu, dan setiap kali saya baca, hati saya jadi berjumpalitan kesenangan. Benar-benar kejutan..! Voucher menginap gratis selama dua malam akhir pekan yang tanggalnya saya pilih sendiri..! Ini benar-benar respon yang luar biasa, jawaban terbaik yang pernah saya terima dari puluhan komplain yang pernah saya kirimkan..! Buru-buru saya lihat agenda kerja saya, menetapkan tanggal, lalu langsung saya balas email istimewa itu – terus terang saja, kalau menunda-nunda merespon, saya khawatir pihak manajemen nanti berubah pikiran dan nggak jadi memberi saya voucher menginap gratisan. Sayang banget, kan..?

Saat saya akhirnya datang kembali ke hotel itu untuk menikmati hadiah menginap gratis tersebut – dua hari, check-in Jumat check-out Minggu – saya melangkah ke meja resepsionis sambil menyerahkan email dari manajemen hotel. Di email tersebut, disebutkan nama saya, tanggal saya menginap, dan nomor reservasi yang sudah diset oleh staf customer relations yang menghubungi saya. Meja resepsionis masih lengang saat itu, dan petugas resepsionis yang melayani saya dengan cekatan memproses semuanya. Dan ketika kartu elektronik untuk pintu kamar sudah saya terima, saya segera melangkah menuju lift dengan memanggul ransel hitam kesayangan saya. Tas koper yang agak berat dibawakan oleh seorang room boy yang sigap melangkah di samping saya. Di dalam lift, saya bercakap-cakap ringan dengan room boy ini – yang ternyata seorang lulusan S1 yang bersemangat mencari beasiswa S2 ke luar negeri – hingga kami tiba di lantai atas hotel tersebut. Tiba di depan kamar, ia membuka pintu dan melangkah duluan. Saya menyusul masuk di belakangnya.

Dan pandangan pertama ketika masuk ke kamar itu benar-benar membuat saya terhenyak luar biasa. Speechless..! Hampir terlunglai tubuh saya karena begitu kagetnya. Di hadapan saya, saya lihat ruang duduk dengan sofa yang nyaman, karangan bunga di kanan kiri, meja makan dengan beberapa macam buah segar tersaji di atas piring cantik, plus TV berukuran super besar. Itu baru di ruang duduk. Di sebelah kiri ruang duduk, nampak ruangan dapur kering yang dilengkapi dengan peralatan masak sederhana, piring-piring makan, gelas-gelas, kulkas kecil, dan bahkan microwave. Dan ketika si room boy mengajak saya masuk ke ruang sebelah kanan ruang duduk, lagi-lagi saya tercekat. Kaget banget. Susah payah saya menahan emosi supaya keterkejutan saya nggak terlalu nampak di wajah. Malu dong, kalau mas room-boy ini mengira saya ndeso..! Ruang di sebelah kanan ruang duduk adalah ruang tidur – terpisahkan dengan sekat kayu minimalis yang elegan yang bisa dibuka tutup seperti tirai. Sebuah dipan besar, seperangkat coffee table, meja kerja, lemari pakaian, dan TV berukuran super besar (seperti yang ada di ruang duduk) semuanya ada di ruang tidur saya ini. Dan semua itu saya lihat dalam waktu kurang dari tiga menit, hingga membuat kepala saya agak berdenyar. Apalagi begitu saya tahu bahwa tempat saya menikmati breakfast besok pagi bukanlah di resto di lantai dasar seperti biasanya, melainkan di tempat eksklusif di lantai teratas hotel dengan pemandangan lepas ke penjuru kota Jakarta. Berani taruhan leher deh, kamar saya ini pasti salah satu kamar terbaik di hotel ini…! Dan saat itulah, untuk pertama kalinya dalam sejarah jalan-jalan saya selama ini, saya lebih memilih berlama-lama di dalam kamar hotel daripada menikmati suasana di luar sana. Merasa sayang saja kalau kamar sebagus ini ditempati hanya buat tidur, mandi, dan be*l doang. Terserah deh mau dibilang ndeso atau apapun, yang jelas kejutan ini benar-benar menyenangkan bagi saya.

The best hotel experience in my life was when I stayed at this room

Pengalaman istimewa seperti ini memang – sampai saat ini – baru sekali itu saya alami. Kebanyakan hotel yang saya beri kritikan – baik melalui formulir kepuasan pelanggan yang tersedia di kamar, maupun melalui postingan saya di situs review online TripAdvisor.com – hanya memberikan respon berupa ucapan maaf dan terima kasih atas kekecewaan yang saya alami. Belum ada lagi yang memberikan hadiah kejutan seperti hotel yang saya ceritakan di atas. Tapi, pada dasarnya saya tidak pernah berharap macam-macam saat menyampaikan pujian atau keluhan. Pujian atau keluhan itu tidak saya maksudkan untuk memperoleh kompensasi, namun saya niatkan agar hotel tersebut dapat melakukan perbaikan. Toh, kalau mereka mampu melayani lebih baik, saya juga yang akan merasakan dampaknya saat saya kembali ke hotel itu lagi. Sebagian besar konsumen – terutama yang berasal dari Asia, termasuk Indonesia – menganggap melontarkan keluhan itu sama seperti melemparkan kotoran ayam ke muka si pemilik hotel atau restoran, sesuatu yang tidak pantas dan tidak sopan dilakukan. Padahal enggak begitu lho..! Keluhan yang jujur, ditulis apa adanya, tidak melebih-lebihkan, informasinya runtut, dan disampaikan sesegera mungkin malah membantu hotel atau restoran tersebut untuk bisa berbenah menjadi lebih baik lagi. Sebaliknya, orang-orang Asia; termasuk Indonesia; juga tidak terbiasa memberikan pujian kepada karyawan hotel atau restoran pada saat kebutuhan dan keinginan mereka terpuaskan. Padahal karyawan hotel atau restoran yang menerima pujian itu akan merasa bangga dan senang sehingga termotivasi untuk bekerja dengan lebih baik lagi. Bukankah kalau hotel dan restoran kesayangan kita bisa terus memperbaiki layanannya, kita juga yang merasakan enaknya..?

Bermalam di Airport Skavsta

Gamla Stan (Old Town); Stockholm

Sejak awal keberangkatan ke Eropa, saya memang sudah bertekad untuk berhemat sebisa mungkin. Bagi saya, ini agak sulit karena saya termasuk orang yang senang menikmati perjalanan dengan nyaman. Tidak masalah tinggal di backpacker hostel, tapi sebisa mungkin saya pilih menginap di private room, bukan di dorm berbagi dengan orang lain yang tidak saya kenal – meskipun tidur di dorm memang murah banget. Tidak masalah harus bepergian dengan budget airlines, tapi saya selalu mengeluarkan uang lebih untuk memilih hot seat, membeli bagasi, dan tentu saja membeli makanan di atas pesawat. Untuk makan selama berpetualang pun, saya tak pernah mau makan sembarangan dengan membeli di sembarang food hawkers. Kalau kepepet, menu paket McDonalds atau Burger Kings menjadi pilihan default saya. Itulah sebabnya saya jadi terhenyak ketika saya menyadari bahwa kemungkinan besar saya harus menginap di bandara Skavsta di Stockholm, Swedia – untuk melanjutkan perjalanan ke Paris.

Waduh, gimana ya..?

Pesawat yang akan membawa saya ke Paris berangkat pukul 07.15 pagi – dan seperti halnya budget airline lainnya, Ryan Air terkenal sebagai airline yang sangat rewel kepada pelanggan mereka yang bermasalah. Jadi, saya nggak mau datang terlambat ke airport. Nah, masalahnya adalah di Stockholm, saya menumpang di rumah seorang teman baik saya di kawasan Duvbo. Dari Duvbo, perjalanan ke airport Skavsta harus ditempuh dengan subway (kereta bawah tanah) selama 20 menit lalu disambung dengan airport shuttle bus dari pusat kota Stockholm dengan waktu tempuh 1 jam 15 menit. Dan, subway paling pagi berangkat pukul 5 pagi (datang tiap 15 menit) sedangkan shuttle bus paling pagi berangkat pukul 6. Jadi, meskipun saya berangkat dengan menggunakan kereta atau shuttle bus paling pagi, saya tetap akan terlambat datang ke airport. Naik taksi..? Bisa ratusan Euro perjalanan dari Stockholm ke Skavsta..! Edan..! Ogah banget ngeluarin duit segitu banyak hanya buat taksi. Stockholm bukanlah kota yang murah; apalagi untuk membeli kenyamanan seperti taksi. Jadi, sepertinya naik shuttle bus terakhir pukul 8 malam lalu menginap di airport adalah satu-satunya alternatif yang masuk akal supaya saya terhindar dari masalah.

Di Stockholm, ada tiga bandara yang aktif digunakan; yaitu bandara utama Arlanda, bandara khusus budget airline Skavsta dengan tujuan ke negara-negara Eropa daratan (Inggris, Prancis, Jerman, dan lain-lain), dan bandara khusus budget airline Bromma yang melayani penerbangan ke negara-negara Skandinavia dan Eropa Utara (Denmark, Norwegia, Finlandia, Islandia, dan sebagian Rusia). Perjalanan ke Skavsta memang cukup lama karena seperti halnya di Kuala Lumpur, London, atau Paris, airport untuk budget airline selalu terletak di lokasi yang cukup jauh dari pusat kota. Sesampai di Skavsta, dari pandangan pertama saja saya menyadari bahwa bandara untuk budget airline di sini jauh berbeda dibandingkan bandara LCCT di Kuala Lumpur atau bandara Stansted di London. Di dua bandara tersebut, meskipun judulnya bandara khusus untuk budget airline fasilitasnya cukup lengkap. Ada beberapa kios, outlet makanan, kafe, dan lain-lain. Di Skavsta sini, bangunannya saja seperti gudang perkakas tukang. Sama sekali tidak indah. Hanya ada dua outlet yang menawarkan makanan dan minuman. Ukuran outlet-nya pun sangat mungil. Tidak ada fasilitas atau toko lainnya yang bisa dieksplorasi sembari menunggu boarding.

Pelan-pelan mata saya mulai menjelajah bagian dalam airport tersebut. Bangunannya benar-benar sempit. Begitu masuk, langsung berhadapan dengan enam counter check-in – yang tidak luas. Di sekitarnya, terdapat beberapa counter penyewaan mobil (yang saat itu sudah tutup) serta toilet. Di bagian dalam airport, ada area kafetaria yang juga tidak luas – hanya ada satu counter makanan dan satu counter minuman. Sudah – nggak ada yang lain! Buset, dah..!

Sempat bertanya-tanya lagi pada diri sendiri, yakin nih, mau nginep di sini..? Teringat kalau tadi saya lihat ada hotel transit di seberang airport ini, terpikir juga, apa saya lebih baik menginap saja di hotel itu ya..? Saya coba mencari informasi di website hotel tersebut melalui fasilitas Internet gratisan yang ada di sudut airport – ternyata tarif menginap per kamarnya juga sekitar 100 Euro semalam. Buset..! Demi tidur yang hanya empat lima jam, saya harus buang duit 100 Euro..? Cuih..! Ogah..!

Jadi, mau tidak mau, kalau mau menginap di airport ya harus tidur di kursi kafetaria, atau berbaring di lantai di antara kursi-kursi kafetaria. Berbaring di area check-in jelas tidak mungkin, bisa-bisa diusir satpam. Nah, masalahnya (lagi), adalah saat itu belum nampak ada orang lain yang  kelihatan berniat menginap di airport tersebut. Jadi, saya juga nggak berani langsung pasang aksi menggelar tas jadi bantal dan takut pula buru-buru berangkat tidur. Ada sih, beberapa orang yang baru saja datang – dan langsung duduk di kursi kafetaria tersebut – memesan secangkir kopi lalu ngobrol. Setelah beberapa saat mengamati situasi, saya pun ikut memesan secangkir coklat hangat dan sepotong sandwich. Saya baru teringat kalau saya belum makan malam. Saya coba menikmatinya perlahan-lahan sekali, biar nggak cepat habis, siapa tahu orang-orang yang sedang menikmati kopi itu sebenarnya juga hendak menginap di airport ini – dan bukan sedang menunggu keluarga mereka yang akan datang. Nah, kalau mereka menunjukkan tanda-tanda mulai berangkat tidur, baru deh saya ikut-ikut berangkat..! Jadi kan saya ada teman sesama numpang tidur di airport. Dan, ternyata cara itu memang jitu. Setengah jam kemudian, beberapa orang lain datang di kafetaria – dan perlahan-lahan mulai menunjukkan gejala-gejala untuk “berangkat”. Mengatur kursi kafetaria, misalnya. Atau menata letak ransel dan tas lainnya. Bahkan satu dua orang sudah mulai berbaring, lalu tidur. Dan, demi melihat pemandangan itu pun, langsung saja saya bergerak cepat. Pilih posisi kursi, atur letaknya, ubah letak kopor dan tas, lalu mencoba posisi berbaring yang enak. Tak lama kemudian, saya pun sudah bersiap tinggal landas ke alam mimpi.

Sambil merasakan dinginnya lantai airport Skavsta – dan menantikan terpejamnya mata ini, saya merenung. Saya teringat pada beberapa teman di sebuah Facebook Group – yang seringkali menyatakan betapa asyiknya bila selama traveling kita tidak menginap di hostel atau hotel, melainkan menikmati malam dengan tidur di SPBU, atau di masjid, atau di menumpang di kantor polisi. Memang sih, saya bukanlah seorang backpacker – seperti teman-teman yang hobi menginap di SPBU, atau numpang di masjid, atau meringkuk di kantor polisi – tapi terus terang, saya nggak bisa deh membayangkan alasan teman-teman yang melakukan itu. Saya memang melihat bahwa sekarang ini, cukup banyak para backpackers yang juga ikut menginap di airport seperti saya. Tapi, saya yakin, itu mereka lakukan bukan karena mereka ingin, tapi karena memang situasinya yang memaksa. Selama sepuluh hari ini saya berjalan dari Amsterdam ke Brusel lanjut ke Luxemburg lalu ke Berlin dan Stockholm, semua petualang backpackers tinggal di hostel, bukan mengemper di jalan atau di kantor polisi. Ada juga sih yang tidur di stasiun kereta atau di airport, tapi ya itu tadi, karena memang dipaksa oleh situasi – yaitu jadwal kereta atau pesawat yang tidak bersahabat.

Ah, tapi bodo amat deh..!

Mau tidur di kantor polisi kek, tidur di SPBU kek, atau numpang masjid, terserah aja. Bagi saya, yang namanya tidur – apalagi dalam perjalanan seperti itu – kalau sampai nggak nyaman, malah repot. Tidur nggak berkualitas, istirahat kurang, stamina jadi lebih mudah terganggu. Bisa-bisa justru perjalanan saya yang berantakan kalau sampai sakit. Rugi banget. Ya, nggak..?

Saya dan Light Packing

Bag1

Meskipun saya senang sekali jalan-jalan, ada juga hal yang tidak saya sukai tentang jalan-jalan. Bagian yang paling menyebalkan bagi saya adalah ketika saya harus mengeluarkan sebagian isi lemari dan menatanya ke dalam koper saya itu. Yup, saya paling benci packing..! Dan bukan cuma itu saja, yang jauh lebih menyebalkan lagi bagi saya adalah duduk menghadap koper – saat badan masih terasa lelah sepulang dari jalan-jalan – dan harus membongkar kembali baju-baju dan isi koper lainnya, memilah-milahnya mana yang harus saya cuci dan mana yang masih bersih, lalu menata semuanya supaya kamar kembali rapi seperti ketika sebelum jalan-jalan. Entah mengapa, untuk melakukan kedua hal ini, saya selalu membutuhkan waktu yang cukup panjang. Misalnya, untuk sebuah perjalanan dua hari dua malam ke Jakarta saja, saya butuh waktu tiga hari untuk memutuskan barang apa saja yang akan saya bawa. Dan pulangnya, untuk membongkar tas saya butuh minimal seminggu sebelum koper benar-benar kosong. Rasanya berat sekali untuk memulai packing dan unpacking, ada saja yang membuat saya menunda-nunda melakukannya.

Selain masalah malas packing dan unpacking, hal lain yang menyebalkan adalah saya juga tak pernah bisa melakukan light packing. Bayangkan saja, untuk perjalanan ke Jakarta atau Yogyakarta selama dua hari dua malam saja, saya pasti membawa satu buah ransel berisi laptop dan buku bacaan dan satu buah koper ukuran 22 yang tidak bisa dibawa masuk ke kabin.

Isinya?

Kemeja formal paling sedikit tiga potong, dua t-shirt, selembar sarung, satu tas kecil toiletries, seperangkat pakaian dalam dan kaos kaki, sepasang sandal, dan entah apa lagi. Banyak kan? Padahal, biasanya dari isi pakaian satu koper yang saya bawa, paling-paling yang terpakai hanya separuhnya, sisanya tak sempat terpakai. Terakhir kali saya berkunjung ke Kuala Lumpur, saya membawa satu ransel berisi laptop dan beberapa buku dengan bobot hampir 10kg, satu buah suite bag berisi satu buah blazer, tas kamera, tripod, dan satu koper berisi beberapa lembar pakaian dan lain-lain yang beratnya hampir 20kg. Saya sudah berusaha mengurangi muatan saya tersebut, mengeluarkan sebagian lalu memasukkannya kembali, begitu terus berulang-ulang – sampai akhirnya saya menyerah dan merelakan diri membawa beban sebanyak itu untuk perjalanan satu minggu ke Kuala Lumpur.

Jangan tanyakan bagaimana saya membawa semua tas itu sejak keluar dari LCCT Kuala Lumpur, naik shuttle bus ke Terminal Bis KL Sentral, lalu pindah masuk Komuter dan kemudian berjalan kaki dari Stasiun Komuter ke tempat penginapan yang sudah saya booking. Mana ribet bahu dan tangan kanan kiri penuh bawaan, bawaannya pun berat karena total bobotnya hampir 30kg, tak ayal lagi keringat saya bercucuran sambil naik turun tangga stasiun kereta di tengah kondisi kota Kuala Lumpur yang cukup panas.

Kalau bepergian ke Kuala Lumpur seminggu saja bawaan saya sudah begitu heboh, bisa kan membayangkan betapa pusingnya saya ketika saya akan berangkat jalan-jalan ke Eropa selama satu bulan..? Saya berangkat dan mendarat di Belanda dengan barang bawaan di kabin mencapai 10 kg dan bagasi 30kg; terdiri dari satu tas ransel berisi laptop dan kamera DSLR, satu tas tripod, satu tas koper, dan satu tas duffle.

Mengapa kok begitu berat..?

Satu, karena saya memang tidak suka mengenakan baju yang sama berulang-ulang, sedangkan di sisi lain saya nggak terlalu suka mencuci baju di tengah perjalanan. Dua, karena saya datang ketika musim gugur sudah hampir berakhir dan musim dingin akan tiba – jadi, persediaan baju yang saya bawa pun saya tambah dua kali lipat sebagai senjata melawan dingin. Sweater saja saya bawa empat plus satu jaket wol overcoat yang tebal, syal bawa tujuh, pakaian dalam saya bawa dua puluh, dan kemeja serta kaos-kaos saya bawa total dua puluh lima potong..! Dan beban 40kg itulah yang aku bawa naik turun kereta Eurail keliling Eropa, naik turun trem dari stasiun kereta utama di Paris, Berlin, Zurich, Milan, Stockholm, Vienna, dan lain-lain ke tempat penginapan di kota-kota tersebut.

Berat..?

Nggak usah ditanya..!

Dan apakah pakaian yang saya bawa akhirnya saya kenakan semuanya..? Hehehe, nggak juga… Banyak yang menganggap saya edan melakukannya, tapi yah gimana lagi, saya memang tak bisa light packing. Akhirnya, pada hari terakhir di setiap kota yang saya kunjungi di Eropa, saya selalu mengirim pulang sebagian baju kotor saya melalui paket pos. Tapi, anehnya, berat bagasi saya tidak banyak berubah..! Dan saat saya berjalan-jalan ke London selama sepuluh hari bersama dua orang sahabat saya, mereka sangat keheranan melihat saya – dengan bawaan dua koper besar – dan setiap malam sebelum tidur, saya harus berjuang melakukan unpacking dan repacking agar baju-baju dan barang-barang belanjaan saya pada hari itu tetap bisa masuk ke dalam kedua koper besar tersebut.

Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kekaguman saya pada teman-teman backpackers. Mereka bisa saja bepergian selama dua tiga hari dengan barang bawaan yang cukup dimuat dalam satu tas ransel ukuran sedang. Entah bagaimana caranya mereka menghitung jumlah pakaian yang perlu mereka bawa, dan entah pula bagaimana caranya mereka bisa “mengelola” pakaian mereka hingga yang dibawa dalam satu tas ransel yang tidak terlalu besar ukurannya itu ternyata cukup untuk dikenakan selama jalan-jalan tujuh hari lamanya. Ada yang pakaiannya digulung kecil-kecil. Ada yang bawa pakaian hanya tiga lembar dan cuci-kering-pakai. Ada juga yang berbetah-betah mengenakan baju yang sama selama dua hari berturut-turut untuk menghemat baju.

Ketidakmampuan untuk melakukan light packing inilah yang akhirnya menyebabkan saya merasa bahwa saya nggak akan pernah bisa melakukan perjalanan backpacking. Lha gimana mau backpacking kalau pergi ke Solo Yogya dua malam saja saya bawa DUA TAS berisi setumpuk pakaian dan laptop..!! Tapi, terus terang, entah bagaimana saya menikmati lho perjalanan saya yang selalu ditemani dengan seperangkat besar tas. Karena itulah, saya jadi tidak ambil pusing lagi meskipun saya tidak pernah bisa bepergian ala backpackers. Bagi saya, yang namanya jalan-jalan itu yang penting ya saya bisa menikmati perjalanannya – apakah saya bepergian ala backpacker atau tidak itu adalah sesuatu yang (bagi saya) sama sekali nggak penting. Jadi, kalau memang saya nggak pernah bisa nyaman bepergian hanya dengan satu tas ransel besar, dan harus membawa koper besar berisi sekian banyak pakaian, ya saya nggak akan memaksakan diri untuk bepergian ala backpacker. Jangan-jangan, sepanjang perjalanan saya malah stress hanya karena kurang bawa baju ganti..!